<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>( akumassa )</title>
	<atom:link href="http://akumassa.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akumassa.org</link>
	<description>jurnal tentang aku dan orang-orang sekitar</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 11:51:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Mencari Nafkah di Tengah Suara Gemuruh</title>
		<link>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/mencari-nafkah-di-tengah-suara-gemuruh/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/mencari-nafkah-di-tengah-suara-gemuruh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 11:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ariyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Randublatung - Blora, Jawa Tengah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10193</guid>
		<description><![CDATA[Aku mendengar cerita dari temanku yang berasal dari Tangerang Selatan, Umam, bahwa pernah ada sebuah kesebelasan dari Tangerang yang bernama Tangerang Wolves. Saat ini kesebelasan tersebut sudah tidak ada. Menurut Umam, Tangerang Wolves didirikan pada masa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10194" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10194" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/antusiasme-penonton-Copy.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Suporter Persibo Bojonegoro memenuhi stadion Bojonegoro</p>
</div>
<p>Aku mendengar cerita dari temanku yang berasal dari Tangerang Selatan, Umam, bahwa pernah ada sebuah kesebelasan dari Tangerang yang bernama Tangerang Wolves. Saat ini kesebelasan tersebut sudah tidak ada. Menurut Umam, Tangerang Wolves didirikan pada masa awa Liga Premiere Indonesia (LPI). Namun di musim berikutnya, saat PSSI sudah diketuai oleh Djohar Arifin, kesebelasan ini entah kemana. Dari dulu di Tangerang sudah ada kesebelasan yang memiliki <em>supporter</em> fanatik, yaitu Persikota dan Persita. Tangerang Wolves yang tak memiliki <em>supporter</em> fanatik tidak bertahan. Bisa jadi sebuah kesebelasan sangat bergantung pada dukungan <em>supporter</em>-nya.</p>
<p><span id="more-10193"></span></p>
<p>Cerita dari Umam mengingatkanku pada sebuah pertandingan yang sempat kusaksikan lebih dari satu tahun yang lalu. Uniknya, pertandingan tersebut adalah pertandingan pertama dan satu-satunya pertandingan sepak bola yang pernah kusaksikan secara langsung di stadion. Namun tulisan ini tidak hanya akan menceritakan mengenai pertandingan itu saja. Aku mengingat bagaimana sebuah perhelatan juga diramaikan oleh para pedagang musiman.</p>
<p>Hari itu aku sedang menonton sebuah pertandingan sepak bola di Bojonegoro, kota tempat aku menuntut ilmu di kampus IKIP PGRI Bojonegoro. Dua tim yang bertanding adalah Kesebelasan Persibo, Bojonengoro, melawan Kesebelasan Tangerang Wolves dalam pertandingan lanjutan LPI. Hari itu pertandingan berjalan dengan tertib dan lancar, meskipun cuaca kurang mendukung—Kota Bojonegoro sedang mendung dan sempat diguyur hujan meskipun tidak deras pada saat berjalannya pertandingan. Pertandingan dimulai, para <em>supporter</em> bersiap-siap untuk memberi semangat dengan gerakan-gerakan seragam yang mengikuti panduan seorang dirigen. Di  tengah lapangan para pemain telah sibuk berjuang dalam pertandingan yang sangat sengit. Para Boromania (julukan bagi <em>supporter</em> fanatik Persibo Bojonegoro) meneriakkan sorakan-sorakan atau yel-yel penyemangat buat tim kebanggaanya itu.</p>
<div id="attachment_10195" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10195" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/dirigen-penonton-Copy.jpg" alt="" width="565" height="753" />
<p class="wp-caption-text">Seorang dirigen memandu para suporter untuk mendukung tim Persibo Bojonegoro</p>
</div>
<p>Saat itu sedang demam-demamnya sepak bola bagi rakyat Indonesia. Sebab di Indonesia pada akhir tahun itu, tepatnya bulan Desember 2010, sedang mengikuti sebuah perhelatan terbesar di Asia Tengara yakni AFF, yang merupakan ujung tombak dari sebuah perubahan di dunia olah raga khususnya sepak bola. Meningkatnya para penggila bola di Indonesia tak hanya di kota-kota besar saja, tetapi juga dari sebuah kota kecil sampai tingkat kecamatan pun telah berbondong-bondong membuat sebuah turnamen. Siapa tahu dari sebuah kota kecil bisa berkembang bibit-bibit pemain baru yang mempunyai <em>skill</em> lebih bagus dari yang sudah ada.</p>
<p>Setelah babak pertama selesai, aku melihat banyak <em>supporter</em> kesebelasan mencari makanan ringan atau minuman, sebab mereka kelelahan akibat bersorak ria mendukung timnya. Di sini para pedagang asongan siap-siap untuk diserbu para penonton yang ingin membeli makanan atau minumannya. Namun, di sela-sela menjual makanan atau minuman, para pedagang asongan itu biasanya suka tertipu karena seringkali ada oknum penonton yang mengambil makanannya tanpa membayar. Hal itu yang tidak disukai para pedagang. Sudah susah payah berjualan tapi tidak pada membayar. Namun tidak semuanya begitu. Hanya beberapa orang saja yang tidak membayar. Pengalaman ini sempat diceritakan oleh seorang pedagang lumpia kepadaku.</p>
<p>Ketika babak ke dua dimulai, pedagang yang sebelumya diam di tempat menunggu pembeli datang sendiri, mulai gantian berjalan mengelilingi <em>supporter</em>. Sebab kalau tidak begini dagangannya tidak laku. Para asongan akan mencari orang-orang yang mungkin lapar atau haus. Selain itu, selama pertandingan berlangsung, para <em>supporter</em> fokus ke jalannya pertandingan. Jadinya mau <em>nggak</em> mau para asongan itu hadir di tengah-tengah penonton yang sedang asik menonton sepak bola.</p>
<p>Berada di dalam Stadion Sudirman Bojonegoro, aku berusaha mendekati seorang ibu yang usianya sekitar 45 tahun, Ibu Ida namanya. Ia sedang melayani para penonton yang membeli lumpia. Ada juga para tukang asongan lainnya yang ikut menjajakan makanan atau air minumnya di dalam Stadion Sudirman itu, dengan alat yang mudah untuk dibawa kemana-mana. Para asongan itu bebas mengelilingi para penonton yang berada di dalam stadion. Sambil makan lumpia, aku juga sempat bertanya-tanya pada Ibu Ida. Katanya, satu <em>pincuk</em> yang berisi tiga lumpia harganya Rp 2.000. Ya, ketika sedang ada pertandingan seperti ini Ibu Ida bisa meraup untung 40% lebih besar dibanding hari biasanya ketika berjualan di pasar-pasar Bojonegoro. Saat ada pertandingan sepak bola seperti ini, Ibu Ida pun tidak menyia-nyiakan waktu yang lumayan terbatas, karena hanya dua kali 45 menit, di tambah waktu istirahat yang tidak begitu lama bagi para pemain sepak bola yang sedang melakukan pertandingan.</p>
<div id="attachment_10196" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10196" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/ibu-ida-si-penjual-Lunpia.jpg" alt="" width="565" height="753" />
<p class="wp-caption-text">Ibu Ida penjual lumpia di Stadion Bojonegoro</p>
</div>
<p>Ibu Ida tetap semangat menjajakan lumpianya seperti semangat penonton sepak bola. Ia ikut serta meramaikan pertandingan dengan cara berjualan di dalam stadion. Tujuannya bukan untuk memberi semangat melainkan berharap lumpianya laku dan diborong oleh para <em>supporter</em>.</p>
<div id="attachment_10197" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10197" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/ibu-ida.jpg" alt="" width="565" height="753" />
<p class="wp-caption-text">Ibu Ida melayani para suporter sepak bola yang lapar</p>
</div>
<p>Selang beberapa menit kemudian, setelah babak ke dua dimulai, tim Persibo melakukan tendangan yang membuat gawang tim tamu Tangerang Wolves kebobolan satu gol. Seketika para <em>supporter</em> berteriak kencang dan suasana lapangan menjadi gaduh oleh penonton berkostum oranye. Dengan kebobolannya tim lawan maka <em>supporter</em> tambah semangat menyanyikan lagu-lagu atau yel-yel yang sudah disiapkan <em>supporter</em> Persibo yang terkenal dengan sebutan Boromania. Mereka semua bersorak ria karena merayakan tim kebangaannya menang di kandang sendiri. Gol yang dicetak di babak ke dua dengan hasil 1-0 menjadi satu-satunya gol sampai menit terakhir. Pertandingan Persibo melawan Tangerang Wolves selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/mencari-nafkah-di-tengah-suara-gemuruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video akumassa Blora: Hari-Hari Sapi</title>
		<link>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/video-akumassa-blora-hari-hari-sapi/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/video-akumassa-blora-hari-hari-sapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 13:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akumassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Randublatung - Blora, Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[blora]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[sapi]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10185</guid>
		<description><![CDATA[Menjaga dan merawatmu seperti anak sendiri, terkadang aku juga memecut kalian. Itu semua aku lakukan karena sayang padamu. budaya kesapian sudah ada sejak zaman Al-Quran terdapat surat Al-Baqarah yang artinya sapi betina. Sapi selain mempunyai kesakralan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><iframe src="http://player.vimeo.com/video/40859992" frameborder="0" width="565" height="452"></iframe></p>
<p>Menjaga dan merawatmu seperti anak sendiri, terkadang aku juga memecut kalian. Itu semua aku lakukan karena sayang padamu. budaya kesapian sudah ada sejak zaman Al-Quran terdapat surat Al-Baqarah yang artinya sapi betina. Sapi selain mempunyai kesakralan, oleh sebagian masyarakat Indonesia yang tradisional dijadikan sebagai lambang status sosial dan juga digunakan sebagai tabungan. Membingkai dan menyusunnya kedalam medium ini untuk dijadikan sebuah cerita yang senantiasa terekam dan tak pernah mati.</p>
<p><span id="more-10185"></span></p>
<p>Video ini merupakan salah satu dari delapan karya yang dihasilkan dalam program <em>akumassa</em> Randublatung-Blora yang berjalan pada November 2009. Program <em>akumassa</em> Randublatung-Blora merupakan lokasi kelima. Pada program ini Forum Lenteng bekerjasama dengan Komunitas Anak Seribu Pulau.</p>
<p>Video ini diproduksi dengan menggunakan kamera video jenis <em>memory camcorder</em> JVC Everio GZ-MS100BAG. Direalisasikan oleh Exi Wijaya Mahardana, Iwan Setiawan, Andre Winarta Atmaja, Abu Ali Setiawan, Septian Tri Yoga, Anib Basatada Wicaksono Jumaun, Bimo Hidin, Dodik Apriyanto, Cacuk Kuswara dan Ari Priyanto.</p>
<p>Video ini telah diputar di: 2010, 9th Festival Film Dokumenter (Special Presentation), Taman Budaya &#8211; Yogyakarta; The Loss of The Real (Exhibition, curated by Agung Hujatnikajennong), Selasar Sunaryo Art Space, Bandung; Decompression #10, Expanding Space and Public, ruangrupa, Galeri Nasional Indonesia &#8211; Jakarta; The Decade of Reformation: Indonesian Film/Video (Special Presentation), Artsonje Arthall, Korea Selatan. 2011, 24 Edition Images Festival (Special Presentation), Toronto Free Gallery, Kanada; Selametan Digital, Langgeng Art Foundation, Yogyakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/randublatung-blora-jawa-tengah/video-akumassa-blora-hari-hari-sapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peluncuran Filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air, Toleransi dan Keharmonisan</title>
		<link>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/peluncuran-filem-naga-yang-berjalan-di-atas-air-toleransi-dan-keharmonisan/</link>
		<comments>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/peluncuran-filem-naga-yang-berjalan-di-atas-air-toleransi-dan-keharmonisan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 16:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[DKI Jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10172</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang begitu antusias untuk hadir di acara peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air. 130 kursi  yang ada di dalam studio 2 bioskop XXI, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, habis tak tersisa. Buat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10173" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10173" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Pemuncuran-filem-dokumenter-Naga-Yang-Berjalan-Di-Atas-Air.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Peluncuran filem dokumenter Naga Yang Berjalan Di Atas Air</p>
</div>
<p>Orang-orang begitu antusias untuk hadir di acara peluncuran filem dokumenter <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>. 130 kursi  yang ada di dalam studio 2 bioskop XXI, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, habis tak tersisa. Buat mereka yang tidak kebagian, tetap rela duduk di tangga-tangga studio. Termasuk aku, yang menyaksikan filem berdurasi 115 menit ini dari awal hingga akhir.</p>
<p><span id="more-10172"></span></p>
<div id="attachment_10180" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10180" title="(6)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Para-pengunjung-mengisi-buku-tamu-sebelum-masuk-ke-dalam-studio.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Para pengunjung mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam studio</p>
</div>
<div id="attachment_10174" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10174" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Kursi-bioskop-penuh-dengan-penonton-beberapa-berdiri.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Kursi bioskop penuh, beberapa penonton berdiri</p>
</div>
<p>Semua khidmat menyaksikan informasi yang tersaji dari filem <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>. Namun, sesekali mereka tertawa karena aksi atau ucapan jenaka yang terlontar dari pribadi Kang Sui Liong, tokoh utama dalam filem dokumenter tersebut. Misalnya dalam sebuah tayangan, Kang Sui Liong bercerita tentang kisah masa mudanya. Dengan percaya diri ia mengatakan, “Dulu saya suka <em>ngibing</em> (joget) <em>kalo</em> ada Cokek<em>.”</em></p>
<p>Kang Sui Liong merupakan peranakan <em>Cina Benteng</em> yang secara turun temurun tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan untuk mengasuh sebuah klenteng bernama Bio Kanti Sara. Sejatinya, asimilasi kebudayaan antara Tionghoa, Betawi dan Sunda memang sudah bercampur baur dalam perilakunya. Jadi benar saja jika ia bercerita sedikit tentang kegemarannya yang suka ngibing dalam pagelaran Cokek pada saat itu.</p>
<p>Filem yang diproduksi Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda ini memang ingin menghadirkan informasi untuk menjembatani kesepahaman bersama terkait perpaduan budaya dengan mengambil sampel kehidupan sebuah klenteng di Tangerang Selatan. Sejatinya, perpaduan berbagai macam budaya itulah yang telah menghidupi klenteng tersebut bersama masyarakatnya yang telah lebur bersamaan dengan berjalannya waktu.</p>
<p>Kemudian dalam salah satu <em>scene</em>, filem itu menghadirkan sepenggal informasi tentang hiruk pikuk masa runtuhnya Orde Baru (Orba). Misalkan, ungkapan  seorang jemaat bernama David, pengusaha yang biasa beribadat di klenteng Bio Kanti Sara. Ia bercerita, pada masa itu banyak etnis Tionghoa yang menjadi korban amukan massa tanpa alasan yang jelas, termasuk dirinya. Ia mengaku pernah memiliki toko beras yang dibakar oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Menariknya, para pelaku pembakaran adalah orang-orang yang tidak dikenal. “Pelakunya bukan masyarakat sekitar, saya berhubungan baik dengan mereka.Tapi sudahlah, <em>emang</em> bukan rejeki.”</p>
<p>Aku jadi teringat pengalamanku di tahun 1998. Di masa yang sedang carut-marut itu, aku dan ayahku pernah melalui sebuah jalur di daerah Semanggi, Jakarta Selatan. Entah kenapa, tiba-tiba belasan pemuda dengan berbaju bebas menghentikan laju mobil yang kami kendarai. Mereka memaksa kita turun, karena mobil akan dibakar. Sontak, ayahku dengan wajah melas, memohon agar kami dibiarkan terus melaju dengan alasan ada seorang anak kecil. Waktu itu umurku sekitar, delapan tahun. Kemudian mereka diam sejenak. Tanpa basa-basi, ayahku langsung tancap gas, tanpa menunggu keputusan dari mereka. Waktu itu aku belum mengerti apa yang sedang terjadi, hingga akhirnya aku tersadar tentang perawakan kami seperti orang Tionghoa. Padahal, kami berasal dari Lampung yang memiliki raut wajah seperti orang Cina, sama halnya dengan orang-orang dari Palembang.</p>
<p>Selanjutnya, filem yang disutradarai Otty Widasari berkolaborasi dengan Komunitas Djuanda ini juga menghadirkan informasi tentang kehidupan lintas agama yang dijalani Kang Sui Liong dan masyarakatnya. Pada gambar-gambar itu aku bisa melihat,  kehidupan beragama terjalin dengan harmonis di lingkungan Babakan Pocis, Pamulang, Tangerang Selatan. Seperti tayangan silaturahmi Kang Sui Liong ke rumah tetangga yang beragama Kristen dan Islam. Jelas terlihat, hubungan di antara mereka terjalin begitu intim tanpa mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Bahkan Kang Sui Liong dinilai termasuk salah satu aktifis agama oleh tetangganya yang Kristen.</p>
<p>Namun, permasalahan yang kini dihadapi Kang Sui Liong adalah siapa yang akan jadi penerusnya. Berhubung umurnya yang sudah tidak muda lagi, tentu ia berharap salah satu anaknya dapat meneruskan pengabdian nenek moyangnya kepada Klenteng Bio Kanti Sara dan meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhur.</p>
<p>Penilaiannya tertuju pada Ari, anak laki-lakinya dari istri ketiga yang masih sekolah jenjang SMP. Tapi sepertinya ia tidak mau terlalu memaksa kehendaknya itu. Ia masih membebaskan anaknya  untuk memilih kepercayaan. Ia tidak mau memaksa Ari untuk menganut Budha seperti yang diyakininya atau menganut Islam seperti yang diyakini ibunya. Namun besar harapan, Ari akan meneruskan pengabdian itu. Karena, Kang Sui Liong melihat banyak tanda dari Ari yang mengarah ke untuk mengabdi pada klenteng.</p>
<div id="attachment_10175" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10175" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Keluarga-Kang-Sui-Liong-hadir-di-tengah-tengah-penonton.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Keluarga Kang Sui Liong hadir di tengah-tengah penonton</p>
</div>
<p>Secara keseluruhan, aku mendapat begitu banyak informasi tentang kearifan hidup dari seorang Kang Sui Liong dalam filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air. Menurutku, Ia bukan hanya seorang pengabdi yang melayani umat di klenteng Bio Kanti Sara, tapi juga bisa menjadi guru yang baik untuk memahami kehidupan yang toleran dalam berkeluarga dan bermasyarakat.</p>
<div id="attachment_10176" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10176" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Kang-Sui-Liong-menyapa-para-penonton.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Kang Sui Liong menyapa para penonton</p>
</div>
<div id="attachment_10182" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10182" title="(7)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Keluarga-Kang-Sui-Liong-berpose-bersama-beberapa-penonton.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Keluarga Kang Sui Liong berpose bersama beberapa penonton</p>
</div>
<p>115 menit telah habis, lampu studio dihidupkan. Panitia berdiri dan terus mengucapkan rasa terima kasih atas kehadiran penonton pada pagi hari itu. Tampak ketua Forum Lenteng, Hafiz memperkenalkan keluarga Kang Sui Liong. Para penontonpun memberi tepuk tangan yang meriah, hal ini dilakukan untuk memberi apresiasi kepada para pembuat filem dokumenter. Selanjutnya, satu per satu penonton meninggalkan studio, termasuk aku. Kali ini, aku pulang membawa pengetahuan baru, tentang perpaduan berbudaya dan beragama yang menjadi harmoni.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/peluncuran-filem-naga-yang-berjalan-di-atas-air-toleransi-dan-keharmonisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galunggung yang Kosong</title>
		<link>http://akumassa.org/kontribusi/tasikmalaya-jawa-barat/galunggung-yang-kosong/</link>
		<comments>http://akumassa.org/kontribusi/tasikmalaya-jawa-barat/galunggung-yang-kosong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 11:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irvan Mulyadie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tasikmalaya, Jawa Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10159</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu kemarin (26/02), tidak tahu kenapa, pikiranku tertuju terus ke Gunung Galunggung. Padahal awal tahun 2012, aku bersama keluarga ke sana, untuk makan bersama. Sepertinya aku terpengaruh berita yang disebarkan televisi yang mengatakan bahwa Gunung ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10160" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10160" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/senja-di-balik-gunung-galun.jpg" alt="" width="565" height="379" />
<p class="wp-caption-text">Senja di balik Gunung Galunggung</p>
</div>
<p>Hari Minggu kemarin (26/02), tidak tahu kenapa, pikiranku tertuju terus ke Gunung Galunggung. Padahal awal tahun 2012, aku bersama keluarga ke sana, untuk makan bersama. Sepertinya aku terpengaruh berita yang disebarkan televisi yang mengatakan bahwa Gunung Galunggung akan meletus. Tentu saja aku jadi penasaran, ingin membuktikan sendiri tentang gosip itu.</p>
<p><span id="more-10159"></span></p>
<p>Ketika cuaca tidak terlalu panas, aku memutuskan untuk pergi ke Gunung Galunggung. Motor sudah siap dan kokoh, karena dua hari yang lalu baru diperbaiki. Berangkat sendiri, memang niatnya ingin berteduh dan mungkin saja mendapat inspirasi. Tidak merasakan takut, karena tidak hanya satu atau dua kali aku ke sana. Sering, sudah merasa diterima.</p>
<p>Ke Galunggung seperti tidak ada bosannya. Merasa bangga. Apalagi saat remaja, ketika menjadi anggota pecinta alam, Galunggung menjadi tempat paling disukai. Dari dekat, keindahannya mengalahkan gunung-gunung lainnya yang ada di Indonesia. Terkenal di mana-mana. Lagi pula, di situlah orang Sunda memulai sejarahnya.</p>
<p>Ayo, kita meninjau kembali ke belakang. Menurut ahli sejarah, dulu Galunggung adalah pusat kerajaan. Hal ini didasari dengan penemuan Prasasti Geger Hanjuang yang ada di kaki pegunungan Gunung Galunggung, tepatnya di Desa Linggawangi Kecamatan Leuwisari. Masyarakat biasa menyebutnya Kabuyutan Linggawangi.</p>
<p>Prasasti Geger Hanjuang ditulis dengan bahasa Sunda kuno, yang bunyinya; <em>Tra ba I gunna apuy nasta gomati sakakala rumatak disusu(k) ku batari hyang pun</em>. Yang artinya; Di hari ke 13 bulan Badra tahun 1033 Saka Rumatak (selesai) disusuk ‘digali’ oleh Batara Hyang.</p>
<p>Rumatak yang biasa disebut Rumantak itu merupakan bekas pusat kerajaan Galunggung, tidak jauh dari tempat ditemukannya prasasti. Arti dari ‘disusuk’ adalah dikelilingi oleh parit untuk menahan serangan dari pihak lawan. Oleh karena itu, Batari Hyang bisa disimpulkan sebagai raja yang berkuasa di Kerajaan Galunggung turunan dari Resiguru Sempakwaja, yang mendirikan Kerajaan Galunggung. Ajaran Batari Hyang yang disebut Sang Sadu Jati itu ternyata ajaran mengenai pegangan raja-raja dan rakyatnya di kehidupan alam dunia. Yang mengherankan, pencipta ajaran itu adalah perempuan. Ini membuktikan kalau orang Sunda itu menghargai pemikiran, meskipun itu datangnya dari seorang perempuan.</p>
<p>Di akhir jaman, pamor Galunggung lebih terkenal lagi karena meletus tanggal 5 April 1982 sampai 8 Januari 1983. Meskipun begitu besarnya, tapi tidak ada korban jiwa akibat meletusnya gunung. Beberapa ada yang tewas, itupun karena penyakit dan kecelakaan akibat tingkah laku sendiri. Mungkin kebingungan. <em>Nah</em>, karena meletusnya Galunggung juga banyak jalur penerbangan udara internasional terganggu. Abu vulkaniknya masuk ke dalam mesin jet.</p>
<p>Sesudah berhenti dari aktivitasnya, Galunggung menjadi tujuan orang-orang yang datang untuk rekreasi atau kemping. Bukan hanya ingin melihat kawah bekas kejadian erupsi, tapi ada juga pemandian air panas. Setiap tahun, beribu-ribu orang datang ke Galunggung. Apalagi di hari Lebaran dan tahun baru, sudah dipastikan jalan menuju ke Galunggung macet total.</p>
<p>Sayang sekali, sekarang ini keindahan Gunung Galunggung tidak seperti pada kenyataannya. Di hampir wilayahnya, gunung-gunung kecil diratakan oleh buldoser. Sawah-sawah berbaris tidak karuan. Jalanan rusak karena dilewati truk-truk pengangkut pasir dengan beratnya melebihi kapasitas yang sudah ditentukan. Meskipun begitu, hal ini tidak membuat semua masyarakat sejahtera. Cuma satu atau dua orang saja yang mendapat untung. Itu pun kebanyakan orang kota. Masyarakat Galunggung hanya mendapatkan asap setiap harinya, ke kotoran kolam-kolam dan kali keruh seperti air bajigur. Kalau hujan, jalan-jalan itu cocok untuk memelihara ikan betok. Ya begitulah, saking tidak bisa menggambarkan tentang kerusakan yang ada.</p>
<div id="attachment_10164" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10164" title="(5)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/edit-1.jpg" alt="" width="565" height="379" />
<p class="wp-caption-text">Kondisi jalan menuju Gunung Galunggung</p>
</div>
<p>Tiba di gerbang objek wisata Gunung Galunggung pada pukul sepuluh. Dari kejauhan, aku sudah merasakan ada yang tidak beres. Sepi, penunggu karcis hanya dua orang. Dari pihak Perhutani dan Pemda. Selebihnya ada tukang-tukang ojek yang nongkrong. Melihat ada orang yang datang, mereka sumringah. Sigap menawarkan karcis masuk. Aku menanyakan tentang kabar Galunggung yang berstatus waspada di beberapa media massa, mereka hanya menarik nafas. Meskipun ada rasa cemas, aku memaksakan untuk ke kawah.</p>
<p>Perjalanan terasa menakutkan. Sepertinya aku masih terpengaruh dengan gosip dari media yang memberitakan kalau Galunggung akan meletus. Sampai di tangga menuju bibir kawah, aku istirahat di warung. Bertubi-tubi pertanyaan aku lemparkan. Penjaga warung nampak kebingungan. Tapi kalau dikasih umpan, bicara juga. Jawaban mereka sama seperti jawaban penjaga tiket. Miris dengan keadaan, biasanya hari Minggu pengunjung bisa mencapai ratusan, tapi sudah dua minggu ini hampir 99% wisatawan seperti mengambek. Apalagi di Cipanas. Kalau misalnya ada yang ke kawah, itu pun saking penasarannya.</p>
<p>620 anak tangga sudah aku naiki. Engsel lutut serasa mau pada copot. Sampai di bibir kawah, perasaanku semakin tidak jelas. Aku mengeluarkan kamera dan foto-foto. Sepi. Hanya ada tiga warung yang buka, menatapku seakan kesal. Aku semakin merasa aneh. Tiba-tiba ada orang berkata, “<em>Eh</em>, kalau mau bunuh rakyat kecil <em>sih gak usah</em> diracun terus. Diberitakan gunung mau meletus juga, masyarakat Galunggung pasti pada mati !!!”</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-10161" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/DSC_0694.jpg" alt="" width="565" height="843" /></p>
<p>Aku kaget. Merasa tersindir. Sepertinya mereka mengira aku adalah wartawan. Arif dengan keadaan, aku pun mendatanginya. Sambil memperkenalkan diri bahwa aku bukanlah wartawan. Tapi aku hanya orang yang penasaran. Mendengar itu, mereka melunak. Menurut mereka, karena diberitakan terus, sudah dua minggu (sekarang minggu ketiga) kehidupan keluarga menjadi seperti kehilangan jalan untuk mencari isi perut. Lebih dari seratus warga Galunggung yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan dan menjadi tukang ojek di sana.</p>
<div id="attachment_10162" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10162" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Warung-di-Pencut-Kawah-Galu.jpg" alt="" width="565" height="379" />
<p class="wp-caption-text">Warung di sekitar kawah Gunung Galunggung</p>
</div>
<p>Aku heran. Kata mereka, status waspada bukan lagi arti gunung akan meletus, tapi harus hati-hati dan tertib. Seperti sedang berkendara atau jalan kaki, kalau tidak hati-hati akan celaka. Begitu juga menurut penjelasan ahli Geologi, waspada itu status yang paling mudah setelah ada aktivitas dari normal. Ada lagi yang lebih atas dari itu, yaitu status siaga dan awas. Status siaga dan awas pun ada beberapa tingkatan. Seumpamanya benar, kalau namanya bencana tidak bisa ditentukan dan diprediksi kapan kejadiannya.</p>
<p>Benar, air danau kawah Galunggung berubah warna yang tadinya jernih berkilau menjadi kuning seperti genangan air. Aku turun ke bawah untuk memastikan, ingin memotret, namun tidak jadi, karena sudah mendapat keterangan langsung dari ahlinya, sebetulnya Galunggung masih aman kalau kita mau mengunjunginya.</p>
<div id="attachment_10163" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10163" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Kawah-Galunggung.jpg" alt="" width="565" height="379" />
<p class="wp-caption-text">Kawah Galunggung</p>
</div>
<p>Di dalam kawah yang begitu luas, menyendiri, jauh ke sana ke mari, aku bisa merasakan keadaan hati yang tenang tidak terkira. Beribu sajak terpapar di hadapan, ada yang berupa kehidupan, lahar kenyataan, dan berjuta dzikir dari ujung rumput merenung, berupa embun sepanjang masa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Tulisan dan foto pernah dimuat di http://irvanmulyadie.blogspot.com dalam Bahasa Sunda.</em></p>
<p><em>Penerjemah: Dian Komala</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/kontribusi/tasikmalaya-jawa-barat/galunggung-yang-kosong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan di Sekretariat Baru</title>
		<link>http://akumassa.org/program/pemenang-lombok-utara-ntb/catatan-di-sekretariat-baru/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/pemenang-lombok-utara-ntb/catatan-di-sekretariat-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 12:18:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eman Supandi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemenang - Lombok Utara, NTB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10147</guid>
		<description><![CDATA[Benah Gaweq, Benah Tempur, Peteng Gaweq, Peteng Tempur. (Baik yang kita kerjakan, Baik yang kita dapatkan, Buruk yang kita kerjakan, Buruk pula yang kita dapatkan). Tidak mudah untuk mempertahankan sebuah komunitas. Itulah ungkapan yang menghiasi alam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10148" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10148" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Ramah-tamah.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Komunitas Pasir Putih beramah-tamah dengan warga Lombok dalam acara syukuran sekretariat baru</p>
</div>
<p><em>Benah Gaweq, Benah Tempur,</em></p>
<p><em>Peteng Gaweq, Peteng Tempur.</em></p>
<p>(Baik yang kita kerjakan, Baik yang kita dapatkan,</p>
<p>Buruk yang kita kerjakan, Buruk pula yang kita dapatkan).</p>
<p><span id="more-10147"></span></p>
<p>Tidak mudah untuk mempertahankan sebuah komunitas. Itulah ungkapan yang menghiasi alam pikiran kawan-kawan Komunitas Pasir Putih. Selama dua tahun berproses, banyak masalah yang kerapkali muncul silih berganti. Tidak hanya problem internal komunitas, tapi juga faktor-faktor eksternal lainnya.  Aku memang tergolong baru di komunitas ini, sudah satu tahun bergabung dan melakukan proses bersama komunitas pasir putih, membuat aku secara khusus belajar untuk dewasa menyikapi masalah dan juga tentang perkembangan komunitas kedepan. Dengan demikian, kami membutuhkan rasa kebersamaan dan kesabaran yang tetap harus kami jaga, sehingga nantinya akan menjadi buah manis sebuah pergerakan.</p>
<p>Mungkin inilah perjalanan Komunitas Pasir Putih seperti kata bijak diatas, “<em>Benah Gaweq, Benah Tempur”</em> (Baik yang kita kerjakan, Baik yang kita dapatkan). Setelah pameran yang kami adakan, kisah-kisah menarikpun kami alami. Waktu itu Pak Sekretariat Daerah (Sekda) Drs. Suardi, MH mengirim sms ke nomor selular Gozali, meminta kami untuk datang ke kantornya mengambil kunci untuk gedung sekretariat baru. Memang, gedung yang akan kami pakai masih di bawah pengelolaan Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Informatika (Dishubfarkominfo) Kabupaten Lombok Utara.</p>
<p>Keesokan harinya (Selasa, 13 Maret 2012) jam 8.30 WITA, aku sudah sampai di sekretariat yang berada di rumah Gozali. Sampai di sekretariat, ternyata kawan-kawan masih tidur. Padahal kita sudah janji, tapi mereka masih saja tidur nyenyak <em>ninjol tanpeq Kanca ngapel guling</em> (masih dengan selimutnya dan memeluk dengan erat guling). <em>“Gozali…, teka kek ta lampak, wah jam siwak nyani. Bareh dek ta nempur Pak Sekda leq kanto,”</em> (Gozali…, ayo kita jalan. Ini sudah jam setengah Sembilan. Nanti bisa-bisa kita tidak ketemu sama Pak Sekda di kantornya) teriakku membangunkan Gozali dan Orik. Dengan mata yang masih lima <em>watt</em>, Gozali menyahut, “<em>Aok op juluq, sms dik Hadi kanca Ros nu juluq. Barok ta lampak bareng</em>.” (Ya nanti dulu, kamu sms Hadi sama Ros dulu. Baru kita jalan sama-sama). Dengan cepat aku menghubungi Hadi dan Rosmayadi. Tepat jam sembilan, kami pun akhirnya berangkat berempat; aku, Gozali, Rosmayadi dan Orik ke Tanjung, untuk menghadap Pak Sekda KLU (Kabupaten Lombok Utara).</p>
<p>Di depan kantor kami bertemu dengan Satpol PP dan bertanya, “Ada keperluan apa, Pak? Ada yang bisa kami bantu?”. “<em>Niki, kami mele menempur kanca Pak Sekda. Kami wah janjian niki</em>,” (Begini, kami ingin bertemu dengan Pak Sekda. Kami sudah janjian) jawabku. “<em>Oh enggih, anti semendak sengaq Pak Sekda masih araq acara pembekalan Pra Jabatan PNS</em>,” (Oh ya, tunggu sebentar karena Pak Sekda masih ada acara pembekalan Pra Jabatan PNS) jawabnya sambil mempersilakan kami menunggu.</p>
<p>“Kita masuk <em>aja,</em> ayo, kayaknya pembekalan sudah selesai,” tutur Rosmayadi menoleh ke dalam ruang kantor. Kamipun masuk, nampak para PNS yang menerima pembekalan sedang asyik mengobrol. Gozali langsung menghadap ke sekretaris Pak Sekda dan ternyata Pak Sekda masih di ruangan rapat dan meminta kami menunggu sebentar. Tidak lama kemudian, Pak Sekda keluar dari ruangan Pak Bupati dan segera kuhampiri beliau, “Pak!” Sapaku. “Oya, dari Pasir Putih, ya? Ayo masuk!” Sahut beliau, dan kami langsung mengikuti beliau dari belakang. Tanpa basa-basi, beliau menyodorkan kunci kepadaku, “Ini kunci sekretariat kalian yang baru, tolong kalian rawat baik-baik. Saya tidak bisa lama-lama karena ada rapat mendesak, maaf sebelumnya karena tidak bisa ngobrol.” “<em>Enggih, Miq</em>,” jawabku singkat dan langsung pamitan.</p>
<p>(Sabtu, 24 Maret 2012) Selama 2 minggu berada di sekretariat baru, teman-teman sibuk dengan berbagai hal. Kami berbagi tugas, ada yang menata taman, menata ruangan, menata lukisan dan kriya, menata data dan banyak lagi kegiatan yang lain. Kemudian rangkaian acara selamatan kami mulai dengan Program Menggambar Bersama di halaman sekretariat. Program tersebut dimulai sekitar pukul 04.30 WITA yang bertema alam. Pesertanya dari anak-anak Teater Bambu, anggota Komunitas Pasir Putih, dan dari kalangan umum. Bahkan ada seorang teman dari Jatiwangi, Jawa Barat yang kebetulan berkunjung ke Komunitas Pasir Putih juga ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Sebelumnya Sibawaihi membuka acara dengan sedikit kata-kata sambutan yang kemudian dilanjutkan oleh Hujjatul Islam memberikan arahan tentang tema yang akan dilukis.</p>
<div id="attachment_10149" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10149" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Sekretriat-Baru-Komunitas-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Kerja bakti untuk memperindah sekretariat baru Komunitas Pasir Putih</p>
</div>
<p>Tak lama setelah arahan, satu persatu para peserta mengambil kertas yang telah disediakan dan tempat menuangkan goresan pensil. Para peserta kelihatannya sangat serius menggarap lukisannya. Sekitar pukul 18.12 WITA, para peserta mengumpulkan hasil lukisannya yang beraneka ragam jenis, tetapi masih berputar tentang alam. Karena hari sudah beranjak mulai gelap, Hujjatul menutup acara dengan sedikit memberikan arahan agar para peserta tetap mengikuti Program Menggambar Bersama, salah satu program Komuntas Pasir Putih yang akan dijalankan setiap Sabtu sore.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_10150" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10150" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Menggambar-Bersama-Komunitas-Pasir-Putih-sebagai-rangkaian-acara-selametan-sekretariat-baru.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Menggambar bersama Komunitas Pasir Putih sebagai rangkaian acara selametan sekretariat baru</p>
</div>
<p>Setelah Sholat Isya’, sekitar jam  20.00 WITA acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi, <em>performance art</em> dan pemutaran film. Pembacaan puisi sendiri oleh Gozali dan Hamdani. Sedangkan <em>music performance </em>oleh Rizal dari Jatiwangi, Jawa Barat. Sebagai penutup acara adalah pemutaran film yang berjudul <em>Samson Betawi</em> yang diproduksi tahun 1975. Film ini diproduksi memang sudah cukup lama, kalau tidak salah saya pernah menonton ketika masih sekolah dasar. Film ini mengingatkanku saat masih kecil sering menonton di Misbar (gedung bioskop yang pernah ada di Pemenang). Namun, kini sudah tidak ada lagi dan tinggal kenangan. Sesekali terdengar tawa penonton melihat Samson (diperankan oleh Benyamin S.) yang begitu <em>gokil</em> dan cukup kuat, “Masak baru lahir badannya kayak bayi yang berumur 4 bulan,” itu kutipan dialog yang membuat penonton tertawa.</p>
<div id="attachment_10151" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10151" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Pemutarn-Film-Samson-Betawi.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Pemutarn film Samson Betawi</p>
</div>
<p>(Minggu, 25 Maret 2012) Bagi kami, hari ini merupakan hari yang bersejarah. Hari ini merupakan hari selamatan sekretariat baru Komunitas Pasir Putih. Acara dimulai jam sembilan pagi yang dihadiri oleh Pak Sekda KLU, Camat Pemenang, TGH. Amir Mahmud, Dewan Kesenian NTB, Para Pegeliat Seni NTB, beberapa pemuka masyarakat Pemenang dan dari kalangan pelajar. Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Hamdani dan Nia Sopina Okistasari. Selanjutnya prakata oleh Ketua Komunitas Pasir Putih (Muhammad Gozali), kemudian sambutan oleh Ketua Dewan Kesenian NTB (Kongso Sukoco) dan sambutan Pemda KLU (Drs. H. Suardi, MH), diakhiri dengan dzikir dan do’a oleh TGH. Amir Mahmud.</p>
<div id="attachment_10152" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10152" title="(5)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Sekda-dan-tamu-undangan-melihat-hasil-karya-kerjadan-program-Komunitas-Pasir-Putih.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Sekda dan tamu undangan melihat hasil karya, kerja,dan program Komunitas Pasir Putih</p>
</div>
<p>Setelah acara selesai para tamu undangan diperkenankan untuk melihat kegiatan, karya dan kerja Komunitas Pasir Putih. Tidak ketinggalan juga Kang Ary Juliant memberikan kado selamatan dengan menyanyikan beberapa lagunya. Acara berlangsung sampai pukul 14.00 WITA dan para tamu undanganpun satu persatu berpamitan pulang. Tapi kami melanjutkan hari itu dengan diskusi program bersama Mas Roni ST, Kak Ismiadi dan Syamsul Fajri Nurawat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/pemenang-lombok-utara-ntb/catatan-di-sekretariat-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Balik Syuting Film Naga Yang Berjalan Di Atas Air</title>
		<link>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/di-balik-syuting-film-naga-yang-berjalan-di-atas-air/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/di-balik-syuting-film-naga-yang-berjalan-di-atas-air/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 16:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Renal Rinoza Kasturi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciputat, Tangerang Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10132</guid>
		<description><![CDATA[Naga Yang Berjalan Di Atas Air itulah judul film feature dokumenter yang kami produksi ini. Judul tersebut tercetus tatkala makan siang sehabis syuting di Restoran Padang di pinggir jalan Siliwangi Raya, Desa Bhakti Jaya, Kecamatan Setu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10133" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10133" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Klenteng-Bio-Kanti-Sara.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Klenteng Bio Kanti Sara</p>
</div>
<p><em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em> itulah judul film <em>feature</em> dokumenter yang kami produksi ini. Judul tersebut tercetus tatkala makan siang sehabis syuting di Restoran Padang di pinggir jalan Siliwangi Raya, Desa Bhakti Jaya, Kecamatan Setu Kota, Tangerang Selatan yang tak jauh tempatnya dari lokasi kami syuting. Penamaan judul <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em> adalah sebuah tamsil metaforik untuk menggambarkan sosok tokoh utama dalam film ini yakni, Kang Sui Liong.</p>
<p><span id="more-10132"></span></p>
<p>Film yang diproduksi ini merupakan film <em>feature</em> dokumenter panjang berdurasi hampir dua jam. Film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em> merupakan kerja kolaborasi antara Forum Lenteng dengan Komunitas Djuanda sebagai bagian dari program <em>up-grading</em> jejaring <em>akumassa</em>. Sebelumnya, film pertama dari program <em>up-grading</em> tersebut adalah film <em>Dongeng Rangkas</em> yang berkolaborasi dengan salah satu jejering <em>akumassa</em>, Saidjah Forum yang bermarkas di Lebak, Banten. Film <em>Dongeng Rangkas</em> dalam seketika mendapat apresiasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri, terbukti mendapatkan penghargaan dari Festival Film Dokumenter (FFD) 2011 di Yogyakarta pada Desember 2011, kemudian apresiasi dari forum Internasional berupa <em>special screening</em> dalam perhelatan 3<sup>rd</sup> DMZ-Docs <em>Korean International Documentary Festival</em> pada September 2011 dan terpilih sebagai nominator di festifal filem dokumenter internasional, CPH:DOX 2011 Copenhagen, Denmark pada November 2011.</p>
<p>Proses pembuatan film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em> dimulai pada bulan November 2011 sampai dengan bulan Februari 2012. Tim yang terlibat dalam pembuatan film ini adalah Otty Widasari—Koordinator <em>akumassa</em> selaku sutradara dan penulis film, Ray Sangga Kusuma—Direktur Komunitas Djuanda selaku asisten sutradara, Syaiful Anwar, Mufti Al Umam dan Choiril Chodri selaku kameraman, Renal Rinoza Kasturi selaku periset dan pembuat ide cerita, dan Dwi Anggraini Puspa Ningrum selaku manajer lokasi. Kemudian setelah film ini rampung diproduksi, tahapan selanjutnya adalah proses pasca produksi. Dalam pasca produksi ini yang terlibat bertambah daripada tim ketika proses produksi film. Tahapan pasca produksi masuk di awal bulan Maret 2012. Dalam pasca produksi tim yang terlibat menyusun penyuntingan dan publikasi. Tim penyuntingan diserahkan kepada Mufti Al Umam &amp; Choiril Chodri. Kedua editor tersebut mendapat pendampingan secara intens oleh Hafiz sampai dengan tahapan akhir penyuntingan. Kemudian, tim publikasi dipercayakan kepada Rizky Muhammad Zein selaku Koordinator Publikasi &amp; Promosi Film Naga <em>Yang Berjalan Di Atas Air</em>, dibantu oleh Eni Wibowo, Imam FR Kusumaningati dan Farabi Ferdiansyah, serta tim redaksi <em>akumassa</em>: Lulus Gita Samudra, Dian Komala dan Muhammad Fauzi. Sebagai <em>Public Relation</em> film ini, tim Publikasi &amp; Promosi didampingi oleh Andang Kelana dalam menyusun agenda kerja publikasi &amp; promosi. Materi publikasi seperti pembuatan <em>web</em>, desain banner, poster dalam bentuk digital juga dibantu oleh Riosadja Dawat.</p>
<div id="attachment_10134" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10134" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Tim-Forum-Lenten-dan-Komunitas-Djuanda-di-Bio-Kanti-Sara.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Tim Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda di Bio Kanti Sara</p>
</div>
<p>Selama proses produksi berlangsung kami sebagai tim produksi boleh dikatakan mendapatkan keberuntungan. Kenapa, keberuntungan yang kami maksud adalah penerimaan yang tulus dari pihak pengelola klenteng, warga sekitar, dan para jemaat yang datang bersembahyang dan bercengkrama. Ternyata, tak butuh waktu lama supaya begitu dekat dengan Koh Liong, karena ia begitu ramah dan supel. Namun sebelum aku lebih jauh menceritakannya, kiranya aku akan sedikit menceritakan awal mula bisa mengetahui Bio Kanti Sara—nama resmi klenteng ini. Bermula dari keingintahuanku terhadap sebuah hal-hal yang berhubungan dengan aktifitas religi di setiap agama. Ya, aku adalah orang yang senang bergaul dan mempelajari agama lain selain agama yang kuanut. Beberapa agama telah aku pelajari seperti agama Nasrani yang mencakup dunia kekristenan secara luas. Pengalamanku berinteraksi dengan agama Kristen tidak cukup di literatur yang kubaca, lebih dari itu aku juga bertemu dan bertukar pikiran dengan tokoh agama. Kok bisa begitu—jawabannya simple, karena kampusku Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta sering mengadakan seminar tentang dialog antar iman tentunya melibatkan tokoh-tokoh kunci dari setiap agama dan yang sering langganan adalah agama Kristen.</p>
<p>Dari berbagai aneka perjumpaan itulah yang mengendap di alam bawah sadarku, tanpa kusadari nilai-nilai kebersamaan dalam hidup menjadi sesuatu hal yang esensial bagi hidupku dan tentunya apa yang disuarakan oleh KH. Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid dan Buya Syafii Maarif terdengar sayup-sayup di telingaku—pendengaran sayup-sayup itu bagaikan sebuah bisikan nilai-nilai kebajikan dalam tata nilai keber-Islaman yang percaya diri dan pandai bergaul.</p>
<p>Tak berhenti di situ saja, perjumpaan selanjutnya adalah aku senang mempelajari budaya Jawa sampai akhirnya mau tak mau aku mempelajari agama Hindu dan Buddha. Kedua agama ini merupakan landasan utama orang Jawa dalam memandang dunianya atau tepatnya kontak Jawa yang mengalami Indianisasi termasuk dalam hal agama. Dan agama dengan sendirinya menjelma dalam setiap aktifitas ritus keagamaan yang bersetubuh dengan adat istiadat atau budaya. Ya, meskipun orang Jawa pada umumnya kini telah memeluk Islam, secara laten pada praktiknya masih mempertahankan nilai-nilai sebelum Islam hadir di tanah Jawa baik sadar atau tidak sadar akan hal itu.</p>
<p><em>Nah</em>, apa relevansinya dengan film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>—satu jawaban yang dapat diterima adalah faktor kontak Jawa-Cina yang sudah barang tentu adalah perjumpaan dengan hibriditas budaya di dalamnya. Khusus untuk film ini adalah bagian dari nebula kebudayaan Nusantara dengan kentalnya tradisi religi. Sebagian orang Tionghoa masih mempertahankan laku religi dan budayanya walaupun sudah terputus secara fisik dengan negeri leluhur dan yang sudah beranak-pinak di negeri yang didiaminya sekarang. Namun di sisi lain mengadopsi unsur-unsur budaya lokal yang sebelumnya sudah ada.</p>
<div id="attachment_10141" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10141" title="(9)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Seorang-jemaat-sedang-sembahyang.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Seorang jemaat sedang sembahyang</p>
</div>
<p><em>Nah</em>, kasus <em>Cina Benteng</em> sesuai untuk menggambarkan asimilasi tersebut termasuk apa yang ada dalam film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em> sebagai bagian dari percampuran budaya yang ada di daerah Tangerang utamanya sepanjang aliran Sungai Cisadane yang datangnya dari hilir menuju ke hulu sungai.</p>
<p>Sebelumnya, aku pernah bertandang ke klenteng Kanti Sara sekitar akhir bulan Februari 2010 bersama temanku sesama Komunitas Djuanda, Mufti Al Umam namanya. Dia bersamaku, awalnya untuk tulisan yang akan dimuat di <em>akumassa.org</em>. Singkat cerita, segala yang kubutuhkan untuk bahan tulisanku sudah lengkap, karena aku mewawancarai Koh Liong tentang sejarah klenteng, aktifitasnya dan lain-lain. Namun sayang beribu sayang catatanku tersebut hilang entah kemana tanpa sempat untuk kembali kesana. Kebetulan di tahun 2010 tepatnya bulan Maret aku jatuh sakit, kukira sakit demam biasa, ternyata lama-kelamaan semakin parah sampai akhirnya di bulan Mei 2010 aku di diagnosa positif terkena penyakit TB—penyakit Paru-paru. Maka setelah itu dalam setahun aku menjalani pengobatan bolak-balik ke rumah sakit setiap minggunya. Dalam sesalku aku berikrar akan kembali lagi kesana (ke klenteng) dengan tujuan menulis kisah di klenteng tersebut. Ya, tepat bulan November 2011 aku kembali ke Klenteng Kanti Sara, bukan bermaksud untuk menulisnya melainkan mefilmkannya sebagai sebuah cerita dalam film <em>feature</em> dokumenter panjang.</p>
<p>Baiklah, aku ceritakan sekelumit ide pembuatan film ini. Seperti yang sudah disimak di atas tadi, gagasan utama yang melatari pembuatan film adalah sesuatu nilai-nilai esensial yang bisa kita ambil sebagai teladan. Di samping itu adalah sesuatu yang khas apabila berbicara tentang kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan. Bukan bermaksud untuk meng-eksotik-kannya melainkan memberikan sebuah afirmasi pengetahuan dan menukilkan penggalan kronik sejarah sosial dan budaya di Kota Tangerang Selatan yang sekali lagi amat terasa minim. Proses syuting yang lumayan melelahkan terasa tidak melelahkan, lantaran suasana kebatinan yang begitu dekat dengan kehidupan klenteng. Ini bisa dimaklumi karena hampir setiap hari kami berada di lokasi syuting dan menginap.</p>
<p>Interaksi kami dengan Koh Liong, Istrinya, anak-anaknya, warga sekitar dan para jemaah yang sembahyang dan bercengkrama begitu akrab. Banyak kisah unik, pengalaman seru dan mendengarkan cerita-cerita yang diutarakan oleh mereka. Mulai dari sejarah Klenteng ini, aktifitas mereka dalam berbisnis, tentang cokek dan gambang kromong, cerita tentang keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia sampai dengan keberadaan etnis Cina di Babakan Pocis, Desa Bhakti Jaya, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan—tempat klenteng Kanti Sara berada. Keberadaan Cina Benteng sampai hubungannya dengan keberadaan etnis Cina di hulu sungai Cisadane termasuk kawasan Babakan Pocis, Tangerang Selatan dan Gunung Sindur Bogor, cerita tentang silat Ko Peng Hwo, cerita tentang Soekarno dan hubungannya dengan etnis Tionghoa di Indonesia termasuk di dalamnya kontak ke negeri Tiongkok (Republik Rakyat Tiongkok), peristiwa G 30 S PKI, zaman Soeharto berkuasa di mana terjadinya peminggiran dan diskriminasi terhadap etnis Cina seperti pelarangan aneka kesenian dan budaya, upacara keagamaan, sampai penggantian nama.</p>
<p>Peristiwa Mei 1998 yang besar dampaknya bagi keberadaan etnis Cina, zaman reformasi, eksistensi etnis Cina di era reformasi, peranan Gusdur yang mengakui keberadaan etnis Tionghoa beserta perangkat kesenian, budaya dan religinya—di mana dalam hal ini negara sudah mengakui keberadaan eksistensi etnis Tionghoa seperti pengakuan agama Konghucu, dan perayaan Imlek dan sebagainya. Juga berbicara mengenai konteks politik Indonesia saat ini dan jelang Pemilu 2014 hingga berbicara situasi politik lokal di Tangerang Selatan yang sebelumnya melaksanakan Pemilukada dengan memenangkan Pasangan Airin Rachmi Diany-Benyamin Davnie sebagai Walikota dan Wakil Walikota. Dan banyak cerita lainnya yang sangat menarik untuk disimak seperti hal-hal yang bersifat mitologis.</p>
<p>Dalam cerita ini ada beberapa nama yang ku ingat dan yang lainnya aku lupa, seingatku adalah Koh Samseng, Koh Andi, Koh David, Koh Johan, Koh Cingcing, Koh Atik, Koh Anton, Koh Ocan, Koh Edo mereka begitu bersemangat berkisah dan luar biasa ceriwisnya.</p>
<p>Ya, begitulah kisah cerita yang kudapat  selama berada di Klenteng Kanti Sara, keramahan dan keakraban selaras dengan suasana hening dan rindang pohon membuat udara terasa sejuk. Tak sampai di situ saja, hal yang unik selama syuting adalah keberadaan berbagai macam etnis yang hidup damai dan rukun sejak lama tanpa terpengaruh konflik horizontal. Di sekitar klenteng hidup berbaur antara beragam etnis seperti Betawi, Cina, Sunda, bahkan orang Papua. Tak jauh dari klenteng ada sebuah gereja yang terlihat kurang terurus. Di sebuah pelosok kutemukan Gereja Anglikan—sebuah keheranan tersendiri. Kok gereja bisa ada di sini, padahal gereja Anglikan jumlahnya terbatas karena merupakan <em>denominasi</em> Gereja Inggris. Suatu hal yang tidak lazim tak seperti gereja Protestan lainnya yang bisa dimaklumi keberadaannya di tempat-tempat seperti itu. Sebelumnya yang kutahu Gereja ini berada di daerah sekitar Tugu Tani Jakarta Pusat.</p>
<p>Pengalaman unik lainnya adalah untuk pertama kali tim produksi dibacakan sebuah mantra kemudian dituliskan di punggung masing-masing. Aku pun kebagian prosesi ini. Ada semacam energi yang terasa dari dasar bumi. Bukan berandai-andai ternyata ini juga dirasakan Otty Widasari yang merasakannya semacam kekuatan magnetik dari bawah bumi. Entahlah aku tidak tahu persis asal muasal energi tersebut. Kemudian, prosesi <em>ciamsi</em>e—sebuah prosesi mendapatkan peruntungan dengan mengocok tumpukan bambu pipih di dalam sebuah tabung yang terbuat dari bambu  juga. Kemudian bambu pipih tersebut jatuh dan selanjutnya dilemparkan sebuah kayu yang ukurannya segenggam kepalan tinju dan setelah itu dapat diketahui seperti apa peruntungannya dengan melihat kertas hasil dari bambu pipih dan sekepal kayu tersebut.</p>
<p>Prosesi ini seru karena setiap orang punya hasil yang berbeda. Contohnya, salah satu temanku nasibnya agak jelek makanya dianjurkan banyak-banyak berdoa dan rajin-rajin sholat lima waktu. Nah kalau aku beberapa kali di <em>ciamsie</em> tidak berhasil karena dewa belum merestui, begitulah kira-kira alasannya kenapa aku gagal di <em>ciamsie</em>.</p>
<div id="attachment_10135" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10135" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Kang-Sui-Liong-melakukan-ritual-Ciamsie.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Kang Sui Liong melakukan ritual Ciamsie</p>
</div>
<p>Selama proses syuting kami pun menyusuri kehidupan satu per satu, baik dari Koh Liong sendiri, istrinya, anak-anaknya termasuk dalam hal ini kedua anaknya yang berasal dari istri ketiga nya. Koh Liong mempunyai tiga istri. Istri pertama tinggal di samping klenteng, sedangkan istri kedua tinggalnya lumayan jauh dari klenteng. Kebetulan istri ketiga tinggal bersamanya beserta anak-anaknya mengurus Klenteng Kanti Sara. Kedua anak mereka adalah Anita (14), dan Ari (13). Kedua anaknya ini, di samping bersekolah juga mengurus klenteng seperti Anita yang bertugas mencuci piring, menyiapkan hidangan bagi para tamu, mengganti air teh di altar, mengganti wadah berisi minyak, menyalakan lilin dan sebagainya. Sedangkan Arie aktifitasnya mengurus ayam peliharaan, bermain di sawah, dan menabuh tambur sebagai salah satu prosesi ibadat.</p>
<div id="attachment_10136" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10136" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Kang-Sui-Liong-bersama-anak-dan-istrinya.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Kang Sui Liong bersama anak dan istrinya</p>
</div>
<p>Saat syuting, kami menunggu momen perhelatan Gambang Kromong. Namun untuk perhelatan gambang kromong masih menunggu adanya sebuah hajatan perkawinan. Dan harapan itupun tipis, karena belum ada kabar siapa yang menggelar hajatan perkawinan. Ternyata, syukur <em>Alhamdulillah</em>, rupanya ada sebuah hajatan perkawinan di daerah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Sungguh beruntung. Dan kami pun berangkat pada malam itu dengan mengendarai mobil dan sepeda motor. Sampailah di sebuah perkampungan bernama Rawa Kalong yang sudah termasuk Kabupaten Bogor. Dengan jalan yang becek dan segumpal tanah yang melekat di sandal, kami memasuki pesta perkawinan. Kebetulan yang mengajak kami adalah Koh Ceng Hong atau Nata Hidayat ketika ngobrol-ngobrol di klenteng. Koh Ceng Hong adalah kawan karib Koh Liong sejak lama. <em>Wah,</em> ramai dan meriah sekali hajatan yang berlangsung. Jujur aku baru pertama kali melihat pesta seperti ini. Setiap tamu yang yang datang bersalaman dengan mengepalkan tangannya, khas budaya Tiongkok. Pesta sudah barang tentu diiringi musik orkes Gambang Kromong dan tarian <em>ngibing</em>.  Kami lama berada di sana. Sekitar jelang pukul 01.00 dini hari kami pulang.</p>
<p>Proses produksi syuting berjalan cukup lama, hampir dua bulan lamanya. Sampai menunggu momen perayaan Imlek, <em>Cap Go Meh</em>. Namun seperti sediakala kami juga menunggu momen seperti malam <em>Cap Goh</em> dan malam <em>Cek It</em>. Malam <em>Cap Goh</em> adalah malam bulan penuh atau purnama sedangkan malam <em>Cek It</em> adalah malam bulan sabit yang dihitung setiap 15 hari sekali dalam setiap satu bulan. Biasanya kedua malam yang silih berganti tersebut banyak para jemaah yang berdatangan untuk bersembahyang juga ajang kumpul-kumpul dan saling bercengkrama. Prosesi sembahyang dengan membakar <em>hio</em>, kemudian berdoa ke masing-masing dewa seperti altar Dewa Kwankong—yang dalam hal ini dewa pelindung Bio Kanti Sara, altar Dewi Kwan Im, altar Buddha, altar Dewa Dapur. Dilanjutkan menaruh <em>hio</em> di tungku yang berada di depan klenteng dan membuang pembakaran kertas ke sebuah tungku beratap pagoda.</p>
<div id="attachment_10139" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10139" title="(7)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Dewa-Kwankong.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Dewa Kwankong</p>
</div>
<div id="attachment_10137" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10137" title="(5)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Dewi-Kwan-Im.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Dewi Kwan Im</p>
</div>
<p>Dalam syuting kali ini, kami menggunakan kamera Sony HD EX  1. Penata kamera sekaligus kameraman adalah Syaiful Anwar, dibantu dengan tiga orang kameraman, Choiril Chodri, Mufti Al Umam dan Ray Sangga Kusuma. Sedangkan aku menjajal beberapa <em>shoot</em> saja. Selebihnya<em>, footage-footage</em> gambar yang kami ambil sudah lumayan banyak kira-kira ada 50 jam jikalau ditayangkan semuanya. Dan sesuai rencana, film ini diestimasikan berdurasi sekitar dua jam. Setelah pengambilan gambar selesai, tiba waktunya masuk ke tahapan pasca produksi.</p>
<div id="attachment_10138" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10138" title="(6)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Proses-syuting-filem-Naga-Yang-Berjalan-Di-Atas-Air.jpg" alt="" width="565" height="848" />
<p class="wp-caption-text">Proses syuting filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air</p>
</div>
<p>Dalam proses pasca produksi kami terlebih dahulu mendiskusikan untuk mengelaborasi cerita dalam film ini. Proses pasca produksi masuk di awal bulan Maret 2012. Kami pun sebagai tim produksi terlibat dalam penggarapan dan penyusunan cerita. Dalam penyusunan terbagi berbagai fragmen cerita, sekitar 12 fragmen cerita untuk kemudian dipilah dan disatukan. Setiap rangkaian fragmen sesuai logika cerita dan logika visualnya. Bersama Hafiz, Otty Widasari, Syaiful Anwar, Choiril Chodri, Mufti Al Umam, Ray Sangga Kusuma, Dwi Anggraini Puspa Ningrum dan aku sendiri membongkar setiap <em>footage-footage</em> untuk disusun menjadi sebuah cerita. Proses diskusi pun berlangsung intens dengan melihat perkembangan dan kemajuan susunan cerita dan proses <em>drafting</em> editingnya.</p>
<p>Film sebentar lagi akan diputar secara perdana di awal minggu kedua bulan Mei 2012, tepatnya tanggal 12. Tanggal tersebut dipilih karena melihat momentum kelahiran Ari, anak kedua Koh Liong di mana saat itu terjadi perubahan besar dalam negeri ini di tahun 1998. Selain itu, pihak Studio XXI TIM menjadwalkannya di tanggal yang sama. Oleh karena itu, geliat tahapan publikasi dan promosi pun gencar dilakukan semua pihak terutama yang bertanggung jawab dalam proses publikasi dan promosi. Berbagai persiapan pun dilakukan seperti mempercepat pembuatan <em>banner</em> dan poster. Di samping itu, memperbaharui <em>web</em>, akun <em>Facebook</em>, dan <em>Twitter</em> film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>.</p>
<div id="attachment_10140" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10140" title="(8)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/POSTER-NAGA-RESIZE.jpg" alt="" width="565" height="400" />
<p class="wp-caption-text">Poster filem Naga Yang Berjalan Di Atas Air</p>
</div>
<p>Terhitung sejak tanggal 3 Mei 2012, sarana publikasi dan promosi pun gencar dilakukan hingga hari ‘H’ gala <em>premiere</em> film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>. Setelah gala <em>premiere</em> tanggal 12 Mei 2012, langkah selanjutnya adalah pemutaran di kawasan Kota Tangerang Selatan yang direncanakan di Aula Kantor Walikota, pemutaran khusus mahasiswa di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—almamater anak-anak Komunitas Djuanda juga beberapa pemutaran publik dan <em>roadshow</em> ke daerah-daerah.</p>
<p><em>Akhirul kalam</em>, inilah geliat selama proses syuting hingga saat ini dalam tahapan persiapan gala <em>premiere</em> film <em>Naga Yang Berjalan Di Atas Air</em>—semoga pemutaran film ini memberikan sumbangsih bagi semua yang peduli bagi kemajuan Kota Tangerang Selatan dan langkah kecil untuk menjejakkan kaki dalam lapangan berkesenian dan berkebudayaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/di-balik-syuting-film-naga-yang-berjalan-di-atas-air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pestanya Kelas Pekerja</title>
		<link>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/pestanya-kelas-pekerja/</link>
		<comments>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/pestanya-kelas-pekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 13:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[ejip]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>
		<category><![CDATA[tani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10115</guid>
		<description><![CDATA[Jalan-jalan di Jakarta Puluhan ribu massa berkumpul pada siang hari itu di sekitar Monumen Nasional, Jakarta. Beraneka ragam warnanya, ada kelompok berbaju hitam, putih, biru, merah dan oranye. Setiap kelompok dipandu koordinator lapangannya. Meskipun begitu, mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10116" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10116" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Barisan-buruh-FSBI-mengatur-barisan.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Barisan buruh FSBI mengatur barisan</p>
</div>
<p><strong>Jalan-jalan di Jakarta</strong></p>
<p>Puluhan ribu massa berkumpul pada siang hari itu di sekitar Monumen Nasional, Jakarta. Beraneka ragam warnanya, ada kelompok berbaju hitam, putih, biru, merah dan oranye. Setiap kelompok dipandu koordinator lapangannya. Meskipun begitu, mereka satu tujuan. Merayakan Hari Buruh Dunia tahun 2012 dengan mengadakan pesta di jalan berupa aksi <em>long march</em>, pembacaan manifesto buruh Indonesia, dan hiburan panggung musik yang akan diisi oleh musisi ibu kota.</p>
<p><span id="more-10115"></span></p>
<p>Barikade keamanaan negara sudah membuat kolom barisan. Dengan tameng, pelindung kepala dan mobil-mobil baja, artinya mereka sudah siap menjaga keamanan kota dari kemungkinan terjadinya kerusuhan. Tiba-tiba, dari arah timur datang lagi sebuah rombongan sambil bernyanyi beberapa lagu perjuangan, termasuk <em>Hymne Buruh</em>. Rombongan berjumlah ratusan pekerja itu, datang dari Cikarang, Jawa Barat. Mereka di bawah naungan Federasi Serikat Buruh Indonesia (FSBI). Dengan mantap, rombongan itu melebur dengan serikat buruh yang lainnya.</p>
<div id="attachment_10117" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10117" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Barikade-polisi-siap-mengamankan-Jakarta-dari-kemungkinan-rusuh.jpg" alt="" width="565" height="318" />
<p class="wp-caption-text">Barikade polisi siap mengamankan Jakarta dari kemungkinan rusuh</p>
</div>
<p>Untuk sementara, komando seluruh buruh sepertinya diambil oleh Federasi Serikat Pekerja Otomotif Indonesia (FSPOL). Mereka menjadi garda terdepan untuk menggiring para buruh hijrah dari Monas ke Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta Selatan. Untuk memperkuat barisan, koordinator lapangan (korlap) FSPOL berorasi di depan para demonstran. Dengan satu tujuan, ia meneriakan enam tuntutan pekerja Indonesia.</p>
<p>Pertama, jalankan jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat per 1 Januari 2014, hal ini termasuk untuk para guru bantu, honorer dan kontrak. Biaya jaminan kesehatan itu bisa disalurkan melalui penerima bantuan iuran. Kedua, jalankan jaminan pensiun wajib untuk buruh per 1 Juli 2015. Ketiga, tolak kebijakan upah murah dengan merievisi Permakertrans No 17 tahun 2005 tentang kebutuhan hidup layak, termasuk untuk guru bantu, honorer dan guru kontrak. Dananya bisa diambil dari APBN atau APBD. Ke empat, hapuskan sistem <em>outsourcing </em>tenaga kerja yang bersifat eksploitatif. Ke lima, berikan subsidi buruh dan keluarga melalui APBN atau APBD. Dan terakhir, jadikan 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional.</p>
<div id="attachment_10118" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10118" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Para-buruh-konvoi-dari-Monas-ke-GBK.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Para buruh konvoi dari Monas ke GBK</p>
</div>
<div id="attachment_10119" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10119" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/FSPOL-menjadi-barisan-terdepan-konvoi-buruh-dari-Monas-ke-GBK.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">FSPOL menjadi barisan terdepan konvoi buruh dari Monas ke GBK</p>
</div>
<p>Terik matahari semakin menjadi, panasnya bukan main. Satu per satu buruh meninggalkan barisan untuk berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon Jakarta. Untuk korlap, tentu hal ini mengkhawatirkan. Kehilangan semangat dalam berjuang merupakan masalah yang paling fatal. Untuk menyatukannya kembali, korlap memandu para buruh untuk tetap berdiri dalam barisan.</p>
<p>“Kawan-kawan harus tetap semangat. Segera kembali menuju barisan. Delapan jam kerja yang kita nikmati hari ini adalah hasil semangat pejuang buruh terdahulu,” tegas korlap menggunakan alat pengeras suara. Akhrinya satu per satu buruh kembali masuk dalam barisan. Lalu mereka menyanyikan lagu Buruh Tani bersama-sama dan melanjutkan perjalanan menuju Stadion GBK. Iring-iringan sepeda motor melaju paling depan yang diikuti rombongan bus dan mobil pribadi lainnya.</p>
<p>Setiap bus terisi penuh oleh massa, bahkan bisa dibilang sesak. Termasuk bus pariwisata Hiba Utama yang ditumpangi para pekerja dari kawasan industri Ejip, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Umumnya yang ada di dalam bus itu para pekerja di PT Crestec Indonesia. Sebuah perusahaan yang memproduksi komponen-komponen dasar untuk membuat barang-barang elektronik.</p>
<p>Salah satu penumpangnya bernama Agus. Laki-laki berumur 34 tahun ini mengaku sudah mengabdi pada perusahaan sejak tahun 1996. Tugasnya di pabrik mengatur operasional mesin-mesin. Dengan bajunya yang berwarna biru bertuliskan FSBI, ia menjelaskan tentang nasib buruh di Indonesia yang masih terabaikan dan harus diperjuangkan.</p>
<div id="attachment_10120" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10120" title="(5)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Agus-buruh-pabrik-dari-kawasan-Ejip-Cikarang-Bekasi.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Agus, buruh pabrik dari kawasan Ejip, Cikarang, Bekasi</p>
</div>
<p>Misalnya tentang sistem <em>outsourching</em>. Menurutnya sistem itu tidak berperikemanusiaan, karena seseorang harus bekerja tanpa tunjangan apapun. Mereka hanya bekerja sesuai masa kontrak yang terpaksa disepakati lantaran tidak mau <em>nganggur</em>. Ketika masa kontrak sudah habis, maka akan sengsara lagi mencari kontrak-kontrak baru yang belum tentu segera kunjung datang. “<em>Udah gitu</em>, gajinya pasti dipotong setiap bulan sama yayasan yang menyalurkannya,” ujar Agus.</p>
<p>Sebetulnya persoalan buruh tetap juga masih menjadi masalah kemanusiaan. Ia menjelaskan, selama 16 tahun pengabdian pada perusahaan saja, gajinya masih Rp 2,3 juta. Namun beruntung, istrinya dapat membantu dengan menjadi guru kontrak (guru yang dibayar sesuai masa kontrak yang disepakati) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Cibitung. Penghasilannya dapat membantu kelangsungan hidup rumah tangga mereka yang hingga saat ini belum dikaruniai anak.</p>
<p>Ia juga mengungkapkan kebingungannya terhadap pekerja di kantoran yang tidak mau turun ke jalan setiap tanggal 1 Mei. Padahal tuntutan para buruh jika direalisasikan pemerintah, mereka juga yang akan menikmatinya. “Gaji mereka juga diatur UMR atau UMK. Jika pemerintah menaikan angka minimumnya, tentu mereka juga yang merasakan,” jelas Agus.</p>
<p>Untuk tuntutan dijadikannya hari libur nasional setiap tanggal 1 Mei termasuk hal yang perlu direalisasikan juga menurutnya. Ia memaparkan, setiap tanggal 1 Mei, umumnya setiap buruh pasti bolos kerja untuk turun kejalan, karena ini salah satu hari raya para pekerja. Seharusnya tidak ada yang namanya bolos bersama setiap tanggal 1 Mei jika dijadikan hari libur nasional.</p>
<p>“<em>Kalo</em> di tempat saya, supaya <em>gak</em> kena sanksi bolos, para pekerja bikin kesepakatan sama manajemen pabrik. Sabtu dan Minggu kan libur,<em>tuh</em>. Jadi untuk demo hari Selasa ini, para pekerja akan tetap masuk di hari Sabtu untuk <em>gantiin</em> yang hari ini,” jelas Agus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Stadion Gelora Bung Karno</strong></p>
<p>Matahari sudah tidak segagah siang tadi. Sore itu ratusan ribu buruh sudah berkumpul di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Para buruh itu akan mendengarkan Manifesto Buruh Indonesia dan peresmian Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) yang digagas oleh tiga federasi besar, di antaranya, KSPI, KSBI dan KSPI. Ketiga federasi itu didukung oleh federasi-federasi kecil lainnya seperti, FSP TSK, FSBI, GSPMII, FSP LEM, FSP FARKES, FS Pewarta dan SPIN.</p>
<div id="attachment_10121" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10121" title="(6)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Suasana-di-Stadion-Gelora-Bung-Karno.jpg" alt="" width="565" height="753" />
<p class="wp-caption-text">Suasana di Stadion Gelora Bung Karno</p>
</div>
<p>Acara dibuka dengan ucapan selamat datang  oleh ketiga pemimpin federasi besar, Andi Gani Nena Wea Presiden KSPSI, Mudhofir Presiden KSBSI dan Muhammad Rusdi, Sekjen KSPI mewakili  Said Iqbal, Presiden KSPI, yang tidak bisa hadir karena istrinya mengidap lupus dan sedang dirawat di rumah sakit. Lalu seluruh buruh berdoa secara bersama untuk kesehatan istri Iqbal.</p>
<p>Selanjutnya para pemimpin itu secara resmi mendeklarasikan hari jadi Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI). Presiden KSPI, Andi Gani Nena menjelaskan di hadapan para buruh, dengan diadakannya peresmian MPBI di GBK ini, diharap para buruh dapat terapresiasikan permasalahannya melalui cabang-cabang kecil di wilayah kerjanya. “Peresmian MPBI ini telah membuang biaya yang mahal, tapi semoga kita semua dapat berbahagia. Panitia mendapat dana dari iuran yang kawan-kawan buruh berikan di setiap federasi. <em>Alhamdulillah</em>, tidak ada sepeserpun uang dari penguasa dan pengusaha.” Serempak ratusan ribu buruh itu tepuk tangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_10122" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10122" title="(7)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Iring-iringan-gabungan-buruh-dari-berbagai-federasi-sambil-membawa-bendera.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Iring-iringan gabungan buruh dari berbagai federasi sambil membawa bendera</p>
</div>
<p>Begitu juga dengan Manifesto Buruh Indonesia, para pemimpin federasi itu membacakan secara bersama. Isinya tentang tekad para buruh untuk mewujudkan tiga istilah, Pangan (pemerataan pendapatan dan penghidupan yang layak), Kemerdekaan (penguatan demokrasi politik, demokrasi ekonomi dan ketahanan sosial budaya) dan Perlindungan (keadilan sosial untuk seluruh rakyat dan perlindungan sosial).</p>
<p>Pangan itu sendiri diartikan sebagai dorongan kepada buruh untuk melawan kebijakan upah murah termasuk untuk guru honorer, guru kontrak, guru bantu, pekerja rumah tangga (PRT), pekerja migran dan pekerja sosial. Hal ini juga menuntut peningkatan daya beli rakyat, menjaga kestabilan harga, serta menuntut pemerintah untuk mengikutsertakan serikat buruh dalam membuat kebijakan ekonomi negara.</p>
<p>Kemerdekaan sendiri merupakan ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia, baik yang buruh maupun bukan untuk bersatu memberikan ruang kebebasan berserikat. Kemerdakaan juga mengajak masyarakat untuk menuntut penghapusan sistem <em>outsorcing, </em>menolak diskriminasi dan memastikan hak berpolitik bagi kaum pekerja.</p>
<p>Sedangkan Perlindungan adalah gerakan untuk mewujudkan kehidupan buruh yan lebih sejahtera, adil dan manusiawi. Tuntutannya berupa diadakannya jaminan kematian, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua dan jaminan pensiun. Serta tak luput untuk urusan pendidikan, mereka menuntut disediakannya subsidi untuk anak-anak buruh memiliki kesempatan bersekolah hingga perguruan tinggi.</p>
<p>Sekali lagi, para buruh itu tepuk tangan dan bersorak sorai mendukung isi dari Manifesto Buruh Indonesia yang tadi dibacakan. Sehingga hari itu, GBK tidak lagi tampak seperti tempat perhelatan pertandingan sepak bola. Tapi betul-betul berubah menjadi suasana politis dan pesta hari raya para kelas pekerja. Rasa senang jelas terlihat dari wajah-wajah para buruh yang hadir di sana, seakan mereka melihat harapan baru dari para petinggi federasi. Belum lagi ditambah hiburan musik yang membuat kulit dahi lebih renggang dari sebelumnya.</p>
<div id="attachment_10123" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10123" title="(8)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Ramainya-antusias-para-buruh-di-dalam-stadion-GBK.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Ramainya antusias para buruh di dalam stadion GBK</p>
</div>
<p>Salah satunya, lagu <em>Kebyar-Kebyar</em> ciptaan Gombloh yang dinyanyikan Edo Kondologit. Penyanyi <em>Jazz</em> asal Papua itu mampu membuat para buruh berdiri tegak dan mengibarkan bendera negara. Bersama-sama mereka menyanyikan lagu tentang perpaduan warna merah dan putih yang bersatu dalam semangat rakyat Indonesia.</p>
<p>Selanjutnya, kehadiran band Slank juga tak kalah serunya. Seraknya suara Kaka Slank dalam menyanyikan lagu <em>Garuda Pancasila</em> ciptaan Sudharnoto membuat suasana kebangsaan para buruh semakin terlihat. Semua berdiri sambil mengangkat tangan kiri dan bernyanyi seakan mereka siap untuk mendukung keutuhan Pancasila sebagai dasar negara.</p>
<div id="attachment_10124" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10124" title="(9)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Penampilan-Edo-Kondologit-di-Stadion-GBK-untuk-menghibur-para-buruh.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Penampilan Edo Kondologit di Stadion GBK untuk menghibur para buruh</p>
</div>
<div id="attachment_10125" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10125" title="(10)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/05/Slank-menyanyikan-lagu-Garuda-Pancasila-yang-disambut-meriah-oleh-para-buruh.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Slank, menyanyikan lagu Garuda Pancasila yang disambut meriah oleh para buruh</p>
</div>
<p>Ternyata, betapa meriahnya peringatan Hari Buruh Dunia. Seperti hari raya lainnya, mereka membuat pesta besar-besaran. Tapi sudah tentu, pesta kali ini sarat nuansa politis, bukan hanya seremonial yang humbar-humbar uang belaka. Karena ratusan ribu buruh itu sadar, uang yang mereka buang hari itu adalah hasil perasan keringat dan tidak boleh terbuang sia-sia. Sehingga mereka luapkan dengan berkumpul pada tanggal yang sama, berserikat dan membuat manifesto sebagai pegangan kekuatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Foto oleh Dian Komala</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/kontribusi/dki-jakarta/pestanya-kelas-pekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Untuk Hari Buruh 2012</title>
		<link>http://akumassa.org/tajuk/pendidikan-untuk-hari-buruh-2012/</link>
		<comments>http://akumassa.org/tajuk/pendidikan-untuk-hari-buruh-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 08:48:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[buruh]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[mayday]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10098</guid>
		<description><![CDATA[Perayaan hari buruh tahun 2012 ini, diperkirakan ratusan ribu massa akan turun ke jalan. Seperti yang dilansir dari okezone.com. Dalam rangka pemanasan demo menjelang Mayday di JawaTimur, sekitar 79.450 buruh dari 17 elemen akan turun ke ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10099" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10099" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Perayaan-Hari-Buruh-sedunia-pada-tahun-2011-di-Bundaran-HI.jpg" alt="" width="565" height="424" />
<p class="wp-caption-text">Perayaan Hari Buruh pada tahun 2011 di Bundaran HI, Jakarta</p>
</div>
<p>Perayaan hari buruh tahun 2012 ini, diperkirakan ratusan ribu massa akan turun ke jalan. Seperti yang dilansir dari <em>okezone.com</em>. Dalam rangka pemanasan demo menjelang Mayday di JawaTimur, sekitar 79.450 buruh dari 17 elemen akan turun ke jalan. Tuntutannya meliputi pengurangan jam kerja, peningkatan Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan penghapusan praktik <em>outsourching</em>. Tapi sepertinya tuntutan ini akan jadi bulan-bulanan saja, karena perusahaan tidak perlu merasa khawatir dengan pekerja yang mogok kerja. 7,7 juta pengangguran yang lainnya, masih menunggu antrian untuk bekerja.</p>
<p><span id="more-10098"></span></p>
<p>Melihat hal tersebut, bisa jadi akar persoalan ketenagakerjaan di Indonesia adalah karena minimnya infrastrukstur penyelenggaraan pendidikan, sehingga banyak SDM yang kurang berkualitas. Hasilnya mereka tidak mandiri dan tidak mampu bersaing dalam dunia kerja, kecuali hanya berharap bisa bersandar pada suatu perusahaan dengan menjual tenaga.</p>
<p>Sudah semestinya, pendidikan menjadi tombak utama untuk pembangunan. Karena setiap negara yang maju, pasti peduli dengan kualitas pendidikan. Negara-negara itu menganggap pendidikan merupakan modal yang paling penting untuk mensejahterakan negaranya. Misalnya Jepang yang merasakan pahitnya kalah perang setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki saat perang pasifik berlangsung. Mereka segera bangkit, para pejabat Jepang saat itu langsung membangun infrastruktur untuk pendidikan. Hasilnya, tidak perlu waktu yang lama, mereka langsung menjadi sorotan dunia atas kesuksesannya dalam membangun bangsa.</p>
<p>Hal ini jadi mengingatkanku pada suatu kesempatan bertemu dengan Pak Madun, kuli serabutan yang juga jualan makanan kecil di Pamulang Timur, Tangerang Selatan. Ia mengungkapkan harapannya kepada para calon kepala daerah Tangerang Selatan saat Pemilukada berlangsung untuk memberi kemudahan anak-anaknya bersekolah. “Saya <em>sih</em> cuma berharap anak-anak pada bisa sekolah biar <em>pinter</em>, biar bangsa kita bisanya <em>kagak melet</em> (seperti menjulurkan lidah) <em>doang.</em>”</p>
<p>Saat mengingat ungkapan itu, aku melihat artinya di mata masyarakat, pendidikan sudah menjadi barang yang menarik dan menjanjikan. Mereka menanam kepercayaan, bahwa dengan menjalin ilmu, masa depan dapat tercerahkan tanpa harus bersandar pada perusahaan dengan menjual tenaga semata. Karena hidup dengan mandiri merupakan cita-cita hampir setiap orang. Dengan kemandirian, masyarakat juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi negara.</p>
<p>Atas dasar itu, menjelang perayaan Hari Buruh Dunia pada tanggal 1 Mei 2012, semoga kita semua dapat menyadari, betapa perlunya mengenyam pendidikan hingga setinggi-tingginya. Termasuk pendidikan tentang ketenagakerjaan, agar semakin sempit jurang yang memisahkan antara pemodal dan pekerja. Dan kita semua dapat tersenyum melihat hubungan yang akur di antara mereka.</p>
<p><em>Selamat Hari Buruh 2012.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/tajuk/pendidikan-untuk-hari-buruh-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Festival Jurnalisme Warga: Temu Komunitas, Bertukar Gagas, Berjejaring dan Do Something!</title>
		<link>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/festival-jurnalisme-warga-temu-komunitas-bertukar-gagas-berjejaring-dan-do-something/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/festival-jurnalisme-warga-temu-komunitas-bertukar-gagas-berjejaring-dan-do-something/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 15:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Renal Rinoza Kasturi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ciputat, Tangerang Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[festifal]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[warga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10083</guid>
		<description><![CDATA[Festival Jurnalisme Warga diselenggarakan selama dua hari, 14-15 April 2012 di Museum Nasional adalah festival yang pertama kali diselenggarakan di Jakarta. Festival ini mengambil tema Kencangkan Suaramu; Raise Your Voice. Dalam festival, diselenggarakan berbagai event di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10084" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10084" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Suasana-Temu-Komunitas-Jurn.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Suasana temu komunitas Jurnalisme Warga</p>
</div>
<p>Festival Jurnalisme Warga diselenggarakan selama dua hari, 14-15 April 2012 di Museum Nasional adalah festival yang pertama kali diselenggarakan di Jakarta. Festival ini mengambil tema <em>Kencangkan Suaramu; Raise Your Voice</em>. Dalam festival, diselenggarakan berbagai <em>event</em> di antaranya, <em>workshop</em> menulis, <em>workshop</em> Video &amp; Foto, <em>workshop</em> Optimalisasi <em>Social </em>Media, Diskusi Panel jurnalisme Warga &amp; Efektifitas Pelayanan Publik, Bersama Melukis Mural, Pameran Multimedia, Kuis Berhadiah, Lomba Siaran Radio, Klinik Jurnalistik, Temu Komunitas Warga, Pentas Musik dengan menghadirkan Tika and the Dissidents, Efek  Rumah Kaca, Kunokini, dan Paroeh Waktu.</p>
<p><span id="more-10083"></span></p>
<p>Festival ini adalah kerja bersama dari Tempo Institute, KOJI Communication, SERRUM, Air Putih, Desa Mandalamekar, Jatiwangi Art Factory (JAF), Komunitas Jibreg Cisitu, Media Parahyangan, Sorge Magazine, Jaringan Pewarta Mahasiswa Independen (JAPMI), Gema INTI, Grafis Sosial, Forum Lenteng, Komunitas Lereng Medini, Desa Melung, Combine Resource Institution, dan Komunitas Serrongge. Penyelenggaran di hari kedua adalah puncak dari perhelatan Festival Jurnalisme Warga. Salah satu agenda di hari kedua ialah Temu Komunitas Warga yang mengambil tema <em>Signifikansi Jurnalisme Warga dan Suara Komunitas</em>.</p>
<p>Temu komunitas ini dihadiri beberapa komunitas penggiat jurnalisme warga dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Acara ini dipandu oleh Mardiyah Chamim dari Tempo Institute yang juga sebagai <em>host </em>penyelenggara Festival Jurnalisme Warga. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tempo Institute ini didukung oleh  World Bank, AusAID, Tempo.co, Koran Tempo dan Green Radio 89.2 FM. Mardiyah Chamim selaku pembawa acara dalam temu komunitas didampingi beberapa narasumber yang berpartisipasi dalam <em>sharing</em> temu komunitas. Mereka di antaranya adalah Vivi Alatas dari perwakilan World Bank, Kartini dari lembaga Ombudsman RI, Ignatius Haryanto-pengamat media dari Lembaga Pers dan Pembangunan (LSPP), dan Pepi Nugraha dari Kompasiana.</p>
<p>Menurut Mardiyah Chamim, tujuan dari forum temu komunitas ialah saling <em>sharing</em> apa saja pengalamannya sebagai penggiat jurnalisme warga dan juga mengatur bagaimana kedepan kita berjejaring. “Karena dengan berjejaring aktifitas kita bakal lebih kuat, lebih kencang dan juga bisa saling membantu,“ imbuh Mardiyah dengan mantap.</p>
<p>Mardiyah Chamim setelah memperkenalkan narasumber-narasumber, selanjutnya ia mempersilahkan bagi teman-teman komunitas untuk memperkenalkan dirinya masing-masing. Kebetulan yang mendapat kesempatan pertama memperkenalkan diri ialah Kang Yana Noviadi setelah ditunjuk oleh Ibu Mardiyah Chamim dengan penuh semangat.  <em>Dus,</em> Kang Yana pun memperkenalkan dirinya, yang menarik dari Pak Yana, selain menjadi Kepala Desa, ia memposisikan dirinya sebagai penyiar radio komunitas tepatnya Radio Ruyuk FM dan admin portal mandalamekar.or.id di Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.</p>
<div id="attachment_10085" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10085" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Yana-Noviadi-Kepala-Desa-Ma.jpg" alt="" width="565" height="847" />
<p class="wp-caption-text">Yana Noviadi, Kepala Desa Mandalamekar dengan penuh semangat menceritakan program Gerakan Desa Membangun</p>
</div>
<p>Kang Yana bersama rekan-rekannya di Desa Mandalamekar dan desa-desa lainnya mengembangkan sebuah gerakan yang dinamai Gerakan Desa Membangun. Untuk mengembangkan gerakan ini, Kang Yana bersama rekan-rekannya mengadakan sebuah lokakarya, semiloka tentang penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di beberapa desa yang tergabung dalam Gerakan Desa Membangun. Menurut Pak Yana, gerakan ini telah diikuti sekitar 40-an desa yang ada dengan mengelola informasi, mengelola administrasi desa, dan sekaligus sebagai media yang mempromosikan desa ke ajang luar.</p>
<p>Perkenalan selanjutnya kepada Al Ghorie, penggiat TV Komunitas dari Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka,  Jawa Barat. Al Ghorie ini juga seorang penggiat aktifitas seni dan budaya di daerah Jatiwangi dengan berkecimpung di Jatiwangi Art Factory (JAF)— pada akhir desember lalu menyelenggarakan Video Village Festival 2011. Dalam perkenalannya Al Ghorie sedikit berkelakar untuk kembali ke desa, karena di kota sudah terlalu <em>riweuh</em>. Perwakilan Desa Melung, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Desa Melung merupakan daerah pinggiran yang paling ujung dari pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas, kebetulan bersama Kang Yana dari desa Mandalamekar ikut tergabung dalam Gerakan Desa Membangun, Pak Kades desa Melung ini juga memperkenalkan di desanya juga memiliki portal yang berisi informasi potensi-potensi desa dalam portal Gerakan Desa Membangun.</p>
<p>Selanjutnya, Sugianto dari SIAR  (Sistem Informasi Akar Rumput) Yogyakarta, sebuah konsorsium yang menghimpun sekitar 24 komunitas yang terdiri atas TV, radio, dan buletin komunitas yang tersebar di Yogyakarta. Dalam aktifitasnya, SIAR Yogyakarta  juga berkerjasama dengan Combine Resource Institution—sebuah lembaga pendamping yang berkedudukan di Yogyakarta. Lembaga ini fokus pada pengembangan media komunitas di setiap komunitas-komunitas penggerak media komunitas.</p>
<p>Perkenalan selanjutnya dari penggiat jurnalisme warga yang tergabung dalam Komunitas Lereng Medini dari Kediri, Jawa Timur. Dalam aktifitasnya mewadahi dan menggerakan potensi media komunikasi untuk mengawal isu-isu kebijakan publik, pertanian dan perdagangan di tiga kecamatan yang telah terjangkau oleh aktifitas jurnalisme warga yang digelutinya. Ia mengharapkan adanya sebuah terobosan baru dalam aktifitas jurnalisme warga seperti, mengintensifkan berjejaring, saling tukar informasi di antara penggiat media komunitas dan berharap adanya semacam pemanfaatan potensi media video bagi kegiatan jurnalisme warga di desanya yang berada di daerah pegunungan.</p>
<p>Kemudian perkenalan dari pengelola <em>Suarakomunitas.net</em> yang juga difasilitasi dari Combine RI Yogyakarta. Sebuah portal yang dikelola teman-teman  Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) yang terdiri dari 500 kontributor aktif yang setiap hari beritanya selalu <em>update</em>. “Semoga bisa mengalahkan <em>website</em> yang lainnya,“ harapnya.</p>
<p><em>Suarakomunitas.net</em> juga menaungi jaringan radio komunitas di Cirebon yang menjangkau kawasan Indramayu, Kuningan dan sekitarnya. Kerja jaringan ini juga telah mengadvokasi seperti kasus <em>trafficking</em>, KDRT, pemerkosaan, dan sebagainya. Tentunya permasalahan-permasalahan di tingkatan desa, seperti program Keluarga Harapan, Raskin, dan sebagainya, semuanya dilakukan oleh teman-teman penggiat radio komunitas.</p>
<p>Perkenalan selanjutnya dari penggiat radio komunitas di sebuah desa di Kabupaten Cianjur, bernama Radio Edelweiss yang di gerakkan oleh sebuah komunitas bernama Komunitas Jibreg Cisitu. “Radionya baru dua tahun berjalan, di samping itu radio ini mempunyai program <em>community development</em>, penggiatnya adalah sukarelawan yang tidak ada upah, “ akunya.</p>
<p>Mardiyah Chamim menyudahi perkenalan dari setiap elemen komunitas dengan mengatakan biar elit kita gontok-gontokan tapi di bawah bertalian dan coba membuat sesuatu di sekitarnya yang lebih konkret. Bu Mardiyah tak lupa memperkenalkan LBH Pers, di mana sebagai penggiat jurnalime warga tak perlu takut menyampaikan informasi dan mengawal kebijakan publik. Karena ada LBH Pers yang akan mengadvokasi bila dikemudian hari ada masalah-masalah yang berkaitan dengan kasus hukum yang menimpa penggiat jurnalisme warga.</p>
<p>Bu Mardiyah selanjutnya mempersilahkan narasumber untuk memaparkan seputar tema temu komunitas ini. Pada kesempatan pertama diberikan kepada Ibu Kartini yang menjelaskan apa itu lembaga Ombudsman RI, apa kewenangannya, dan apa tugas yang dikerjakan oleh lembaga Ombudsman RI. Secara garis besar, Ibu Kartini mengatakan bahwa lembaga Ombudsman RI bertugas mengawasi implementasi kebijakan publik. Lebih lanjut ia mengharapkan ingin bekerjasama dengan para penggiat media komunitas untuk dapat saling bersinergi mensosialisasi kewenangan lembaga Ombudsman RI dalam mengawasi praktik kebijakan publik yang tentunya berdampak bagi warga sendiri.</p>
<p>Lembaga Ombudsman RI sangat membutuhkan peran media, terutama peran media komunitas untuk menyoroti pelayanan publik yang seringkali dikeluhkan masyarakat. Dengan adanya media komunitas diharap dapat memberi edukasi kemana masyarakat akan mengeluh dan mengadukan seputar masalah kebijakan publik. Termasuk di dalamnya pelayanan publik akibat dari mal administrasi oleh pejabat publik misalnya, kesehatan, pendidikan, ijin usaha, dan sebagainya.</p>
<p>Mal administrasi yang dimaksud ialah tidak adanya standar pelayanan, tidak adanya transparansi dan tidak adanya informasi terbuka kepada publik. Bu Kartini mengharapkan peran aktif radio komunitas untuk men-<em>on air</em>-kan masalah-masalah yang tidak beres berkenaan pelayanan publik. Bagi warga yang merasa dilayani dengan tidak baik oleh pejabat publik untuk dapat mengadukannya kepada lembaga Ombudsman RI melalui <em>SMS</em>, <em>e-Mail</em>, dan menulis surat untuk segera ditindaklanjuti laporan-laporan masyarakat. Karena lembaga Ombudsman mempunyai kewenangan dalam mengawasi, menegur, menginvestigasi, sampai dengan merekomendasi.</p>
<p>Selanjutnya, narasumber berikutnya adalah  Pepi Nugraha, pengelola Kompasiana. Dalam paparannya Pepi menceritakan bahwa kehadiran Kompasiana tiga tahun yang lalu adalah sebuah keniscayaan. Pada hematnya ia menyebutkan, media tidak hanya dibikin oleh jurnalisme profesional melainkan juga oleh warga sendiri. Dalam sehari, tambah Pepi, sangat fantastis tak kurang sekitar 300 artikel yang termuat di Kompasiana bahkan hampir mencapai 1000 artikel per harinya. Begitupun pembacanya tak kurang hampir 8 juta orang per bulan yang membaca kanal Kompasiana.</p>
<p>Dalam perkembangannya, masing-masing kontributor di Kompasiana membentuk komunitas-komunitasnya sendiri misalnya komunitas sastra. Pepi, dengan mantap mengatakan artikel yang ditulis di Kompasiana ternyata paling banyak dibaca. “Warga punya cerita, warga punya berita,” begitu imbuhnya.  Pepi mengilustrasikan berita seputar kunjungan anggota DPR di Australia yang sempat heboh di media massa karena asal mencatut alamat <em>email</em> palsu. Begitu juga artikel mengenai kasus Indomie di Taiwan yang pada akhirnya menjadi pemberitaan besar di media <em>mainstream</em>.</p>
<div id="attachment_10087" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10087" title="(4)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Pepi-Nugraha-Pengelola-Kom.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Pepi Nugraha, Pengelola Kompasiana</p>
</div>
<p>Paparan selanjutnya datang dari Ignatius Haryanto, seorang pengamat media dari Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP). Mas Hery, sapaan akrabnya, mengutarakan bahwa ia pernah mempunyai pengalaman meneliti radio komunitas di empat provinsi. Menurutnya, alasan keberadaan radio komunitas adalah betapa kedekatan dengan warga dan mendatangkan manfaat. Lebih lanjut, Mas Hery mengatakan, tantangannya apakah berita jurnalisme warga bisa dipercaya? Lalu bagaimana pengakuan dan penerimaan masyarakat itu sendiri terhadap geliat jurnalisme warga?</p>
<p>Ignatius Heryanto, mengajak kepada hadirin untuk sama-sama berpikir, kira-kira apa saja tantangan dan langkah-langkah preventif yang harus dilakukan jurnalisme warga kedepannya. Diharapkan media komunitas mendapat pengakuan dan penghargaan serta simpati dari masyarakat juga dapat disegani oleh pemerintah-pemerintah di daerah. Vivi Alatas, perempuan berjilbab ini memaparkan agenda Bank Dunia untuk ambil bagian dalam program-program mengentasan kemiskinan, di mana dahulu Bank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah. Akan tetapi, saat ini juga melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan termasuk di dalamnya pengembangan media komunitas sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Dalam kesempatan ini Ibu Vivi melemparkan sebuah pertanyaan untuk didiskusikan kepada hadirin yakni, pengalaman-pengalaman dalam berjurnalisme warga.</p>
<p>Setelah narasumber memaparkan pengantarnya untuk didiskusikan, Ibu Mardiyah Chamim menjelaskan sedikit tentang signifikansi Jurnalisme Warga dan Suara Komunitas, untuk selanjutnya diskusi pun dimulai. Beberapa hadirin memaparkan pengalaman-pengalamannya seputar menggiatkan jurnalisme warga di daerahnya masing-masing. Termasuk Kang Yana dan Al Ghorie sendiri memberikan pengalamannya dalam menggerakkan media komunitas. Dalam forum ini, nama Kang Yana sudah begitu familiar di kalangan penggiat komunitas. Beberapa kali, baik pembawa acara, narasumber dan di antara teman-teman penggiat jurnalisme warga menyebutkan namanya sebagai seorang yang benar-benar <em>survive</em> menggerakkan media komunitas.</p>
<p>Kang Yana memaparkan tujuan dibentuknya Gerakan Desa Membangun ialah adanya kemandirian teknologi informasi komunikasi (TIK) berbasis teknologi <em>Open Source</em> dan kemandirian desa dari ketergantungan kepada pihak luar, termasuk kepada pemerintah.</p>
<p>Gerakan Desa Membangun disosialisasikan dari desa ke desa agar masyarakat desa melek teknologi. Sosialisasi dilakukan dengan mengadakan semiloka-semiloka di tiap-tiap tingkatan desa dengan biaya swadaya. Kang Yana dalam kesempatan ini menginformasikan kepada hadirin bahwa pada awal Juni mendatang akan diselenggarakan Festival Jawa Selatan (Jadulfest)—sebuah kegiatan untuk mewujudkan Gerakan Desa Membangun dengan mengadakan seminar-seminar, semiloka-semiloka membahas tentang desa dan juga diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian rakyat dari berbagai desa peserta.</p>
<p>Gagasan Gerakan Desa Membangun dilatarbelakangi pembahasan tentang desa yang dibicarakan di kota-kota. Sebagian besar para pesertanya bukan pelaku di tingkat desa, sehingga orang-orang desa hanya sedikit bisa menyerap informasi dari hasil seminar yang diadakan tersebut. Atas dasar itulah tercetus ide Gerakan Desa Membangun yang diharap hasilnya berupa kemandirian desa di berbagai sektor seperti, kemandirian teknologi Informasi Komunikasi (TIK), kemandirian pangan dan kemandirian energi untuk tidak selalu bergantung kepada pihak lainnya.</p>
<div id="attachment_10088" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10088" title="(5)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Yana-Noviadi-memberikan-pen.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Yana Noviadi memberikan pengalamannya dalam bermedia di Desa Mandalamekar</p>
</div>
<p>Pemaparan selanjutnya oleh Al-Ghorie—seorang penggiat media komunitas di Jatiwangi, Majalengka. Al-Ghorie menjelaskan adanya program TV Komunitas adalah ‘hadiah’ dari acara Village Video Festival yang diselenggarakan pada akhir Desember 2011 lalu. Dalam Village Video Festival tersebut ada program TV Program. Program TV Komunitas ini diawali karena ada seseorang warga yang berbaik hati membuat semacam pemancar televisi di minggu kedua penyelenggaraan festival. Nah dari situlah, festival ini dibikin dengan cara lain, artinya tidak di <em>screening</em> di Balai Desa melainkan bisa dinikmati dari kamar tidur, tinggal melihat di televisi dari rumah masing-masing.</p>
<p>Al-Ghorie juga menjelaskan dampak dari adanya TV Komunitas di desanya terhadap perilaku warga, ceritanya begini, “Katanya,  masih banyak warga desa yang <em>dolbon</em>—<em>modol</em> di kebon atau buang air besar di kebun. Kita bikin video tentang <em>dolbon</em>. Kebetulan ada rekan-rekan dari SERRUM yang juga membantu, nama program TV-nya <em>How To Bikin WC Yang Sederhana Dengan Modal Rp. 200.000, </em>hasilnya setelah diputar dan disiarkan mengurangi terjadinya aktifitas <em>dolbon</em>,” imbuhnya.</p>
<p>Tukar menukar pengalaman masing-masing di antara penggiat jurnalisme warga memberikan sebuah wahana pemahaman sejauh mana posisi media komunitas dalam menghadapi tantangannya ke depan. Dan agenda apa saja yang dapat memperkuat posisi penggiat media komunitas, serta sejauh mana media komunitas berkontribusi bagi penyalur aspirasi warga. Dan terpenting dari keberadaan media komunitas adalah kekuatan untuk berjejaring, karena dengan berjejaring dapat memberikan amunisi untuk terus secara bersama-sama menyuarakan aspirasi warga yang berasal dari warga sendiri dan kemandirian untuk tidak tergantung, baik kepada pemerintah maupun korporasi.</p>
<p>Tukar pengalaman di antara pelaku media komunitas dalam forum temu komunitas berakhir dengan secercah harapan untuk siap siaga menghadapi tantangan kedepan. Tentunya geliat agenda yang menanti segera dilaksanakan dengan penuh semangat. Dalam kesempatan ini aku ngobrol dengan  tiga orang yang bisa dilihat dari kiprahnya bermedia. Yang pertama Pepi Nugraha—pengelola  Kompasiana, kedua Yana Noviadi—Kepala Desa Mandalamekar sekaligus penyiar Radio Ruyuk FM Desa Mandalamekar, dan terakhir Al Ghorie—penggiat media komunitas di Jatiwangi Art Factory.</p>
<div id="attachment_10089" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10089" title="(6)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Selepas-acara-Temu-Komunita.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Selepas acara Temu Komunitas</p>
</div>
<p>Pepi Nugraha, menuturkan keberadaan Kompasiana didasari oleh sebuah keniscayaan, karena di dunia luar <em>(luar negeri-red)</em> sudah tumbuh mewadah dalam sebuah media <em>blog</em>. Mereka dapat bersuara atas persoalan di lingkungannya dan melaporkannya. Terbukti bahwa kegairahan masyarakat menulis jauh melebihi kegairahan wartawan sendiri dalam menulis dibandingkan dengan penulis-penulis di Kompasiana. Misalnya, untuk saat ini di <em>Kompas.com</em> baru bisa menghasilkan 350-an berita per hari tetapi di Kompasiana bisa mencapai 800-1000 berita per hari. Ini menunjukkan kegairahan warga menulis sangat luar biasa. Mengenai pembaca dapat terlihat di ranking Alexa, Kompasiana berada di ranking teratas portal berita tertinggi di Indonesia. Kita boleh berbangga diri bahwa Kompasiana adalah <em>social blog</em> terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara bahkan di dunia. Karena Kompasiana bisa mengalahkan <em>OhMyNews.com</em> dari Korea Selatan, dan <em>NowPublic.com</em> dari Amerika Utara.</p>
<p>Awal berdirinya Kompasiana adalah me-<em>rebranding</em> untuk belajar dan melihat dari portal-portal tersebut. Dalam hal ini aspirasi yang tertulis di <em>blog</em> Kompasiana berdampak pada penerimaan publik dan bahkan pemerintah. Posisi Kompasiana, lanjut Pepi, dapat mengatasi monopoli informasi dari segelintir elit. Karena Kompasiana terdiri dari beragam kelompok, artinya terlepas dari kepentingan politik elit. Dengan kehadiran Kompasiana justru dapat mengatasi hegemoni atas monopoli informasi yang dilakukan oleh elit media.</p>
<p>Di Kompasiana, Pepi menjelaskan, bahwasanya dalam sehari ada sekitar 800-1000 tulisan per hari.  Sedangkan pembacanya sendiri sekitar 7- 8 juta per bulan dan dalam sehari ada sekitar 300 ribu pembaca yang membuka portal Kompasiana. Pepi menambahkan, di Kompasiana pastinya mendatangkan benefit seperti pengiklan dan itu adalah sah-sah saja karena untuk menghidupi Kompasiana. Lagipula Kompasiana sama sekali tidak mengutip apapun dari warga. Benefit tersebut dialokasikan seperti untuk menyewa <em>bandwitch</em> yang mahal, sekitar dua ratus juta rupiah per tahun. “<em>Nah</em>, karena itulah pihak kami mencari <em>vendor</em> untuk memasang iklan di Kompasiana. Namun yang patut disimak, kami tidak mencari uang banyak atau <em>profit oriented</em> di Kompasiana. Melainkan hanya untuk <em>maintenance</em> portal Kompasiana.”</p>
<p>Setelah aku berbincang dengan Pepi Nugraha, orang yang akan kusambangi selanjutnya adalah  Kang Yana Noviadi, yang begitu terkenal namanya dikalangan penggiat jurnalisme warga. Namun beliau sedang bercengkerama dan melayani salam sapa dari orang-orang yang mengerubunginya. <em>Wah,</em> rasanya Kang Yana bak seorang pesohor, di mana orang-orang sangat <em>appreciated</em> dan kagum pada sosoknya—maaf kalau ini berlebihan, tapi itulah kenyataannya yang aku lihat dan karena sabar menunggu. Secara tak terduga aku menghampirinya dan dia rupanya mengenaliku, mungkin bukan karena mengenali wajahku melainkan aku memperkenalkan diri bahwa aku yang <em>mention</em> di twitternya untuk bisa ketemu, dan diapun tersenyum lebar dan tertawa kecil. Oh ini rupa orangnya, mungkin dalam hatinya begitu, dugaku.</p>
<p>Langsung saja, aku bersamanya menuju ke teras depan lobby Museum Nasional. Sambil duduk kami pun memulai percakapan. Dia begitu supel, dan aku pun memanggilnya dengan sebutan Kang Yana, dia pun mempersilahkannya.</p>
<p>Percakapan kami dimulai dengan bagaimana informasi dapat diterima dan diserap masyarakat. Kang Yana mengawali, jika informasi tidak terserap dengan baik di masyarakat perkotaan bagaimana dengan yang di desa. Di Jakarta saja yang sudah ada kelengkapan infrastrukturnya masih ada informasi yang tidak terserap, apalagi kalau di desa. Kang  Yana menceritakan awal mula adanya terobosan menggunakan teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di desanya yang terasa tak mungkin karena berada di desa tertinggal.</p>
<p>Desa yang tertinggal dari akses infrastruktur jalan, untuk menempuh desa Mandalamekar diperlukan jarak tempuh  30 km dari pusat Kota Tasikmalaya, begitupun dengan akses internet yang sulit ditangkap. Di tahun 2009 mulai merintis <em>blog </em>di<em> wordpress.com</em>, mengirim berita <em>via email</em> dan juga kita tidak paham tentang <em>email. </em>Saat itu, warga Mandalamekar yang tahu mengelola <em>blog</em> dan <em>email </em>tinggal di Papua.<em> </em>Dialah yang mengembangkan blog.</p>
<p>“Di tahun 2007, karena infrastruktur jelek, saya membuat radio komunitas agar informasi cepat sampai di masyarakat. Radio komunitasnya bernama Radio Ruyuk FM. Penamaaan Ruyuk pada Radio Ruyuk FM dapat diartikan semak belukar, sesuai dengan tipografi Desa Mandalamekar. Awal berdirinya Radio Ruyuk FM mempunya visi menggerakkan konservasi alam. Program konservasi alam ini dilakukan secara mandiri tanpa adanya pembinaan dari siapapun, &#8220;Yang penting kita bergerak,“ akunya.</p>
<p>Percakapan kami pun berlangsung seru, di mana Kang Yana menceritakan apa-apa saja yang telah dicapai Desa Mandalamekar sejak menerapkan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK). Program penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (YIK) yang dicanangkan di Desa Mandalamekar adalah program Mandalamekar <em>Goes Open Source</em> (MGOS). Aplikasi teknologi <em>Open Source</em> ini dikembangkan oleh tim MGOS yang kebetulan pemuda Desa Mandalamekar. Dengan pendampingan dari aktivis Infes dan Jogja Goes Open Source (JGOS), aplikasi sistem operasi dikembangkan oleh Desa Mandalamekar bernama Gethux Siga Ruyuk 1.0. Nama tersebut bisa diartikan meraih kemerdekaan ala masyarakat belukar atau kampung. Harapannya dengan aplikasi ini dapat  menjadikan Bahasa Sunda sebagai bahasa <em>computer</em>. Sehingga diharapkan banyak warga yang semakin melek media dan teknologi Informasi Komunikasi (TIK).</p>
<p>Pengembangan sistem operasi Gethux Siga Ruyuk 1.0 diadopsi dari keberhasilan Desa Melung, di Banyumas yang juga rekan sesama Desa Mandalamekar dalam menggagas Gerakan Desa Membangun, di mana Desa Melung telah berhasil menciptakan aplikasi sistem operasi pengembangan <em>Open Source</em> Gethux berbahasa Banyumas-an. <em>Wah</em>, aku semakin tertarik dengar cerita Kang Yana, apalagi dengan keterbatasan yang ada di desanya tak menyurutkan langkahnya untuk memajukan desa.</p>
<p>Awalnya bukan perkara mudah untuk berkenalan dengan teknologi informasi karena menurutnya sekitar 2-3 tahun yang lalu masih banyak warga desa yang belum mengerti teknologi ICT. Dan berita-berita untuk dimuat di <em>blog</em> desa dikirim <em>via email</em> ke <em>admin</em> yang berdomisili di Papua. <em>Nah</em>, aku penasaran, <em>lah kan</em> di desa saja sulit mengakses internet, juga belum banyak warga yang mengerti, lalu bagaimana keefektifitasan dan manfaat <em>blog</em> tersebut bagi warga.</p>
<p>Kang Yana dengan gamblang mengatakan, “Bahwasanya karena keterbatasan infrastruktur <em>internet</em>, Radio Ruyuk FM-lah yang menjadi tumpuan informasi bagi warga”. Lebih lanjut Kang Yana, mengemukakan, informasi yang disalurkan ke Radio Ruyuk FM sekaligus sebagai ajang promosi desa ke pihak luar. Radio Ruyuk FM yang digawangi oleh Kang Yana ini biasanya menginformasikan pemerintahan, kebijakan publik, informasi pajak, PNPM Mandiri, pertanian, konservasi alam dan pelestarian budaya. Program berbahasa Sunda, merupakan program unggulan di Radio Ruyuk FM, karena banyak diminati warga Mandalamekar. Lagipula saat ini fasilitas <em>internet</em> sudah dapat terjangkau di Desa Mandalamekar, di mana sebelumnya, 2-3 tahun lalu harus bersusah payah ke kota untuk mengakses<em> internet</em>. Kini tinggal mencari sinyal di sawah dengan menggunakan <em>laptop</em> beserta modem <em>internet</em> sudah dapat terkoneksi.</p>
<div id="attachment_10090" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10090" title="(7)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Penulis-bersama-Kepala-Desa.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Aku bersama Kepala Desa Mandalamekar yang juga penyiar Radio Ruyuk FM, Yana Noviadi</p>
</div>
<p>Mendengar itu, aku teringat dengan cerita di film karya sutradara Iran, Abbas Kiarostami. Dalam filmnya Abbas menceritakan seputar dampak teknologi bagi masyarakat pedesaan di Iran. Bagaimana masyarakat berkenalan, mengoperasikannya dan tentunya mendefinisikan teknologi sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.  Contohnya yang sesuai dengan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi komunikasi adalah mencari tempat yang bagus mencari sinyal. Kalau di Desa Mandalamekar, tempat favoritnya adalah sawah, sedangkan di film karya Abbas Kiarostami yang berjudul <em>The Wind Will Carry Us</em> adalah perbukitan nan tinggi.</p>
<p>Maklum, film itu dibuat tatkala dunia secara global pada akhir tahun 1990-an jelang tahun 2000 mengalami globalisasi telekomunikasi melalui telepon selular. Hadirnya telepon selular adalah barang baru, apalagi adanya keterbatasan infrastruktur telekomunikasi ketika itu. <em>Nah</em>, melalui terobosannya ini Kang Yana berhasil dan menuai virus di desa-desa lainnya, di mana Kang Yana saat ini aktif sekali menjadi agen penggerak perubahan terutama bagi penerapan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) berbasis <em>Open Source</em>. Dengan penuh semangat dan senyum keramahannya Kang Yana juga menceritakan kepada aku tentang keberhasilannya membangun Sistem Informasi Desa (SID) yang kini jadi proyek percontohan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya.</p>
<p>Mengenai program ini Kang Yana mengatakan, “Asalnya dari akar rumput, yakni dari warga Desa Mandalamekar sendiri. Artinya bersifat <em>bottom-up</em>. Sudah saatnya kita berinisiatif tanpa harus menunggu perintah dari atas, bisa saja perintah dari atas tersebut tak sejalan dan bahkan bertentangan dengan kebutuhan warga.”</p>
<p>Hal yang menarik dari Kang Yana adalah idenya tentang bagaimana membangun kapasitas desa. Maka dari itu, ia mencetuskan Gerakan Desa Membangun,  “<em>Nah,</em> mungkin artinya lain kalau redaksinya dibalik ,semisal Gerakan Membangun Desa.” Aku kira inilah yang dimaksud Kang Yana tentang kemandirian desa untuk tidak bergantung ke atas. <em>Yah</em>, logika <em>bottom &#8211; up</em> tadi jawabannya. Kalau membangun desa bisa diartikan, desa hanya jadi obyek pembangunan yang digariskan oleh pemerintah di atasnya, maka Gerakan Desa Membangun bisa diartikan posisi desa menjadi subyek pembangunan di mana kemandirian desa untuk mampu membangun kapasitas diri sendiri tanpa harus memiliki ketergantungan kepada orang lain.</p>
<p>Obrolan-obrolan kami berdua semakin seru saja, banyak hal baru yang aku ketahui dan itu sangat menggugah. Betapa hebatnya kerja kolaboratif yang dilakukan Kang Yana untuk menghimpun beberapa desa dalam Gerakan Desa Membangun. Tak kurang ada sekitar 100-an desa yang bersebar di wilayah selatan Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta) berpartisipasi dalam Gerakan Desa Membangun. Kang Yana dengan lugas menyatakan bahwasanya Gerakan Desa Membangun adalah sebuah semangat untuk berkembang. Karena desa memiliki potensi dan kemampuan untuk berdaya.</p>
<p>Gerakan ini bisa dilihat sebagai inisiatif dalam rangka cetak biru Visi Desa Mandiri 2025 yang dicanangkan Pemerintah Pusat dan Kang Yana sudah bertindak <em>step by step</em> dalam mewujudkan cetak biru tersebut. Selain itu, gerakan ini kiranya dapat meminimalisir jargon-jargon politik para politikus, karena saya adalah kepala desa yang dipilih masyarakat, bukan seorang politikus, “ tegas Kang Yana.</p>
<p>Dalam program Gerakan Desa Membangun, berisi beberapa program di antaranya adalah kemandirian teknologi informasi komunikasi (TIK) dengan berbasis sistem teknologi <em>Open Source</em>. Kemandirian pangan, dan kemandirian energi. Dalam dua bulan mendatang, tepatnya awal bulan Juni, dari tanggal 2-5 Juni 2012 di desa Mandalamekar akan diselenggarakan Festival Jawa Selatan (Jadulfest).</p>
<p>Festival ini didukung dan diramaikan dari berbagai perwakilan desa-desa seantero pesisir selatan Jawa. Kegiatan yang berlangsung akan diisi dengan program seminar, semiloka, lokakarya, pertukaran informasi di antara masing-masing desa. Membangun kerjasama dan jejaring antar desa, menyikapi pembangunan infrastruktur desa, pertukaran komoditas desa seperti hasil-hasil pertanian, perikanan dan peternakan, juga komoditi unggulan lainnya seperti, <em>home industry</em>. Dengan adanya pertukaran informasi dan komoditi diharapkan bisa menciptakan geliat perekonomian di desa.</p>
<p>Begitupun dengan pemanfaatan teknologi ICT <em>(Information Communication Technology, </em> terutama bagi penerapan Sistem Informasi Desa (SID). Menurut Kang Yana, dengan adanya SID ini diharapkan tidak lagi manual sehingga dapat mengirit kertas. Ketika informasi bejalan lebih cepat, ini berdampak pada implementasi KIP <em>(</em>Keterbukaan Informasi Publik<em>-red). “</em>Prinsipnya adalah transparansi dalam pemerintahan desa,” aku Kang Yana.</p>
<p><em>Wah-wah</em>, Kang Yana memang super deh, aku benar-benar kagum sama daya energi beliau. Bayangkan di tengah keterbatasan infrastruktur, Kang Yana membuktikan, justru dengan keterbatasan dan ketertinggalan yang ada menjadikan sebuah aset, begitu Kang Yana menyebutnya dan atas keterbatasan itu tadi saat ini apa yang dilakukan oleh Kang Yana. Aku kira sudah melampaui capaian-capaian yang mungkin di luar perkiraannya, terbukti Kang Yana mendapatkan sebuah <em>achievement awards</em> dari Seacology—sebuah lembaga dari Amerika Serikat atas totalitas membangun desanya sendiri. Ia juga mendapat hadiah sebesar 10 ribu dollar AS untuk pengembangan desa. Tak berhenti di desanya saja, Kang Yana juga menyebarkan virusnya ke desa-desa lain, sehingga terciptakan sebuah gerakan masif yang aku kira sangat berdampak bagi masa depan desa di Indonesia dengan kekuatannya sendiri yang dapat menunjukkan bahwa desa mampu membangun dirinya sendiri. Baiklah aku sudahi dulu cerita tentang geliat Kang Yana.</p>
<p>Aku pun tak ketinggalan untuk mengobrol lebih jauh kepada seorang anak muda yang juga tak kalah hebatnya, namanya Arie Syarifuddin, dia dikenal dengan nama Al-Ghorie. Entahlah kenapa begitu, aku pun baru tahu kalau nama sebenarnya demikian dan tak ambil pusing sejarah nama Al-Ghorie yang disandangnya. Ia menceritakan kepadaku pengalaman bermedia di daerahnya, Desa Jatiwaras, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka Jawa Barat.</p>
<p>Bermula dari penyelenggaraan Village Video Festival 2011 pada tanggal 18-31 Desember 2011, Al-Ghorie dan kawan-kawan menyelipkan satu program, namanya TV Program. Program ini bermula secara tidak sengaja dari salah seorang warga desa yang membuat stasiun pemancar televisi yang bisa dijangkau siarannya ke beberapa desa tetangga dengan radius 2 km. Akhirnya berangkat dari situ, dibuatlah sebuah program televisi yang mempunyai kelanjutan dari Festival ini.</p>
<p>Pada perhelatan itu, sekaligus diluncurkan secara perdana Jatiwangi Art Factory Televisi (JAFTV). Al Ghorie memberikan contoh seperti program <em>How To</em>. Program ini difasilitasi oleh SERRUM, sebuah program edukasi bagaimana cara membuat sesuatu. <em>Nah</em>, Al Ghorie menceritakan kepada aku tentang salah satu video yang dibuat yakni <em>How To Bikin WC Yang Sederhana</em>. Dalam video ini diceritakan tentang <em>dolbon—modol di kebon,</em> yang artinya buang air besar di kebun. Video yang dibuat ini ternyata efektif merubah perilaku warga yang biasa buang air besar di kebun dan beralih ke WC yang dibuat secara sederhana dan ramah lingkungan. Program-program JAFTV juga efektif dalam mensosialisasikan pembuatan e-KTP, liputan Rakor (Rapat Koordinasi) Camat Jatiwangi.</p>
<p>Menurut Al Ghorie informasi yang disampaikan sangat efektif diterima warga, juga Pak Kapolsek tidak ketinggalan untuk <em>mejeng</em> di televisi dengan membuat video penanaman pohon dari lahan yang menganggur. Televisi yang jam siarnya mulai beroperasi pada pukul 10.00 -12.00 WIB, pukul 15.00-18.00 WIB dan malam hari pukul 19.00-22.00 WIB ini masih memiliki stok materi siaran yang terbatas dan sering diulang-ulang dalam menyiarkannya. Namun kedepannya selama kurang lebih tiga bulan beroperasi, JAFTV berupaya membenahi program-programnya. “Perlu digarisbawahi, yang penting ada kemauan warga bikin program ,” tandas Al-Ghorie.</p>
<p>JAFTV sendiri mempunyai <em>tageline</em>, <em>Pareuman Bae</em>, artinya Matikan Saja. <em>Tageline</em> ini adalah sebuah kampanye penyadaran ke warga agar mematikan televisi, “<em>Ha..ha..</em> kita sebagai stasiun TV tapi nyuruh penonton <em>matiin</em> TV,“ tawa Al Ghorie.  Kedepannya JAFTV akan menayangkan perhelatan ulang tahun Desa Jatisura ke-100 pada tanggal 4-5 Mei 2012, Jatiwangi Residency Festival pada bulan Juni 2012. Kemudian di bulan November 2012, Jatiwangi ada penyelenggaraan <em>Ceramic Music Festival</em>, dan tentunya disiarkan oleh JAFTV,“ Al Ghorie menutup percakapan.</p>
<div id="attachment_10086" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10086" title="(3)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Arie-Syarifuddin-a.k.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Arie Syarifuddin a.k.a Al-Ghorie memberikan pengalamannya dalam program JAFTV</p>
</div>
<p>Ya, bagiku pada perhelatan Festival Jurnalisme warga adalah hari yang sangat berkesan. Aku berkenalan dengan orang-orang baru dan pengalaman-pengalaman baru dari para penggiat media komunitas. Penting artinya, di sini bukan hanya untukku saja melainkan bagi proses demokratisasi bermedia di Indonesia. Semangat independen, mandiri, dan progresif ini semakin teraksentuasi tatkala di antara para penggiat berkolaborasi dan membentuk sebuah jejaring, bak sebuah <em>nebula</em> yang merangkai di antara kepingan-kepingan <em>mikrokosmos</em> untuk menjadi besar dan kuat. Ya, Indonesia adalah negeri yang dianugerahi alamnya nan elok bak zamrud khatulistiwa, ternyata masih menyimpan potensi kreatif yang berlimpah dari warga negaranya. Potensi kreatif inilah yang dioptimalisasikan oleh sebagian para penggiat media komunitas untuk <em>Do Something</em> kepada siapapun juga.</p>
<p>Terlepas dari kepentingan anasir-anasir politik yang semakin reduksionistis, institusionalis dan proseduralistis, temu komunitas dari para penggiat media komunitas adalah semacam gerakan <em>snow ball</em> yang digelindingkan oleh Kang Yana Noviadi, dan yang lainnya untuk menjadi bola yang besar. Sehingga berdampak bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat. Di tengah kacau balaunya elit politik negeri ini, ditambah buruknya kualitas tayangan televisi, penguasaan opini publik oleh media <em>mainstream</em> yang berselingkuh dengan kepentingan elit politik tidak hanya memperburuk kualitas informasi yang disajikan. Melainkan semakin men<em>devaluasi</em> nilai-nilai demokrasi dan mengkerdilkan pemaknaan politik itu sendiri.</p>
<p>Politik telah dimaknai sesempit pandangan elit yang hanya berkutat pada aspek instrumental prosedural semata. Tak hanya elit politik saja, media arus utama juga bertanggung jawab atas distorsi pemaknaan politik, begitupun dengan cendekiawan dan akademisi yang cuma berkutat di menara gading teori dan senyapnya ruang akademik.  Namun dalam konteks ini, apa yang dilakukan oleh sebagian warga  yang bergeliat di lapangan inovasi sosial <em>(social innovation realm)</em>, politik dimaknai untuk kemaslahatan bersama, hidup bersama dan mencapai kesejahteraan bersama. Pengalaman-pengalaman para penggiat media komunitas di lapangan patut mendapat apresiasi yang mendalam. Karena informasi di <em>deliver</em> sebagaimana mestinya, tanpa tendensi ekonomi-politik yang sempit melainkan mengabdi untuk kepentingan publik—kepentingan warga. Dan aku pun turut merasa terharu atas kontribusi dan energi kreatif para penggiat media komunitas. Tabik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/festival-jurnalisme-warga-temu-komunitas-bertukar-gagas-berjejaring-dan-do-something/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertemuanku Dengan Mang Omay</title>
		<link>http://akumassa.org/program/padang-panjang-sumatera-barat/pertemuanku-dengan-mang-omay/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/padang-panjang-sumatera-barat/pertemuanku-dengan-mang-omay/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 14:14:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Chandra Zefry Airlangga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Padangpanjang, Sumatera Barat]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=10072</guid>
		<description><![CDATA[Di sela-sela pemutaran yang diadakan Komunitas Sarueh, saya bertemu dengan salah satu tukang kebun di INS Kayutanam yang sedang asyik menonton film, duduk di luar Gedung Abdul Latif. Bekerja kurang lebih baru sebulan, Mang Omay sebelumnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10073" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10073" title="(1)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Mang-Omay-kiri-tukang-kebun-di-INS-Kayutanam.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Mang Omay (kiri) tukang kebun di INS Kayutanam</p>
</div>
<p>Di sela-sela pemutaran yang diadakan Komunitas Sarueh, saya bertemu dengan salah satu tukang kebun di INS Kayutanam yang sedang asyik menonton film, duduk di luar Gedung Abdul Latif. Bekerja kurang lebih baru sebulan, Mang Omay sebelumnya bekerja di Lampung. Sekitar empat tahun lamanya, sejak tahun 2008 sampai 2011 sebagai tukang kebun sayur.</p>
<p><span id="more-10072"></span></p>
<p>Selama kurang lebih enam bulan Mang Omay pulang ke Bandung. Kemudian dipanggil lagi untuk bekerja di INS Kayutanam, sebagai tukang kebun. Bersama istrinya bernama Ipah dan salah satu anak perempuannya yang sekitar berumur lima tahun ketika dia bawa ke Kayutanam. Mereka tinggal di salah satu bangunan di lingkungan Kayutanam. Satu anak laki-lakinya ditinggal di Bandung, karena masih sekolah di tingkat SMP.</p>
<p>Saya temui Mang Omay di sela-sela pemutaran. Ia sedang duduk di luar gedung bersama anak perempuanya. Hal ini mengundang perhatian saya. Saya sempat tertawa ketika menanyakan nama anak perempuannya. Karena dia menjawab dengan logat Sunda, “Depi, Bang.”</p>
<div id="attachment_10074" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-10074" title="(2)" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/04/Defi-Omay-dan-Angga.jpg" alt="" width="565" height="377" />
<p class="wp-caption-text">Defi, Omay dan Angga</p>
</div>
<p>Saya jadi ingat dengan adik perempuan saya yang agak tersinggung ketika di panggil ‘Perli’ oleh teman-temannya, padahal namanya Ferly. Menggunakan huruf ‘F’ bukan ‘P’. Mungkin ada kesulitan menyebutkan huruf ‘F’ atau ‘V’, sehingga menjadi ‘P’ buat orang-orang yang  biasa berbahasa Sunda (karena tidak ada konsonan ‘F’ atau ‘V’ dalam Bahasa Sunda-<em>red</em>). Sayapun terkadang juga agak kesulitan menyebut kata-kata yang menggunakan huruf ‘F’ atau ‘V’ dalam berdialog dengan teman-teman saya. Karena memang bahasa ibu saya adalah Bahasa Sunda.</p>
<p>Kembali lagi tentang Mang Omay, beliau juga agak kurang terima jika dipanggil dengan sebutan ‘Mas’. Ia menjelaskan kepada saya, “Panggil <em>aja </em>‘Mang’, Jangan ‘Mas’, karena ‘Mas’ itu panggilan untuk orang Jawa. Saya tahu kebiasaan orang-orang di sini, memanggil penduduk yang berasal dari Pulau Jawa dengan sebutan Jawa semua. Padahal sebetulnya ada juga orang Sunda.”</p>
<p>Mang Omay juga sempat bercerita tentang pengalamannya menonton film layar tancap di Bandung. Katanya acara malam ini mengingatkannya pada waktu muda dulu. Tapi bedanya dengan dulu, kalau ingin<em> </em>menonton film layar tancap harus bayar Rp 3.000, karena sekeliling lapangan diberi batas dan ditutup. “Jadi harus bayar kalau <em>pengen </em>nonton,” katanya.</p>
<p>Tidak seperti sekarang, dulu yang dia tonton selain Film Benyamin S, Mang Omay juga pernah menonton film-film yang dibintangi Adven Bangun, Warkop DKI dan masih banyak lagi. Mang Omay juga merasa bingung karena mengetahui acara pemutaran kali ini gratis, tidak seperti dulu. Tapi dia sangat senang dengan acara tersebut. Pembicaraan saya dengan Mang Omay tidak begitu lama. Karena film <em>Raja Copet</em> yang dibintangi Benyamin S sudah akan berakhir. Sehingga saya pun masuk kembali kedalam Aula.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/padang-panjang-sumatera-barat/pertemuanku-dengan-mang-omay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

