<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>( akumassa )</title>
	<atom:link href="http://akumassa.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akumassa.org</link>
	<description>jurnal tentang aku dan orang-orang sekitar</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 17:25:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari Ketiga</title>
		<link>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-ketiga/</link>
		<comments>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manshur Zikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8838</guid>
		<description><![CDATA[Dingin bukan lagi masalah, aku sudah beradaptasi dengan udara Cisarua, Bogor. Begitu juga dengan kawan-kawan pelatihan pemantauan media yang lain. Mereka tampak semangat meskipun masih mengantuk sambil menikmati sajian sarapan pagi di ruang makan yang sudah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dingin bukan lagi masalah, aku sudah beradaptasi dengan udara Cisarua, Bogor. Begitu juga dengan kawan-kawan pelatihan pemantauan media yang lain. Mereka tampak semangat meskipun masih mengantuk sambil menikmati sajian sarapan pagi di ruang makan yang sudah disediakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Perut sudah terisi, kami pun berkumpul di ruang diskusi, karena pembicara pada hari itu ternyata sudah siap sejak pagi. Menurut cerita Ageung, temanku yang ikut serta hadir dalam kegiatan pelatihan pemantauan ini, pembicaranya sudah datang sejak pukul enam pagi.</p>
<div id="attachment_8839" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8839" title="(1) Pelatihan Pemantauan Media Hari Ketiga" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Para-peserta-menyimak-materi-dari-Imam-Shofwan1.jpg" alt="" width="565" height="300" /><p class="wp-caption-text">Para peserta menyimak materi dari Imam Shofwan</p></div>
<p style="text-align: justify;">“Tugas utama media massa adalah kepada warga!” begitulah salah satu seruan yang berkali-kali diucapkan oleh Imam Shofwan, yang menjadi pemberi materi tentang Pemantauan Media, pada pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas di hari ketiga, 4 Februari 2012. Direktur Eksekutif Yayasan Pantau ini memberi kami pemahaman seputar aktifitas memantau media. Ia memberikan kami makalah berjudul ‘Gembrot Informasi’. Dari situ kami mengetahui peta konglomerasi media yang memiliki hubungan dengan pandangan politik tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bung Imam juga menjelaskan tentang istilah ‘gembrot informasi’ tersebut, yaitu sebuah istilah yang terinspirasi dari buku Bill Kovach dan Tom Rosentiel, <em>Blur, </em>tentang suatu situasi dan kondisi aktivitas bermedia sekarang ini. Menurut mereka, situasi yang dimaksud adalah melimpahnya pesan-pesan dan informasi yang termuat di media massa untuk masyarakat, akan tetapi informasi tersebut belumlah tentu merupakan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Misalkan, seperti yang diterangkan oleh Bung Imam, kampanye terselubung yang ada di balik berita dan keinginan redaksi untuk menaikan oplah dengan membuat berita sensasi. Menurutnya, pengaruh intervensi politik terhadap media dan pengejaran oplah sebanyak-banyaknya yang membuat fenomena seperti ini kerap terjadi. “Oleh karena itu kita harus kritis dalam melakukan kegiatan membaca sebuah berita dalam media massa,” ujarnya.<span id="more-8838"></span></p>
<div id="attachment_8840" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8840" title="(2) Pelatihan Pemantauan Media Hari Ketiga" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Zikri-kiri-mendampingi-Imam-kanan-dalam-materi-pemantauan-media.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Zikri (kiri) mendampingi Imam (kanan) dalam materi pemantauan media</p></div>
<p style="text-align: justify;">Diskusi menjadi semakin menarik ketika setelah jam makan siang, para peserta diberikan tips-tips atau tata cara yang paling mudah untuk melakukan kegiatan membaca kritis, atau disebut juga sebagai ‘membaca  pintar’ atau ‘membaca skeptis’. Berhubungan dengan kegiatan pemantauan media berbasis komunitas ini, Bung Imam, merujuk pada penjelasan Bill Kovach dan Tom Rosentiel, menerangkan bahwa ada langkah-langkah khusus yang bisa dilakukan untuk menjadi pembaca pintar dan melakukan aksi ‘diet informasi’ (memilah asupan-asupan bergizi dari sajian media dan menghindari segela sajian yang tidak perlu atau mengandung ‘lemak’ yang tidak sehat) di era banjir informasi dewasa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah pertama ialah dengan ‘mengenali apa yang kita cari’. Dengan kata lain, kita harus memiliki sejumlah banyak pertanyaan ‘apa’ dan ‘mengapa’ terkait dengan semua sajian media. Hal ini harus didukung dengan wawasan kita terhadap isu-isu sosial di tingkat lokal. “Kita harus terus bertanya, mengapa isu A yang diangkat sementara isu B tidak. Mengapa isu yang kita butuhkan tidak diangkat sementara isu lain yang tidak kita butuhkan justru diangkat oleh media!?” Begitulah kira-kira seruan Bung Imam.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah kedua, Bung Imam menjelaskan bahwa kita harus ‘mengenali apakah laporan berita yang disajikan media itu lengkap atau tidak’. Hal ini terkait dengan kedalaman sebuah berita yang disajikan oleh media.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah ketiga adalah tentang narasumber. “Kita jangan mudah percaya dengan narasumber berita, dan kita juga harus jeli mendapatkan peluang untuk menyoalkan keterangan dari sumber tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah keempat, ‘mengevaluasi berita dengan bukti-bukti’. Dengan kata lain, apa yang kita cari ialah fakta, bukan fiksi, bukan desas-desus, propaganda, kampanye dan hal-hal yang berbau <em>narsis</em> (pencitraan) pejabat. Kelima, kita juga harus melihat bagaimana kecenderungan model berita baru berinteraksi dengan bukti. Dan yang terakhir adalah kita harus menentukan ‘apakah kita sudah mendapatkan apa yang kita cari (informasi yang kita dan masyarakat butuhkan).</p>
<p style="text-align: justify;">Bersamaan dengan penjelasan tips-tips itu, beberapa peserta pelatihan memberikan pendapat dan berbagi pengalaman mereka ketika berinteraksi (membaca) sajian-sajian media lokal di daerah mereka. Dan hampir dari semua pendapat ini, banyak yang mengindikasikan bahwa media arus utama di tingkat lokal memang memberikan pelayanan kepada publik dengan tidak sempurna. Contohnya cerita dari Angga, peserta pelatihan dan calon pemantau dari Padang Panjang. Dia menceritakan bahwa dia pernah membaca artikel tentang matinya tahanan yang diduga menjadi korban penganiayaan oknum polisi yang terjadi di daerahnya, dan itu diliput oleh media lokal setempat selama beberapa hari. Akan tetapi, di satu hari, Angga menemukan artikel berita yang membahas kasus matinya tahanan di dalam penjara tersebut, namun yang ditulis oleh wartawan ialah lebih kepada profil si ahli forensik yang menangani kasusnya, bukan kelanjutan pembahasan yang lebih mendalam tentang dugaan apakah benar terjadi penganiayaan atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, itu menjadi salah satu contoh bahwa media luput dari kewajiban untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Otty Widasari, Koordinator Program akumassa, yang turut hadir dalam diskusi dan kegiatan pelatihan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sore, pukul empat, setelah materi Imam Shofwan selesai, para peserta pelatihan melakukan kegiatan simulasi pemantauan, yang dipandu oleh Otty, Lulus dan saya sendiri. Peserta mendengarkan dengan seksama penjelasan yang kami berikan, dan tanpa henti melemparkan pertanyaan terkait dengan teknis pemantauan yang akan dilakukan setelah kegiatan pelatihan. Pertanyaan yang paling sering muncul ialah tentang bagaimana mengenal satu sajian (artikel) masuk ke dalam isu yang mana. Untung saja, semua itu tercantum dalam modul pelatihan sehingga kami dapat menjelaskannya dengan lebih mudah.</p>
<div id="attachment_8841" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8841" title="(3) Pelatihan Pemantauan Media Hari Ketiga" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Otty-dan-Zikri-sedang-presentasi.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Otty dan Zikri sedang presentasi</p></div>
<div id="attachment_8842" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8842" title="(4) Pelatihan Pemantauan Media Hari Ketiga" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Para-peserta-sedang-mencoba-metode-pemantauan-media.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Para peserta sedang mencoba metode pemantauan media</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kira-kira setengah jam menjelaskan tentang teknis, praktik membaca koran dan meringkasnya ke dalam tabel matriks dilakukan. Kegiatan ini berlangsung hingga malam hari, sekitar pukul sepuluh, tetapi dengan suasana yang lebih santai, tidak serius seperti siang harinya. Dan yang menyenangkan adalah, malam ke tiga kami di Cisarua, dihibur dengan sajian <em>barbeque</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari Kedua</title>
		<link>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-kedua/</link>
		<comments>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 16:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8811</guid>
		<description><![CDATA[Ayam berkokok tanda pagi menjelang, udara yang dingin membuat peserta sulit beranjak dari tidur yang nyenyak. Dengan wajah yang segar sambil mengusap-usap handuk di kepala, teman sekamarku, Manshur Zikri yang berperan sebagai Koordinator Pemantauan Media Berbasis ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Ayam berkokok tanda pagi menjelang, udara yang dingin membuat peserta sulit beranjak dari tidur yang nyenyak. Dengan wajah yang segar sambil mengusap-usap handuk di kepala, teman sekamarku, Manshur Zikri yang berperan sebagai Koordinator Pemantauan Media Berbasis Komunitas, membangunkanku dari tidur. Aku langsung beranjak, tanpa basa-basi segera kuraih handuk dan bergegas mandi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang tanggal 3 Februari, berarti agenda hari kedua harus berjalan sesuai waktu yang ditentukan. Setelah sarapan pagi bersama-sama, kami semua segera bergegas ke ruang utama untuk menyimak materi lokalitas yang akan disampaikan Hikmat Budiman.</p>
<div id="attachment_8814" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8814" title="(1) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Para-peserta-menyimak-materi-dari-Hikmat-Budiman1.jpg" alt="" width="565" height="300" /><p class="wp-caption-text">Para peserta menyimak materi dari Hikmat Budiman</p></div>
<p style="text-align: justify;">Direktur Interseksi ini menjelaskan pengertian komunitas, lokalitas, sejarah kajian lokalitas di Indonesia dan situasi isu lokalitas yang sedang terjadi sekarang ini. Ia juga menjelaskan isu lokalitas merupakan bahasan baru di Indonesia, belum mencapai 20 tahun orang-orang membahas hal ini. “Isu lokalitas itu tiba-tiba meledak setelah runtuhnya rezim Orde Baru. Orang-orang daerah yang selama ini kebutuhannya kurang terpenuhi, mulai angkat bicara untuk membahas permasalahan di wilayahnya.”</p>
<div id="attachment_8813" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8813" title="(2) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Otty-kiri-mendampingi-Hikmat-kanan-menyampaikan-materi.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Otty (kiri) mendampingi Hikmat (kanan) menyampaikan materi</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8811"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah materi tersebut, kami juga mendapat pengetahuan tentang Fenomena Media dan Perkembangan Masyarakat di Tingkat Lokal yang disampaikan oleh Ronny Agustinus. Materi yang disampaikan kali ini membahas pemetaan sejarah pers Indonesia dari berbagai macam daerah, suku, dan bahasa beserta tokoh-tokohnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria yang aktif menulis ini menjelaskan, fenomena jurnalis akar rumput yang biasa disebut <em>blogger</em> memiliki peran penting dalam penyebaran informasi yang <em>independen</em>, bahkan termasuk dalam membentuk opini publik.</p>
<div id="attachment_8815" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8815" title="(3) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Ronny-kanan-didampingi-Zikri-kiri-saat-menyampaikan-materi.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Ronny (kanan) didampingi Zikri (kiri) saat menyampaikan materi</p></div>
<p style="text-align: justify;">Ia memberi contoh usaha masyarakat Ambon dalam memperbaiki komunikasi antara umat Kristen dan umat Islam setelah pecah perang saudara di sana. “Perdamaian di Ambon bukan hasil kerja media-media lokal <em>mainstream</em> di sana, justru mereka yang mengompori perang. Melalui <em>blog</em>, warga yang menyesal saling berbagi informasi demi terciptanya perdamaian setelah mengetahui banyak korban jiwa akibat perang saudara.”</p>
<p style="text-align: justify;">Di siang harinya aku dan Zikri maju ke depan. Kami menyampaikan materi Pemahaman <em>akumassa</em> dan Metode Pemantauan. Dalam sesi ini aku memberikan pemahaman <em>akumassa </em>kepada teman-teman sesama peserta pelatihan pemantauan media. Aku menyampaikan pengertian, sejarah dan kegiatan <em>akumassa</em> sesuai yang aku ketahui dan pahami selama ini. Untuk pemahaman metode pemantauan, temanku Zikri yang menyampaikannya.</p>
<div id="attachment_8816" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8816" title="(4) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Lulus-kiri-dan-Zikri-kanan-menyampaikan-materi-akumassa-dan-metode-pemantauan.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Lulus (kiri) dan Zikri (kanan) menyampaikan materi akumassa dan metode pemantauan</p></div>
<p style="text-align: justify;">Usai sholat Ashar materi dilanjutkan oleh Andang Kelana dan Rio dengan materi penjelasan tekhnifikasi <em>website akumassa</em>. Setelah pelatihan nanti, para pemantau memang ditugaskan untuk membuat dan mengunggah narasi kesimpulan hasil bacaan media lokal di masing-masing wilayah.</p>
<div id="attachment_8817" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8817" title="(6) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Andang-kiri-dan-Rio-kanan-menjelaskan-teknifikasi-upload-narasi.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Andang (kiri) dan Rio (kanan) menjelaskan teknifikasi upload narasi</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pada sesi ini Forum Lenteng bekerja sama dengan Cipta Media Bersama juga memberikan peralatan hibah kepada para pemantau berupa <em>laptop</em> dan <em>modem</em> untuk mempermudah pekerjaan memantau nanti. Perwakilan Forum Lenteng, Otty Widasari selaku Koordinator Program <em>akumassa</em> memberikan perlengkapan itu satu per satu kepada para pemantau. Tanpa basa-basi mereka langsung membuka kardus coklat yang berisi laptop untuk dicoba. “Asik dapet laptop.” Kata salah seorang pemantau. Melihat hal ini, Andang dan Rio langsung menginstruksikan para peserta untuk mencoba mengunggah narasi pemantauan di <em>website akumassa</em> dengan tampilan yang baru.</p>
<div id="attachment_8818" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8818" title="(5) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Otty-kiri-memberikan-laptop-dan-modem-kepada-Renal-kanan.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Otty (kiri) memberikan laptop dan modem kepada salah satu peserta pelatihan</p></div>
<p style="text-align: justify;">Di penghujung malam, agar para peserta tetap segar dan tidak bosan, Forum Lenteng memberikan hiburan ringan. Filem jenis <em>psycologycal horror</em> karya Stanley Kubrick berjudul The Shining dengan kisah pengalaman misteri sebuah keluarga kecil yang sedang menetap di sebuah hotel kosong ini pun disajikan. Sebagian penonton ketakutan, namun sebagian lainnya malah tertawa. Usai filem diputar, satu per satu para peserta beranjak ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Karena kami akan melanjutkan materi yang tidak kalah serunya di esok hari.</p>
<div id="attachment_8819" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8819" title="(7) Pelatihan Pemantauan Media Hari Kedua" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Para-peserta-mendapat-hiburan-berupa-filem-horor.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Para peserta mendapat hiburan berupa filem horor</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-hari-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari Pertama</title>
		<link>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas-hari-ke-1/</link>
		<comments>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas-hari-ke-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 15:45:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8770</guid>
		<description><![CDATA[Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas hari pertama berjalan dengan lancar tanpa masalah. Para peserta hadir pada pukul 09.30 WIB di lokasi pelatihan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, menggunakan bus pariwisata. Kemudian acara dilanjutkan pada pukul 10.00 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8771" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8771" title="(1) Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari ke 1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Suasana-Pelatihan-Pemantaua.jpg" alt="" width="565" height="300" /><p class="wp-caption-text">Suasana Pelatihan Pemantauan Media</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas hari pertama berjalan dengan lancar tanpa masalah. Para peserta hadir pada pukul 09.30 WIB di lokasi pelatihan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, menggunakan bus pariwisata. Kemudian acara dilanjutkan pada pukul 10.00 WIB dengan kegiatan Pengantar dari Tim <em>akumassa</em> berupa pembukaan acara, perkenalan peserta dan penjelasan orientasi pelatihan.</p>
<div id="attachment_8772" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8772" title="(2) Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari ke 1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Para-peserta-berangkat-meng.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Para peserta berangkat menggunakan bus pariwisata</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pada sesi ini Andang Kelana, selaku Sekretaris Jendral (Sekjen) Forum Lenteng membuka acara dengan memperkenalkan Forum Lenteng dan program akumassa. Kemudian Otty Widasari selaku Koordinator program <em>akumassa</em> menjelaskan lebih dalam apa itu <em>akumassa</em> serta penjelasan singkat tentang Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas yang sedang diselenggarakan mulai hari ini (2/2).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-8770"></span></p>
<div id="attachment_8773" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8773" title="(3) Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari ke 1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Pembukaan-acara-oleh-Andang.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Pembukaan acara oleh Andang dan Otty</p></div>
<div id="attachment_8775" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8775" title="(4) Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari ke 1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Otty-menjelaslan-program-pe.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Otty menjelaskan program pemantauan media</p></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Materi selanjutnya berjudul Identifikasi Permasalahan Media dan Pemantauan dilaksanakan pukul 01.00 WIB dengan menghadirkan Idaman Andarmosoko. Materi ini terus berjalan hingga pukul 21.00 WIB. Pada sesi ini Idaman memberikan pemahaman-pemahaman untuk mengidentifiasikan masalah dengan membuat pohon identifikasi masalah. Cara seperti ini cukup efektif untuk memahami masalah dengan mudah. “Awalnya terasa sulit memahami masalah dengan cara seperti itu (membuat pohon masalah), tapi dengan pembawaan yang seru aku jadi paham.” Ujar Lalu Maldi, salah satu peserta pelatihan.</p>
<div id="attachment_8776" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8776" title="(5) Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas Hari ke 1" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Idaman-Andarmosoko-sedang-m.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Idaman Andarmosoko sedang memberikan materi</p></div>
<div id="attachment_8777" class="wp-caption alignnone" style="width: 575px"><img class="size-full wp-image-8777" title="" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/02/Idaman-menjelaskan-dengan-p.jpg" alt="" width="565" height="424" /><p class="wp-caption-text">Idaman menjelaskan dengan pohon identifikasi masalah</p></div>
<p>Usai materi yang diberikan Idaman menjadi penanda kegiatan pokok hari ini sudah selesai. Para peserta dipersilahkan untuk beristirahat atau melakukan aktivitas lainnya secara bebas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas-hari-ke-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Pemantauan Media Berbasis Komunitas</title>
		<link>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas/</link>
		<comments>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 12:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8672</guid>
		<description><![CDATA[ProgramPemantauan Media Berbasis Komunitas di tingkat lokal menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Komunitas Melalui Media, AKUMASSA, yang digagas oleh Forum Lenteng untuk menjalankan satu aksi yang lebih nyata di luar aktivitas media online untuk melihat, mendengar, dan menuliskan bagaimana media massa saat ini bekerja di daerah-daerah tingkat lokal, lalu diinformasikan ke masyarakat luas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-8699" title="backdrop2" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/backdrop2.jpg" alt="" width="565" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">ProgramPemantauan Media Berbasis Komunitas di tingkat lokal menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Komunitas Melalui Media, AKUMASSA, yang digagas oleh Forum Lenteng untuk menjalankan satu aksi yang lebih nyata di luar aktivitas media <em>online</em> untuk melihat, mendengar, dan menuliskan bagaimana media massa saat ini bekerja di daerah-daerah tingkat lokal, lalu diinformasikan ke masyarakat luas. Dan demi mencapai hasil yang maksimal, Program Pemantauan Media Berbasis Komunitas di tongkat lokal ini diawali dengan mengadakan pelatihan bagi para partisipan, guna memberikan pemahaman dasar tentang pemantauan media massa oleh komunitas. <span id="more-8672"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Program kerja sama AKUMASSA dengan Cipta Media Bersama ini akan dilaksanakan pada tanggal 2-5 Februari 2012, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Acara pelatihan ini juga turut mengundang beberapa pemateri yang kompeten dalam bidangnya untuk memantau media.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/informasi/pelatihan-pemantauan-media-berbasis-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejenak di Pal</title>
		<link>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/sejenak-di-pal/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/sejenak-di-pal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 11:53:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Komala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Depok, Jawa Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8658</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu tidak seperti hari-hari yang lalu ketika hujan tiada mau berhenti. Matahari memperlihatkan kuasanya dari balik awan. Raga dibanjiri oleh keringat yang mengucur dari atas kepala hingga ujung kaki. Hampir semua penumpang yang memenuhi sebuah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari itu tidak seperti hari-hari yang lalu ketika hujan tiada mau berhenti. Matahari memperlihatkan kuasanya dari balik awan. Raga dibanjiri oleh keringat yang mengucur dari atas kepala hingga ujung kaki. Hampir semua penumpang yang memenuhi sebuah angkutan kota (angkot) bernomor 112 jurusan Kp. Rambutan – Depok, yang aku naiki, tak bersemangat karena keringat pun menghinggapi mereka. Hanya ada dua orang pengamen yang terlihat bersemangat. Mereka berpakaian rapi, yang satu membawa <em>ukulele</em> dan lainnya membawa gendang. Dengan energi semangat, mereka menyanyikan lagu <em>Ema</em> dari penyanyi asal Sunda, Doel Sumbang.</p>
<div id="attachment_8659" class="wp-caption alignnone" style="width: 574px"><img title="Sejenak di Pal" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/sejenak-di-pal.jpg" alt="" width="564" height="272" /><p class="wp-caption-text">Dua pengamen di angkot</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8658"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mimiti harga diri nepika kahormatan dimurah mareh ngabelaan ekstasi. Mimiti harga diri nepika kahormatan ludes teu nyesa ditukeur ku ekstasi.”</em> (Awalnya, harga diri sampai kehormatan diobral demi ekstasi. Awalnya, harga diri sampai kehormatan habis tak bersisa ditukar dengan ekstasi).</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti itu lah liriknya. Sepenggal lagu yang mengingatkanku pada kecelakaan maut di Tugu Tani, Gambir. Pengemudi mobil Daihatsu Xenia, Afriyani Susanti yang pada waktu dalam keadaan mabuk obat-obatan terlarang menabrak 12 orang pejalan kaki di sekitar halte Tugu Tani, 9 orang meninggal dan 3 orang lainnya luka-luka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di PAL Depok, mereka turun. Aku dan beberapa penumpang lainnya juga ikut turun.  Sepanjang jalan ke arah Kp. Rambutan, berjajar kios-kios agen bus luar kota. Di seberang kios-kios itu, tepatnya di samping Rumah Sakit Tugu, terdapat bangunan besar yang masih berada dalam proses pembangunan, namun bagian depannya hampir selesai. Aku sering kali melewati jalan ini untuk menjemput keponakanku yang sekolah di Cibubur. Setelah aku pikir-pikir, pembangunan gedung sebesar itu cukuplah cepat. Hanya dengan waktu beberapa hari aku tidak melewati jalan ini, bagian depannya sudah hampir jadi.</p>
<div id="attachment_8660" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8660" title="(2) Sejenak di Pal" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/gedung-yang-bersebelahan-dengan-rumah-sakit-tugu.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Gedung yang bersebelahan dengan Rumah Sakit Tugu</p></div>
<p style="text-align: justify;">“Mau kemana <em>Neng</em>, Solo?” Seorang bapak paruh baya menawarkan jasa agen bus.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh <em>nggak</em>, Pak. Saya bingung nih, kok gedung itu <em>cepet</em> banget dibangunnya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Si bapak yang akhirnya aku ketahui bernama Pak Lamidi pun menjelaskan tentang pembangunan tersebut. Belum ada setahun, kira-kira baru berjalan selama 6 bulanan proses pembangunan. Rencananya, bangunan itu akan dijadikan sebuah Mall Matahari, tetapi ada supermarketnya, yaitu Hypermart. Bulan Maret ini, bangunan itu sudah harus jalan. Kemungkinan besar pada Bulan Januari ini, pekerja mall sudah mulai masuk untuk merapikan dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bapak-bapak lainnya berdatangan menghampiri, ada Pak Ambon Manise (begitulah orang-orang memanggilnya), Pak Thomas dan Pak Bejo. Mereka ikut <em>nimbrung</em> dalam pembicaraan kami. Dari obrolan yang mengalir, aku dapat menyimpulkan satu kisah singkat dari gedung itu. Dulu, gedung itu merupakan sebuah gudang milik sebuah pabrik cokelat, bernama Van Houten. Kemudian dibeli oleh pihak Matahari untuk dijadikan gudang juga. Namun, dibongkar dan dijadikan mall yang saat ini masih dalam proses pembangunan.</p>
<div id="attachment_8661" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8661" title="(3) Sejenak di Pal" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/pembangunan-gedung-mall.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Pembangunan gedung mall</p></div>
<p style="text-align: justify;">“<em>Gak</em> takut tambah macet, Pak?” tanyaku spontan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya macet <em>sih udah</em> biasa, gara-gara angkot dan motor <em>aja tuh</em>!” Jawab Pak Manise.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Lah</em> bukannya bus-bus yang <em>ngetem, </em>ya yang bikin macet?” Tanyaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau bus itu cuma sebentar, datang <em>ngangkut </em>penumpang saja, habis itu langsung jalan lagi. Motor sama angkot <em>tuh</em> yang bikin macet.” Pak Manise mempertahankan argumennya. “<em>Nih gini</em>, sekarang apalagi angkot itu penambahan armada <em>mulu</em>. Gimana <em>gak</em> macet. Tambah banyak <em>aja tuh</em> angkot. 129 <em>aja</em> itu <em>kan</em> baru.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Pak Manise, baru aku ketahui bahwa angkot jurusan Ps. Minggu – Mekar Sari merupakan jurusan terbaru dari pada angkot-angkot yang lainnya. Dan Pak Manise juga menjelaskan kalau angkot 129 itu harusnya sampai Mekar Sari bukannya sampai Pal Depok. Para supir 129 malas kalau sampai Mekar Sari, jadi mereka mutar balik kemudian <em>ngetem</em> di Pasar Pal Depok.</p>
<p style="text-align: justify;">“Harusnya Pasar Pal Depok ini daerah kekuasaannya D11 angkot jurusan Depok (terminal) – Pal Depok. D11 nya <em>aja</em> pada <em>gak</em> mau demo. Harusnya mereka bisa demo <em>tuh</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Satu armada lagi yang tidak sesuai dengan jalurnya, yaitu nomor 112, angkutan kota jurusan Depok – Kp. Rambutan. Menurut Pak Manise, harusnya angkutan kota 112 itu memiliki jalur menuju Depok dengan melewati Jl. H. Juanda, atau yang lebih dikenal dengan Jl. Baru. Akan tetapi angkutan kota 112 malah melewati jalan Kelapa Dua. Dan lagi, dia mengatakan, “Harusnya supir angkot D11 demo.”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Oh, ya,</em> orang-orang agen bus ini menginginkan adanya terminal besar di Pal Depok seperti Terminal Depok yang ada di Jl. Margonda. Mereka pun ingin kawasan Pal Depok ini seperti kawasan Margonda yang di mana-mana berdiri mall.</p>
<p style="text-align: justify;">“Nanti digusur pada marah lagi?” Tanyaku spontan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, gusur saja! Yang penting nanti dikasih lahan pengganti saja.” Pak Lamidi kini yang menjawab.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lagian belakang kios ini <em>kan</em> kali, mana bisa digusur, hahaha.” Pak Bejo menambahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lagian Ade ini mau kemana?” Akhirnya Pak Thomas ikut berbicara.</p>
<div id="attachment_8662" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8662" title="(4) Sejenak di Pal" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Pak-Manise-Pak-Lamidi-dan-Pak-Thomas.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Pak Manise, Pak Lamidi dan Pak Thomas</p></div>
<p style="text-align: justify;">Aku akhirnya menceritakan bahwa tujuanku hari itu adalah ke Pal Depok, yang kebetulan mengantarkan keponakan pergi sekolah di dekat Puskesmas Tugu. Sambil menunggu ponakan selesai, aku datang ke Pal Depok itu karena penasaran tentang pembangunan gedung mall itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, Puskesmas yang baru dibangun itu? Itu sempat di demo warga karena mengambil lahan makam. Tapi sekarang sudah selesai permasalahannya. Pihak Puskesmas memberi jaminan untuk warga sekitar situ untuk berobat gratis di Puskesmas,” kata Pak Lamidi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika perbincangan dengan warga sekitar sana berakhir, aku merogoh tasku untuk mencari telepon genggam. Jam di telepon genggamku sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah waktunya untuk menjemput keponakanku yang sudah selesai belajar di sekolah. Aku pun memutuskan untuk berpamitan dan meminta izin untuk datang lagi di kemudian hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/sejenak-di-pal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca ‘Membaca’</title>
		<link>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/membaca-%e2%80%98membaca%e2%80%99/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/membaca-%e2%80%98membaca%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 15:07:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manshur Zikri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Depok, Jawa Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8645</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa ingatan terlintas di kepalaku terkait dengan kata ‘membaca’ ketika duduk di dalam sebuah angkot berwarna merah nomor 19, yang berjalan selangkah demi selangkah melintasi kemacetan Jalan Margonda, menuju Terminal Depok, pada Hari Selasa sore, 17 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa ingatan terlintas di kepalaku terkait dengan kata ‘membaca’ ketika duduk di dalam sebuah angkot berwarna merah nomor 19, yang berjalan selangkah demi selangkah melintasi kemacetan Jalan Margonda, menuju Terminal Depok, pada Hari Selasa sore, 17 Januari 2012. Dalam keadaan setengah sadar menahan kantuk, samar-samar aku mendengar apa yang dulu pernah diucapkan oleh seorang teman, Ugeng. Kira-kira katanya seperti ini: “Membaca itu tidak melulu diartikan sebagai aktivitas melihat huruf, kata dan kalimat, kemudian melafalkannya. ‘Membaca’ juga bisa dimaknai sebagai suatu sikap atau perilaku untuk lebih peduli terhadap apa-apa yang ada dan terjadi di sekitar kita.” Mencari informasi melalui buku bacaan atau tontonan filem, adalah sedikit contoh dari sikap itu: menyimak apa yang pernah dan/atau sedang ada dan terjadi di tempat kita berpijak sekarang ini, kemudian melakukan aksi untuk menanggapinya.</p>
<p style="text-align: center;" align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Angkot berhenti di dalam lingkungan terminal, tepat di depan deretan warung-warung, seperti warung kopi (warkop), warung tegal (warteg), warung lapo, dan toko-toko lainnya. Di antara deretan warung itu, menyempil sebuah ruangan kecil berpintu kaca, yang sudah aku kenal lebih kurang sejak sebulan lalu. Rumah Baca Panter, namanya, atau setidaknya begitulah yang tertulis di papan nama yang tergantung di salah satu dinding ruangannya. Kedatanganku, bersama dua orang teman, memang bertujuan untuk mengunjungi rumah baca tersebut.</p>
<div id="attachment_8646" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8646" title="(1) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0196.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Deretan warung-warung yang ada di terminal</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8645"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Turun dari angkot, kami ― Lulus, yang dengan cekatan mengangkut satu kardus berisi sumbangan buku-buku dan filem; Ageung, membawa sebuah DVD <em>player</em>, yang akan disumbangkan pula untuk melengkapi koleksi Rumah Baca Panter; dan aku sendiri, menenteng sebuah kamera <em>digital</em> kecil, bukan untuk disumbangkan, melainkan untuk kepentingan dokumentasi ― disambut dengan gerakan semangat salah seorang pemuda dari rumah baca. Dia membantu Lulus membawa kardus itu untuk diletakkan di dalam ruangan sederhana, yang kini sudah disulap menjadi perpustakaan kecil yang lebih rapi, jauh berbeda ketika pertama kali aku mendatangi tempat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur saja, hari itu merupakan yang ketiga kalinya aku mengunjungi Rumah Baca Panter, tidak seperti Lulus dan Ageung yang lebih sering datang ke sana untuk melihat aktivitas keseharian para orang tua, pemuda dan anak-anak usia sekolahan di lingkungan terminal merapikan perpustakaan. Dari beberapa pemuda yang menyambut kami, aku hanya mengenali Bang Andi, seorang laki-laki dengan potongan rambut tipis seperti tentara, yang sepertinya baru saja melek dari tidur siangnya karena dibangunkan oleh si pemuda yang membantu Lulus membawa kardus.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Gue</em> masuk angin gara-gara semalam <em>ujan-ujanan</em>, bolak-balik <em>ngurus</em> proposal dan surat ke media-media partner dan sponsor,” ujar Bang Andi seraya mempersilakan kami duduk lesehan,  memesan tiga gelas kopi di warkop sebelah, kemudian menyulut sebatang rokok. “Untung ada anak-anak yang mau bantu <em>mijitin</em>, sekarang sudah <em>mendingan</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut ceritanya, beberapa hari belakangan ini para pemuda di terminal, termasuk dirinya dan para relawan dari kalangan mahasiswa dari pelbagai universitas yang ikut aktif menjadi pengurus rumah baca, memang sangat sibuk mengurus persiapan acara peresmian Rumah Baca Panter yang akan dihelatkan pada Bulan Februari 2012 mendatang. Mereka mengundang tokoh-tokoh penting, termasuk Walikota Depok yang nantinya akan meresmikan rumah baca, dan band-band terkenal sebagai sajian hiburan. Ada semacam niatan dari para pengurus Rumah Baca Panter, dan Paguyuban Terminal (disingkat Panter, yang menggagas ide rumah baca itu) untuk membuat acara itu semeriah mungkin, tetapi tetap merakyat, untuk mengabarkan kehadiran sebuah rumah baca di Terminal Depok untuk kepentingan masyarakat terminal dan Kota Depok. Rencananya, acara itu juga dilengkapi dengan sebuah rangkaian <em>talkshow</em> yang akan membicarakan isu tentang anak-anak jalanan, yang sejauh ini masih luput dari perhatian dan perlindungan pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Gue</em> ada rencana juga mau <em>muter</em> filem dokumenter pendek pas acara itu,” terang Bang Andi. “kira-kira ada <em>nggak</em>, ya, filem yang bagus untuk <em>diputer</em>?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu <em>aja</em>, ada beberapa filem dan karya video <em>akumassa</em> dalam kardus, untuk rumah baca,” kata Ageung. “kalau mau, itu aja yang diputar nanti pas acara! Kita juga <em>ngasih</em> beberapa koleksi filem dari sutradara-sutradara dunia, untuk ditonton dan buat belajar juga.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Oh, ada?! Wah, <em>tengkyu banget</em>, nih, Bro!” seru Bang Andi senang, kemudian bersama-sama kami membuka isi kardus tersebut.</p>
<div id="attachment_8647" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8647" title="(2) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0195.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Bang Andi sedang melihat koleksi film dan video yang disumbang akumassa</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dalam workshop <em>akumassa</em> Depok yang baru saja usai beberapa hari yang lalu, kami menjadikan Terminal Depok sebagai salah satu bingkaian video. Selama proses riset dan suting lapangan di terminal, Rumah Baca Panter adalah tempat favorit untuk melepas lelah sambil menikmati kopi hangat di sore dan malam hari, seraya juga mengambil beberapa gambar untuk membuat video pula tentang rumah baca itu sendiri. Anak-anak dan pengurus rumah baca turut andil membantu kami dalam memberikan informasi-informasi seputar terminal dan aktivitas warganya. Dari tujuh karya yang berhasil kami rampungkan, dua di antaranya adalah tentang terminal, yaitu berjudul “KPP” dan “Terminal Belajar”.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh sebab itu, kami membalas jasa Rumah Baca Panter dengan menyumbangkan buku-buku dan beberapa filem, selain didorong juga oleh niat untuk saling berbagi pengetahuan dan akses untuk terus belajar. Ini menjadi salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanggapi hal-hal positif yang dilakukan oleh masyarakat terminal dalam mengembangkan potensinya. Besar harapan bagi kita, baik dari <em>akumassa</em> sendiri maupun dari pihak Rumah Baca Panter, untuk dapat mewujudkan cita-cita masyarakat yang melek media dan sadar akan pentingnya pengetahuan sebagai modal untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ini videonya?!” seru Bang Andi ketika melihat cover video <em>akumassa</em> Depok. “Wah, langsung <em>puter</em>, ah, <em>gue</em> penasaran <em>pengen liat</em>!”</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">“…omong kosong kalau misalnya ada orang yang mengaku bisa menulis atau berkarya dengan baik tanpa pernah membaca,” suara samar lain terdengar, yang pernah diucapkan oleh Hafiz, seorang aktivis sosial dan budaya, dalam sebuah diskusi tentang bagaimana menghasilkan sebuah karya yang baik. “Membaca itu bisa melalui pengalaman, melalui apa-apa yang pernah dilihat dan didengar, dan banyak yang lainnya. Lalu pengetahuan-pengetahuan dari hasil bacaan itu menjadi dasar untuk mengemas karya yang baik, yang juga didukung oleh faktor intensitas yang tinggi untuk terus mencoba.”</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Agus Kurnia, yang biasa dipanggil Abah Agus, yang menjadi ketua Paguyuban Terminal. Seperti yang diceritakan Lulus Gita Samudra dalam sebuah tulisan tentang Terminal Depok dan Rumah Baca Panter, dan dimuat di <a href="http://www.akumassa.org/">www.akumassa.org</a> pada Senin, 19 Desember 2011, Abah Agus adalah seorang perantau dari Garut, Jawa Barat, yang pernah mengalami menjadi segala bentuk profesi orang jalanan, dari anak jalanan, kondektur, supir, dan sampai akhirnya menjadi warga Terminal Depok yang sekarang sibuk mengurus paguyuban. Apa yang ia jadikan modal untuk dapat bertahan hingga mampu menghimpun para warga untuk tergabung dalam sebuah paguyuban bernama Panter adalah sebuah pengalaman hidup menjadi seorang aku yang mencair di tengah-tengah massa tak bernama yang tersebar di jalanan-jalanan kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu, memang Abah Agus tidak bisa membaca koran, tetapi dia tetap ‘membaca’ masyarakat tempatnya bernaung sejak tahun 1990-an, ketika dia memutuskan pergi dari rumahnya. Karena keuletan sikap ‘membaca’ yang ia miliki itu, dia bersikeras untuk belajar bisa membaca koran, kemudian terdorong untuk mengajak orang lain di lingkungan terminal untuk membaca pula. Mulai digagas dalam rapat Panter 2006, Rumah Baca Panter berhasil direalisasikan di penghujung tahun 2011. “Tidak ada kata terlambat untuk belajar!” kata sebuah pepatah, <em>toh</em> masyarakat akan terus hidup hingga akhir jaman sebagai sumber referensi tak terbatas bagi kita untuk terus belajar ‘membaca’.</p>
<p style="text-align: justify;">“Harapannya, dengan kehadiran Rumah Baca Panter, dapat membantu anak-anak muda di sini supaya lebih produktif dan menghasilkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi semuanya,” ujar Abah Agus ketika berbincang denganku saat pertama kali bertemu dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, menurutku Abah memang ‘membaca’. Dengan memahami problema yang terjadi di lingkungan masyarakat sekitarnya, lantas dia menggagas sebuah ide, dan bersama-sama teman-teman di Panter mereka menghasilkan sebuah ‘karya’ bernama Rumah Baca Panter, yang tentunya akan menjadi baik dan bermanfaat bagi masyarakat, khsusunya bagi warga lokal terminal sendiri.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang kita lakukan selama ini sebenarnya adalah membaca, dan menulis,” aku juga menjadi ingat kata-kata dari Otty, seorang aktivis yang sudah lama berkecimpung di bidang jurnalisme warga. “Kita membaca, mendengar, melihat, dan mengumpulkan narasi-narasi kecil dan peristiwa-peristiwa yang tersebar di masyarakat, lalu merekam dan mengemasnya dalam berbagai medium, kemudian menyebarluaskannya sebagai satu produk pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat, tanpa ada tujuan-tujuan tertentu selain untuk kepentingan pendidikan.”</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sekitar 8,3 juta jiwa dari jumlah total penduduk di Indonesia yang mengalami buta aksara, dengan proporsi 64% merupakan perempuan dan sisanya laki-laki (data dari Kompas <em>online</em>). 12% dari total jutaan penduduk Indonesia merupakan angka buta aksara yang ada di Jawa Barat (menurut data dari Benni Setiawan dalam tulisan yang dimuat di <a href="http://www.bit.lipi.go.id/">http://www.bit.lipi.go.id/</a> pada 3 Juni 2009). Mengingat jumlah yang besar ini, tentunya permasalahan tentang ‘tidak bisa membaca dan menulis’ menjadi soal yang sangat serius. Namun demikian, anggaran dana yang dikeluarkan Pemerintah untuk menangani masalah ini, seperti usaha untuk membangun taman bacaan masyarakat (TBM), masih tergolong minim. Seperti yang dikabarkan oleh harian Kompas <em>online</em>, pada 8 September 2011, anggaran dana untuk membangun TBM hanya berkisar antara Rp 15 juta – Rp 40 juta. Permasalahan ini kian menjadi rumit dengan ditambah faktor-faktor lain yang menyebabkan warga yang sempat bisa membaca, umumnya, menjadi buta aksara kembali karena kurangnya pembinaan berkelanjutan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab, dan terbatasnya sarana dan prasarana yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari beberapa sumber yang aku telusuri, usaha-usaha untuk memberantas buta aksara telah banyak dilakukan oleh berbagai elemen negara dan lembaga-lembaga non-pemerintah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Baru-baru ini, <em>US Agency for International Development</em> (USAID), <em>Australian Agency for International Development</em> (AusAID), <em>World Vision</em>, dan Departemen Pendidikan Amerika Serikat, mengadakan semacam program kompetisi senilai USD 20 juta yang bertujuan untuk mendukung inovasi tepat guna dan berkelanjutan yang akan meningkatkan melek huruf anak-anak di negara-negara berkembang. Tidak terkecuali Indonesia, para pelaku bisnis, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan lembaga pendidikan yang ada di dalamnya juga turut diundang untuk berpartisipasi dalam kompetisi global tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan,” kata Barbara Ward dalam <em>Hanya Satu Bumi</em>, yang pernah dikutip oleh Goenawan Mohammad dalam sebuah artikel “Catatan Pinggir”-nya pada 20 Juni 1981. Apa pun bentuk usahanya, kalau itu memang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat, kita memang harus mendukungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, tanpa bermaksud untuk bersikap terlalu skeptis, aku menjadi bertanya-tanya apakah usaha-usaha dari lembaga di luar masyarakat itu sendiri menjadi satu-satunya cara untuk memberantas buta aksara? Belum lagi ada kepentingan-kepentingan tertentu dari mereka yang bisa saja merugikan masyarakatnya. Bagaimana cara kita bisa memproduksi ilmu pengetahuan dan informasi secara mandiri tanpa perlu bergantung dan berharap lebih kepada lembaga-lembaga besar itu, yang belum tentu mengerti problema sesungguhnya yang ada di masyarakat? Apakah mungkin bagi masyarakat bawah, yang dituding sebagai golongan yang tidak bisa membaca dan menulis itu, melakukan satu usaha sendiri untuk bisa meningkatkan kualitas mereka sebagai pribadi dan sebagai bagian dari massa yang memiliki daya? Aku yakin hal itu bisa dilakukan, karena aku percaya, manusia pada dasarnya memiliki kemampuan ‘membaca’, bagaimana pun bentuk keadaannya, dan mampu berbuat sesuatu untuk menghasilkan hal-hal yang baik bagi diri sendiri dan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang dilakukan oleh Rumah Baca Panter dan Paguyuban Terminal mungkin bisa dijadikan sebagai contoh. Tanpa berlama-lama menengadahkan tangan kepada penguasa, mereka melakukan inisiatif sendiri untuk menciptakan lahan belajar secara mandiri, melalui kerja gotong royong dan kebersamaan warga terminal. Dengan demikian, mereka bisa memproduksi ilmu pengetahuan dan memunculkan akses bagi kebutuhan dan hak-hak mereka.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Lantas apa esensinya jika hanya merekam atau menulis, dengan kata lain memproduksi hal-hal yang ada di sekitar kita (masyarakat), untuk dinikmati oleh kita (masyarakat) sendiri pula? Terbentur dengan pertanyaan itu, aku berusaha mencari-cari ingatan lain untuk menjawabnya. Ketika angkot 19 sudah mulai mendekati terminal, aku teringat sebuah kalimat dari Mahardika dalam sebuah tulisannya (dimuat di <a href="http://www.jurnalfootage.net/">www.jurnalfootage.net</a> pada 5 Januari 2012). “Masyarakat diberikan kuasa untuk memproduksi pengetahuan atau informasi yang ingin disampaikan dan ditontonnya sendiri. Ini bukanlah semacam onani. Tetapi lebih kepada bagaimana mereka mencoba membaca kebutuhan mereka sendiri.” Warga yang berkegiatan untuk menciptakan akses pendidikan bagi diri mereka sendiri, lalu menghasilkan buah karya (dalam bentuk apa pun) untuk mereka konsumsi sendiri, sejatinya merupakan satu pribadi yang bersedia “merefleksikan diri mereka sendiri dan merenungi apa yang telah mereka lakukan.” Dengan kata lain, ini merupakan satu sikap <em>otokritik</em> dari masyarakat, sebuah sikap yang jarang sekali dimiliki oleh para penguasa-penguasa di bumi pertiwi.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">“Wah, ada Paul!” seru Bang Andi sambil tertawa senang ketika melihat salah seorang anak jalanan yang aktif belajar di Rumah Baca Panter muncul di layar televisi. Dalam tayangan video yang tidak lebih dari dua puluh menit itu, kami semua terhibur melihat tingkah lucu Paul, yang memiliki nama asli Maulana, saat sedang belajar angka-angka bersama Ririn (anaknya Abah Agus). “Kalau belajar, duduknya yang tegak, fokus…!” kata Abah Agus dalam salah satu adegan di video “Terminal Belajar” kepada Paul.</p>
<p style="text-align: justify;">Paul, anak yang ada dalam video itu juga turut menonton. Ketika kami semua berseru, “Cie, Paul jadi aktor…!”, dia tersenyum-senyum malu sambil menutup wajahnya dengan tangan.</p>
<div id="attachment_8648" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8648" title="(3) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0212.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Paul (kanan) sedang menyaksikan video akumassa Depok</p></div>
<p style="text-align: justify;">Tak lama setelah video <em>akumassa</em> Depok itu mulai diputar oleh Bang Andi, orang-orang mulai berdatangan meramaikan suasana. Bapak-bapak dan abang-abang, yang biasanya nongkrong di warkop sebelah, berkumpul memadati pintu rumah baca, tertawa dan berseru-seru senang melihat rekaman video tentang ‘rumah’ mereka. Seruan-seruan seperti “Wah si anu…!” atau “Eh, ada si itu…!” tidak berhenti hingga akhir video. Bahkan video itu diputar lagi sampai beberapa kali, dan mereka semua menikmatinya.</p>
<div id="attachment_8649" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8649" title="(3) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0208.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Antusiasme warga ketika menyaksikan aktivitas mereka yang terekam</p></div>
<p style="text-align: justify;">Aku, Ageung dan Lulus pun merasa begitu senang melihat antusiasme warga terminal, khususnya para anggota Panter, saat melihat wajah-wajah mereka sendiri di dalam kotak televisi. Saat itu, mereka tidak sedang menonton para artis terkenal; mereka sendiri lah artisnya. Mereka tidak sedang membaca informasi yang biasanya disajikan oleh stasiun televisi pada umumnya; mereka menyantap informasi yang berasal dari keseharian mereka sendiri. Mereka sedang ‘membaca’ apa-apa yang terjadi di sekitar mereka.</p>
<div id="attachment_8650" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8650" title="(5) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_0211.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Ageung (kanan) tertawa melihat warga terminal saling menertawakan temannya</p></div>
<p style="text-align: justify;">Begitu bahagia rasanya, aku sebagai salah seorang partisipan <em>akumassa</em> Depok, melihat secara langsung akan manfaat dari program pemberdayaan masyarakat yang telah dan sedang kami lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau begitu, ini aja, ya, yang <em>diputer</em> pas acara peresmian nanti?!” kata Bang Andi. Aku, Lulus dan Ageung mengiyakan. Akan tetapi kami bertiga berjanji pada diri sendiri, ‘membaca’ dan ‘menulis’ tentang Kota Depok dan Terminal Depok, tidak akan berhenti di karya video itu saja, melainkan akan terus berlanjut hingga tak ada lagi yang bisa dibaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Usai menonton karya video <em>akumassa</em> Depok itu, ketika maghrib menjelang, kami semua mengeluarkan isi buku dari dalam kardus, dan para pengurus Rumah Baca Panter mulai menyusunnya di rak-rak buku sederhana milik mereka.</p>
<div id="attachment_8652" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8652" title="(6) Membaca ‘Membaca’" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/IMG_02261.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Tim akumassa Depok, Andi, dan pacarnya sedang merapikan buku-buku</p></div>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu luas makna tentang ‘membaca’. Begitu mulia nilai sebuah aktivitas ‘membaca’. Dan begitu besar manfaatnya ketika kita bisa memahami apa itu ‘membaca’ yang sesungguhnya. Ingatan-ingatan tentang kata ‘membaca’ itu beriak-riak di dalam kepalaku yang sudah mulai berat karena kantuk semakin kuat. “Pinggir, Bang!” seru suara Ageung membangunkanku. Sore sekitar pukul lima, kami tiba di Rumah Baca Panter untuk melakukan satu kegiatan sosial yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. “Ini saatnya untuk melakukan apa yang sedari tadi aku pikirkan!” gerutuku dalam hati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/membaca-%e2%80%98membaca%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problematika The Jak Gang Anyar</title>
		<link>http://akumassa.org/program/lenteng-agung-jakarta-selatan/problematika-the-jak-gang-anyar/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/lenteng-agung-jakarta-selatan/problematika-the-jak-gang-anyar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 12:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lulus Gita Samudra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lenteng Agung, Jakarta Selatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8632</guid>
		<description><![CDATA[Perseteruan kepentingan di tubuh PSSI memang cukup mengganggu untuk kelangsungan jadwal pertandingan Liga Super Indonesia (LSI). Tapi ketergangguan itu mungkin tidak terlalu berlaku bagi para supporter tim yang ada. Misalnya, para The Jak Mania (supporter Persija ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Perseteruan kepentingan di tubuh PSSI memang cukup mengganggu untuk kelangsungan jadwal pertandingan Liga Super Indonesia (LSI). Tapi ketergangguan itu mungkin tidak terlalu berlaku bagi para supporter tim yang ada. Misalnya, para <em>The Jak Mania</em> (supporter Persija Jakarta) wilayah Lenteng Agung, Jakarta Selatan yang bernaung pada sebuah saung kecil di Gang Anyar. Justru aku melihat ada hal lain yang meredupkan mereka.</p>
<div id="attachment_8636" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8636" title="(1) Problematika The Jak Gang Anyar" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Saung-tempat-para-The-Jak-biasa-kumpul.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Saung tempat para The Jak biasa kumpul</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8632"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada pertandingan Persija melawan Sriwijaya FC pada tanggal 18 Desember 2011 kemarin mereka mengutus salah satu rekan untuk mendukung Persija secara langsung di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Perwakilan ini menjadi tanda bahwa para <em>The Jak Lenteng Agung</em> masih dan terus mendukung Persija dalam setiap laga.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita <em>ngirim </em>si Santos untuk dukung <em>The Jak</em> di Palembang, kebetulan dia juga lagi libur kerja,” kata Asmadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria bernama lengkap Asmadi Mahmud (40) ini merupakan salah satu senior <em>The Jak Mania</em> Lenteng Agung. Ia sudah turut aktif sejak tahun 2000 awal, bahkan ia memiliki kartu anggota <em>The Jak Mania</em> yang ia dapat dengan merogoh uang sebesar Rp 15.000. Hampir setiap laga pertandingan Persija ia datangi ke stadion, khususnya yang ada di Jakarta.</p>
<div id="attachment_8634" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8634" title="(2) Problematika The Jak Gang Anyar" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Asmadi-sedang-asik-menonton-televisi-di-rumahnya.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Asmadi sedang asik menonton televisi di rumahnya</p></div>
<div id="attachment_8635" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8635" title="(3) Problematika The Jak Gang Anyar" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Kartu-anggota-milik-Asmadi.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Kartu anggota milik Asmadi</p></div>
<p style="text-align: justify;">“Saya <em>dapet </em>kartu anggota dengan beli formulir di kantor <em>The Jak Mania</em> di Senayan. <em>The Jak</em> kalo gak punya kartu anggota mah bukan <em>The Jak</em>.” Jelas Asmadi sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada awal keterlibatan Asmadi, Kordinator Wilayah (Korwil) Lenteng Agung dipegang oleh almarhum Yuting yang meninggal pada tahun 2003. Ia jatuh dari kereta dan meninggal dunia saat perjalanan pulang setelah menyaksikan pertandingan Final Liga Indonesia, Persebaya <em>versus </em>Persija di Surabaya. Yuting sendiri punya hubungan dekat dengan Gugun Gondrong yang masih menjabat Humas <em>The Jak Mania</em> pada saat itu. Setelah kematian Yuting, Korwil Lenteng Agung berganti-ganti hingga akhirnya,  sekarang Santos (39) yang mengurusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Waktu<em> jaman</em> Yuting yang megang <em>mah</em>, <em>buset sukses bener</em>. <em>Lah</em>, dia kalo ada apa-apa langsung si Gugun Gondrong <em>sih</em> yang <em>nanganin</em>.” Ujar Asmadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada pertandingan di Jakarta para <em>The Jak</em> biasa berangkat menggunakan bus PPD atau Miniarta. Untuk menyewa bus PPD mereka biasa membayar Rp. 500.000, sedangkan Miniarta biasa membayar Rp. 200.000. Bus itu akan mengantar mereka hingga Stadion Glora Bung Karno atau Stadion Lebak Bulus. Ketika sampai di stadion si supir pun akan menunggu hingga pertandingan usai. Setelah itu akan  mengantar para<em> The Jak Mania</em> hingga tempat semula, yaitu Lenteng Agung.</p>
<p style="text-align: justify;">Asmadi mengaku sejak tahun 2008 para <em>The Jak Mania</em> di Gang Anyar semakin surut jumlahnya. Padahal dulu menurut pengakuan Asmadi, jumlah mereka kurang lebih mencapai seratus orang. Sekarang yang masih suka terlihat kumpul bersama tidak lebih dari 15 orang, itupun hanya sesekali. Tapi komunikasi di antara mereka tetap berjalan. Surutnya jumlah mereka bukan lantaran rasa cinta terhadap Persija yang semakin memudar, tapi banyak di antara mereka yang harus bekerja dan mengurus rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Pria beranak dua ini menambahkan, “Itu <em>aja </em>si Santos <em>nyempet-nyempetin </em>ke Palembang, berhubung dia lagi libur.”</p>
<p style="text-align: justify;">Surutnya <em>The Jak</em> Gang Anyar cukup disayangkan oleh Asmadi dan rekannya Sami (27) yang tiba-tiba datang pada saat itu. Sami sendiri menjelaskan padahal pada saat itu para <em>The Jak</em> di sini sempat membuat tim sepak bola antar kampung yang bernama Panser (Pasukan Serang).</p>
<div id="attachment_8637" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8637" title="(4) Problematika The Jak Gang Anyar" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Mading-yang-dulu-menjadi-pusat-informasi-The-Jak-dan-Panser.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Mading yang dulu menjadi pusat informasi The Jak dan Panser</p></div>
<p style="text-align: justify;">“Pasukan Serang? Berarti pemainnya <em>Striker </em>semuanya Bang?” Tanyaku sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya <em>kagak</em> Bang, ada <em>back </em>sama <em>keeper</em>nya juga Bang,” jawab Sami diiringi tawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Sami Panser bukan tim sepak bola biasa, karena Panser memiliki manajemen yang profesional. Jam terbangnya pun boleh diperhitungkan. Popularitas Panser bukan hanya di Lenteng Agung atau kampung-kampung di Jakarta lainnya saja, pada waktu itu nama Panser sudah terdengar hingga Gunung Putri, Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu Panser biasa latihan di lapangan sepak bola yang terletak di Jalan Joe, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Lapangan itu mereka sewa dengan biaya Rp 200.000 per bulan. Dengan uang sebesar itu mereka diberi jatah seminggu dua kali untuk menggunakan lapangan. Peraturan itu dibuat oleh pemilik lapangan untuk memberi kesempatan pada penyewa yang lain. Karena bukan Panser saja yang menyewanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Kagak </em>dilanjutin Bang?” Tanyaku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaitu, udah pada sibuk semua sama urusan kerjaan dan keluarganya.” Jawab Sami.</p>
<p style="text-align: justify;">“Emang <em>kagak </em>ada <em>regenerasi </em> Bang?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekarang <em>mah udah </em>jamannya futsal, Bang. yang muda-muda pada <em>ogah </em>diajak main bola di lapangan <em>gede</em>,” jelas Sami.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurutnya dengan kehadiran lapangan futsal di mana-mana membuat surut minat bermain sepak bola di lapangan besar. Lagi pula untuk bermain futsal tidak membutuhkan banyak orang, cukup terkumpul sepuluh orang pertandingan pun dapat berlangsung. Mungkin kemudahan seperti itu yang membuat orang-orang meninggalkan bermain sepak bola di lapangan besar.</p>
<div id="attachment_8638" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8638" title="(5) Problematika The Jak Gang Anyar" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Grafiti-The-Jak-Mania-Gang-Anyar1.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Grafiti The Jak Mania Gang Anyar</p></div>
<p style="text-align: justify;">Waktu pun telah berlalu, rasanya aku harus beranjak dari saung kecil para <em>The Jak Mania</em> di Gang Anyar. Jumlah mereka memang semakin surut untuk alasan pekerjaan dan rumah tangga. Begitu juga dengan Panser yang tak mampu <em>regenerasi</em> karena kehadiran futsal yang sekarang lebih digandrungi para pecinta sepak bola. Namun, aku bisa melihat sebuah <em>graffiti</em> <em>The Jak Mania</em> masih terpajang lebar di antara dinding-dinding Gang Anyar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/lenteng-agung-jakarta-selatan/problematika-the-jak-gang-anyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Mau Kalah</title>
		<link>http://akumassa.org/program/rangkasbitung-lebak-banten/jangan-mau-kalah/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/rangkasbitung-lebak-banten/jangan-mau-kalah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 13:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akumassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rangkasbitung - Lebak, Banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8622</guid>
		<description><![CDATA[Angin musim hujan kadang menguntungkan. Menebarkan udara dingin dan sejuk setiap hari. Tetapi tidak untuk orang pemalas. Ia akan disekap hawa dingin dan akan mudah terlelap tidur. Kemarin Kota Rangkasbitung seharian diguyur hujan. Bulan Januari hujan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Angin musim hujan kadang menguntungkan. Menebarkan udara dingin dan sejuk setiap hari. Tetapi tidak untuk orang pemalas. Ia akan disekap hawa dingin dan akan mudah terlelap tidur. Kemarin Kota Rangkasbitung seharian diguyur hujan. Bulan Januari hujan akan turun di tiap harinya di Lebak, menyegarkan pepohonan, dan meluapkan aliran sungai. Pagi itu matahari bersusah payah melelehkan gulungan awan hitam. Aku menyusuri gang kecil dari rumah menuju Saidjahforum. Jalan gang yang sudah diperbaiki sedemikian rupa menebarkan <em>nostalgia</em>. Dulunya adalah rel kereta api menuju Labuan dan Bayah. Semasa Orde Baru berkuasa jalan kereta sudah tidak berfungsi. Tak lama, jalan baik itu habis berganti dengan jalan tanah basah. Aku harus melompat-lompat kecil mencari pijakan tanah kering. Sebagian potongan rel  terlihat menyembul ke permukaan tanah. Jalur kereta ini sudah tertimbun tanah puluhan tahun lamanya.</p>
<div id="attachment_8623" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8623" title="(1) Jangan Mau Kalah" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Anggota-Saidjah-Forum-berpose-bersama-Misbach.jpg" alt="" width="480" height="319" /><p class="wp-caption-text">Anggota Saidjahforum berpose bersama Misbach</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8622"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampailah di Jembatan Dua. Aku menyeberangi jalan raya. Niat hati memastikan cerita tetangga bahwa di sana terdapat rumah penyewaan komik. Dulu pada tahun 1950-an seorang Ibu tinggal sendirian menyewakan komik berbahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Melayu. Persis di mulut jembatan, ada tangga ke bawah, terbuat dari semen yang sudah rontok. Ada banyak rumah tua di sana. Tetapi yang mana rumah penyewaan komik itu, aku tidak tahu. Tidak ada yang bisa ditanyai karena rumah-rumah di situ masih sepi. Aku melanjutkan jalan kaki sambil mengira-ngira bahwa mungkin rumah tua yang itu. Ah&#8230; tidak, pasti yang sebelahnya. Tidak terasa nafas mulai tersengal karena sudah tidak biasa berjalan kaki dikejar gerimis hujan. Suatu saat nanti aku mungkin bisa mampir dan lebih bercerita. Pada Selasa pagi tanggal 10 Januari 2012, kami kedatangan tamu. Bukan <em>Tamu Agung</em> tetapi sepasang suami istri yang akan bertukar gambaran tentang kegelisahan kerja kreatif. Mereka adalah Misbach Yusa Biran dan Naniek Widjaya. Misbach adalah kawan Usmar Ismail di Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia). Sedangkan Nanik Widjaya adalah aktor film.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-8624" title="(2) Jangan Mau Kalah" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/PIC_0260c-sff.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<div id="attachment_8625" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8625" title="(3) Jangan Mau Kalah" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Misbach-sedang-menceritakan-sejarah-Banten.jpg" alt="" width="480" height="640" /><p class="wp-caption-text">Misbach, tamu yang datang ke SaidjahForum</p></div>
<p style="text-align: justify;">Mereka datang menggunakan mobil sedan hitam <em>automatic</em>. Naniek Widjaya membuka kaca jendela mobil, “Wah&#8230; kok laki-laki semua?” Kawan Saidjah berusaha membantu Misbach berjalan memasuki ruang Saidjahforum. Tetapi dia menolaknya dan berkata, “Saya baik-baik saja”, kami pun tersenyum. Terasa pribumi sopan karena memilih jalan sendiri. Aku mulai menyapa; merasa terhormat <em>Bapak sama Ibu</em> mau datang kesini. Kami sudah pasrah, Bapak tidak bisa datang karena musim hujan, energi, dan kesibukan. Beginilah keadaannya, Pak. Kami minta maaf tidak bisa menjamu dengan baik. Paling nanti hanya ada air putih, teh hangat, dan kue-kue kampung saja. Dia langsung menimpal pembicaraanku, “Sudahlah, tidak usah bicara begitu. Saya masih kaget. Kalian juga kaget. Jadi kita tidak usah ada diskusi serius, ya. Lain kali saja kita bicara lagi. Saya terlambat mengenal kalian. Karena saya sebentar lagi meninggal. Bagaimana kalian?”  Aku menjawab polos, &#8220;Tentu kami baik-baik saja&#8221;. Setelah semua masuk ruangan dan membetulkan duduk masing-masing, pembicaraan dimulai.</p>
<div id="attachment_8626" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8626" title="(4) Jangan Mau Kalah" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Kawan-kawan-Saidjah-sedang-mendengarkan-Misbach.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Kawan-kawan Saidjah sedang mendengarkan Misbach</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Cirebon ketika ingin membuat provinsi sendiri orang-orangnya berkata, ‘Jangan mimpi kepanjangan. Nanti <em>kayak</em> Banten.&#8217; Apa enak dengarnya, jangan  <em>kayak</em> Banten karena jadi daerahnya tertinggal. Rasa malu tidak perlu diucapkan, malu <em>dong</em>. Tetapi orang Banten harus punya kebanggaan sebagai suku bangsa yang hebat. Itu dulu, <em>b</em><em>aheula</em><em> </em>(masa lalu). Kebanggaan itu sudah berakhir pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Periode Tirtayasa ke atas hebat. Daerah ini menjadi pelabuhan penting di Asia Tenggara dan Dunia. Setelah  ia dihukum dan diadu domba dengan adiknya. Lalu ia meninggal. Setelah itu kesultanan Banten merosot sampai sekarang. Sayang bukunya hilang. Ada buku yang memuat surat raja-raja di Nusantara selama mereka berhubungan dengan pihak Belanda. Biasanya wakil dari Ratu Belanda di Indonesia diberi nama  Gubernur Jenderal Belanda. Nah, saat itu ada pergantian Sultan di beberapa kerajaan. Sultan baru membuat surat pada gubernur. ‘Ýang mulia Gubernur Jenderal, kami… begini…  begini&#8230; begini&#8230;, supaya diangkat jadi Sultan.’ Sedangan sultan Banten di suratnya bukan <em>pake</em> kata ‘Yang Mulia’. Tetapi <em>pake</em> kata ‘Ayahanda.’ Tangan Misbach memegangi kedua lutut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah jadi penjilat, bukan main, ‘AYAHANDA!&#8217;. Gimana caranya, orang Banten ayahnya  Belanda. Ya Allah…!! Kedua jari tanganya dirapatkan sambil di pukul-pukulkan ke batas permukaan meja. “Tidak ada surat darimana-mana yang mengatakan Belanda sebagai ayah, kecuali Banten.”<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rob: </strong>“Mungkin bentuk penghormatan saja, Pak.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong>  “Itu bukan penghormatan. Tapi <em>saking</em> tolol-tololnya.” [semua tertawa]<strong> </strong></p>
<p><strong>Rob: </strong>“Mungkin seperti SBY menyebut Barack Obama menjadi ‘Yang Mulia’.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Misbach:</strong>  “Ahh..itu biasa. Soalnya sampai sekarang duta besar (dubes) masih disebut ‘Yang Mulia’. Ngga bisa &#8217;<em>My dear&#8217;, </em>itu tidak boleh. Kalau berdua, boleh. Tapi kalau resmi, tidak boleh. Masa orang Banten bilangnya ‘Ayahandaaa..!!’ [Ia menggelengan kepala] “Tirtayasa saja mati-matian tidak mengijinkan Belanda memainkan  monopoli dagang. Karena itu perbuatan licik. <em>Lah..</em><em>.</em> ini <em>sama</em> generasi selanjutnya malah dijilat habis. Ketika perpindahan kekuasaan dari VOC karena mereka terpuruk digerogoti korupsi. Kita dijual ke pemerintah Belanda. Maka seluruh negeri ini disebut <em>Nederland Hindia. </em>India punya <em>Nederland. </em>Dulu negeri ini namanya disebut <em>Hindia </em>karena penduduknya mayoritas Hindu. India betulan disebut <em>British India. </em>India punya Inggris. Semua tertawa. [Misbach melanjutkan pembicaraanya.] “Itulah sejarahnya yang membuat kita terpuruk menjadi bangsa yang terjajah. Tidak punya kebanggaan apa-apa. Nah&#8230; ketika Belanda berkuasa, seluruh orang Banten menarik diri. Tidak mau bekerjasama dengan orang Belanda. Sampai sekolah pun tidak mau. Nah&#8230; itu yang membuat kita semakin tertinggal. Orang lain sekolah terus saat Belanda menjajah. Sedangkan kita tidak mau.” [Suasana hening.]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>&#8220;Dulu, dua sungai yang mengelilingi Kota Rangkasbitung jadi transportasi warga menggunakan <em>getek </em>[apungan yang terbuat dari batang-batang bambu]. Sungai <em>Ci Beurang </em>dan <em>Ci Ujung. </em>Semua petani yang membawa hasil bumi berhenti di Lebak Pasar. Di situ tempat transaksi pedagang dan pembeli. Nanti para pedagang membawa lagi hasil bumi itu menggunaka <em>getek </em>ke Pontang. Lalu dua sungai ini berubah fungsi karena muncul kereta api ke Bayah, Labuan, Serang dan Berhenti di Rangkasbitung. Nah, ini penyebabnya. Saya curiga daerah ini beku dimulai dari situ. Semua orang yang mau menuju Jakarta akan berhenti di sini. Tetapi ini bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah mental orang Lebak yang tidak menerima kemajuan. Kalaupun situasi berkembang, semata-mata itu bukan orang Lebaknya. Orang luar yang berkembang. Nah&#8230; itu permasalahan di kita, susah untuk dibicarakan. Jadi kesimpulannya bagaimana, Fuad? Apakah karena sikap kita yang menerima apa adanya saja? Lantas tidak mau  ke luar dari situasi ini. Tidak ada keberanian ambil resiko dan tidak punya rasa malu. Ini jaman <em>Modern Tim</em><em>se </em>(merujuk film Charlie Chaplin, 1936), kita suka tertawa saja<em>“seserian bae, naon anu diseng seriukeun? </em>(tertawa saja, apa yang ditertawakan?).” [Suasana hening dan kawan Saidjah sedikit menundukan kepala.]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Siapa yang tahu tubuh Gajah Mada itu besar dan gagah. Mungkin saja kurus! Andaikan saja jaman Sukarno, Gajah Mada tidak ada fotonya,kita tidak pernah tahu sosoknya. Gajah Mada sosoknya tidak selalu besar. Tapi oleh Bung Karno dibuat <em>gede</em> supaya kita semua bangkit. Lalu dibawa ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),‘Inilah bangsa Indonesia.’ Amerika marah karena dia tahu kita ‘miskin’. Pahlawan tidak selalu berbadan besar. Tapi itu untuk mengobati kebanggan(siasat). Nah inilah kebanggaan, salah satunya. Karena orang-orang Banten hanya kuli-kuli pelabuhan. Kuli angkut di kota. Jawara dan <em>tukah teluh</em> (santet). Hanya itu saja. [Semua kawan Saidjah merunduk dan telinga masing-masing mulai memerah.]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kuni:</strong> “Memang, saat itu Miing (komedian ibu kota, mantan Bagito grup) ketika <em>nyalon</em> Gubernur, dia selalu <em>ngaku</em> berasal dari Banten. Tidak dari sini.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Makanya dia malu  bilang Rangkasbitung. Padahal daerah ini ada yang menonjol dari dulu. Multatuli. Di dunia nama Multatuli dikenal. Apalagi orang Lebak, pastilah dikenal <em>tuh</em> oleh masyarakat dunia. Tapi untungnya sekarang <em>enggak</em>. Karena apa, itu saya tidak tahu. Nah, itulah rasa kebanggaan. Dan kebanggaan inilah yang harus dibangkitkan. Dari dulu kita memiliki banyak pahlawan. Dari mulai KH.Wasid sebagai pemberontak. Tapi dia berontak cuma seminggu.<strong> </strong></p>
<p><strong>Aboy: </strong>“Berontak <em>apaan</em> itu?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Misbach: </strong>“Orang berontak harus bertahun-tahun. Ini berontak, masa&#8217; seminggu langsung habis. Karena tidak pakai strategi dan tidak pakai apa-apa. Bagaimana berontak, tidak ada persatuan dan tidak ada kekuatan. Mereka mengamuk tidak karuan. Orang Jawa, Diponogoro berontak 5 tahun. Tapi akhirnya dibuang juga oleh Belanda. Di Padang ada Imam Bonjol, 15 tahun berontak, tapi dibuang-buang juga <em>tuh</em>. Sedangkan Jepang empat bulan datang kesini. <em>Banzai..</em><em>.! </em>Belanda habis diserbu. Habis! Mereka hanya butuh waktu 4 bulan saja. Nah, kurang apa kita. Lihat pemberontakan yang dilakukan Sisingamangaraja. Ujung-ujungnya, dengan <em>dompaknya</em> ia dibuang juga. Satu pun tidak ada yang menang pahlawan kita. Imam Bonjol dibuang, Diponogoro dibuang, tidak ada yang menang satupun. Tempat pemberontakan di mana saja. Jogjakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Padang. Hanya itu-itu saja. Lihat bagaimana orang Jepang hanya butuh waktu 4 bulan untuk menaklukan Indonesia. Apa mereka butuh waktu banyak! Empat bulan waktu berlalu dan Indonesia ada digenggaman tangan mereka.”[Suasana hening dan Bima mondar-mandir mencari kertas catatan di lorong ruangan.]<strong> </strong></p>
<p><strong>Fuad: </strong>“Lalu bagaimana dengan reaksi masyarakat dunia?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Media-media berita dunia menulis ‘Kenapa Jepang bisa menaklukan Indonesia&#8217;. Semua orang Barat merasa aneh. Orang Jepang bilang, ‘Kalian tahu, Belanda itu miskin. Mereka hanya ahli membuat keju saja&#8217;. Kecil negerinya. Kalau keliling dimulai dari kota Amsterdam; berangkat jam sepuluh pagi pulang mahgrib. Negerinya sudah habis dikelilingi. Saya lewati taman Bunga Tulip menelusuri kota-kota kecil dan pulang ke tempat semula. Negaranya cuma segitu-gitu saja <em>tuh</em>. Kacau&#8230;! negara sekecil itu bisa menguasai negara Indonesia. Bagaimana mungkin negara sekecil itu bisa menguasai Indonesia. Kenapa? Dimulai dari kerajaan Banten dan kerajaan yang ada di Indonesia semuanya ditumpas habis oleh Belanda. [Kulit jidat Kawan Saidjah mulai berkerut serius. Masing-masing bersidekap kembali fokus mendengar pembicaraan.]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Nah, di Jepang suatu ketika. Portugis atau Eropa memulai dagang ke negeri mereka tahun 15 sekian. Mereka terkagum-kagum sama orang Portugis karena memiliki senjata dengan kecepatan membunuh melebihi kemampuan para <em>samurai</em>. Senjata dengan jelajah jauh. Apa yang orang Jepang lakukan? Ada tiga yang mereka lakukan. Kesatu, tiru. Kedua, buat. Ketiga, mengobarkan semangat tradisi kuno <em>samurai</em>. Belanda yang bercokol di sini lebih dari seratus tahun dihabisi mereka. Kita tidak bisa melakukan cara-cara Jepang karena kita berhenti di titik kebanggaan yang katanya, golok beracun, tombak sakti, dan keris bisa terbang. Sakti <em>apaan</em> itu? Sekarang soal itu jangan didengar. Kalau untuk kebohongan boleh lah. Tapi kalau untuk perkembangan, kebohongan soal itu harus ditinggalkan. Mau apalagi? Katanya, golok dan keris itu sakti. Sama Belanda, golok dan keris itu tidak bergerak <em>tuh</em>.” [Suara pesawat terbang melintas dan obrolan terhenti sesaat.]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Kita kembali ke kerajaan Banten dan Mataram yang meniru musuhnya menggunakan jawara dan senjata untuk melawan musuh . Tapi semuanya tidak berguna karena habis oleh <em>c</em><em>annon</em>. Kita tidak usah asyik dengan tradisi menggunakan golok, keris, dan tombak. Biarlah senjata itu milik masa lalu yang dibanggakan.”</p>
<p><strong>Helmi:</strong> “Lalu bagaimana dengan Jaman Revolusi Pak?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong><strong>Misbach:</strong> “Yang begitu-begitu, jaman Revolusi ada. Pada tahun 1941 di stasiun kereta api Rangkasbitung, santri-santri berusaha merampas kereta api Belanda. Semua pergelangan tangannya diikat gelang terbuat dari bambu kuning (Bambu dipercaya membuat tubuh menjadi sakti).  Lalu mereka teriak menyebut Tuhan, &#8216;Allahuakbarrrr!&#8217; Kereta tetap tidak mau membawa mereka. Dan santri malu menghampiri masinis Belanda yang membawa senjata. Akhirnya mereka mengikut kereta dari gerbong belakang, sampai di Serpong. [Ia mengibaskan kedua tangannya di depan dada.] “Sisanya ditangkap Belanda dan dibunuh di penjara Jakarta. Jadi baiknya kita tidak usah meniru sejarah seperti itu lagi. Sekarang kita harus berpikir modern dulu. Soal itu belum selesai. Jangan <em>sok</em> Kontemporer. Kita sudah melompat-lompat seperti orang bodoh. Kita harus berpikir dewasa ini dengan segala daya pikiran yang sangat keras.”<strong> </strong></p>
<p><strong>Fuad:</strong> “Di sini persoalan agama sangat kuat.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Tentu agama di Banten tidak boleh ditinggalkan. Kalau kita tahu agama. Itu akan mengurangi perilaku anarkis. Tujuannya untuk menyeimbangkan persoalan moral dan amoral. Sudah tahu agama. Hiduplah sederhana. <em>Paeh geh moal kamamana</em><em> </em>(mati tidak akan kemana). Ya begitu saja pemikirannya orang-orang di sini. Semasa kecil, sekolah ke Jakarta dianggap <em>kafir</em> atau bakal <em>kafir</em>. Karena begitu ke Jakarta akan melupakan sembahyang. [Kursi yang diduduki Misbach terguncang-guncang] Semua kembali tertawa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Godaannya main dan menonton. Kata orang tua, ‘Mau <em>gimana</em> kalau kerjanya cuma begitu.’ Memang agama itu bagus. Tentunya tiap daerah harus memiliki ahli agama. Tapi jangan semuanya jadi ahli agama. Yang lain harus ada yang ahli mengurai pikiran, pengetahuan dan teknologi, nah itu. Sekarang bagaimana dengan kalian? Langkah-langkah awalnya kalian seperti mau jadi orang besar. Apa masalahnya yang menghalangi perkembangan di sini? Saya belum mendengar pemikiran jadi tukang ahli ‘servis televisi’ dan ‘tukang bengkel’.  Kebanyakan yang usaha televisi dan bengkel. Orang Jawa, dari mulai bengkel seni lukis, patung, sampai pemilik televisi ada. Sepertinya kalian harus mendatangkan ahli-ahli ke sini. Mintalah mereka untuk unjuk keahlian dan mengajar di sini sebentar. Tentu bidangnya masih banyak pilihan sesuai kebutuhan. Jadi akan ada banyak bidang-bidang lain yang bisa ditemui selain pedagang di Pasar dan Pegawai Pemerintahan. Selalu yang dipirkan negatif-negatifnya saja. <em>Lamun  payu, coba lamun teu payu </em>(mending laku, coba kalau tidak laku). Hanya itu saja yang terpikir. Jadi jangan pikir jeleknya. Suatu hari ada orang Lebak diberi uang satu milyar. Ditabunglah uang itu di Bank. Dia ambil uang itu sedikit saja untuk dibelikan <em>angkot </em>[kendaraan kecil angkutan kota]. Lalu ia jadi supir <em>angkot. </em>Uang satu milyar itu hanya mengangkat statusnya jadi sopir <em>angkot.</em> Uang satu milyar itu ‘Saya mau ambil seratus juta saja. Untuk apa? ‘Untuk beli angkot.’ Maka jadilah ia sopir <em>angkot</em><em> </em>seumur-umur. Tetapi kalau orang Cina, uang satu milyar dia pakai untuk membuat pabrik. Nah, ini yang mesti diubah. Harus berubah dan ada keberanian untuk ambil resiko. Mental itu jarang dimiliki bangsa kita. Keberanian untuk mengambil resiko pahit.”<strong> </strong></p>
<p><strong>Kuni:</strong> “Mental orang Banten dari dulu begitu?”<strong> </strong></p>
<p><strong>Misbach:</strong>  “Ya&#8230; begitu.”</p>
<p><strong>Aboy: </strong>“Buktinya sampai sekarang?”<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach: </strong>Hahahaha… Mana coba, kebiasaan-kebiasaan yang berani keluar dari orang Banten. Tidak ada! Kalau ada bengkel besar di sini, pastilah pemiliknya orang Cina. Jelas situasi ini tidak begitu saja bisa berubah. Perilaku dibentuk oleh sejarah yang panjang. Kalau kita mengikuti sejarah seperti itu, akan sulit bisa berubah.<strong> </strong></p>
<p><strong>Kuni: </strong>“Disini juga ada Tawon (mobil tawon).”<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong>  “Itu sih pabrik.<strong> </strong>Kalau <strong> </strong>produksi di pabrik semua orang juga bisa. Paling-paling orang Rangkas jadi kulinya. Saya pernah bertemu pelayan penginapan berbintang bagus di Carita (daerah pesisir di Selat Sunda Banten). Mereka bersih dan rapih. Bahasa tuturnya bagus. Saya mendengar dia menggunakan bahasa Sunda. Saya tanya, &#8216;Kamu orang mana?&#8221;Orang Tasik.&#8217; Lalu saya tanya lagi, &#8216;Orang sini tidak ada yang kerja di sini?&#8217; Dia bingung menjawab. Padahal saya juga bingung saat itu. Kenapa pekerjaan penting selalu dijabat oleh orang asing. Dia akhirnya menjawab ‘Ada, Pak,<em>tuh</em>&#8230;’,tangannya menunjuk ke luar. Ternyata orang sini hanya jadi <em>h</em><em>ansip</em> (penjaga kampung yang dibentuk Jepang). Waduh&#8230; bagaimana itu bisa diubah.  Itu yang membuat kita tidak berkembang. Coba kita <em>mesti</em> <em>gimana</em>?<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Banyak orang yang membuat karya terus berpuas diri lalu dimakan oleh kepuasannya. Terus menghilang begitu saja. Itu tidak menarik. Harus ada efeknya. Kalian harus membuka pintu dan jendela. Citra itu dibentuk oleh ke taatan. Biasanya kalau sudah bergaul sering lupa. Boleh lah kalian mau terus belajar membuat film. Ikan dipancing tidak najis. Kalau mau pancing ikan <em>gede</em>nya&#8230; umpannya harus <em>gede</em>. Ikan paus umpannya ikan teri, tidak bisa. Ikan <em>gede </em>pancingnya udang, tidak bisa. Ya&#8230; pasti <em>ng</em><em>gak</em> dimakan. Dia <em>ng</em><em>gak</em> doyan. Begitulah, kerja-kerja begini harus terus dikerjakan. Yang kecil-kecil saja dulu. Yang penting ada langkah maju. Jangan <em>muter-mute</em>r melulu. Ya&#8230; pasti <em>ng</em><em>gak</em> ada yang jadi. Jangan sampai keburu menikah. Kalau sudah menikah lalu punya anak pasti akan susah.”<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B</strong><strong>a</strong><strong>d</strong><strong>r</strong><strong>u: </strong>“Assalamualaikum…wah, sudah dimulai, yah? Diskusi tentang apa ini? Saya sudah ketinggalan jauh. Saya dengar kok bicaranya langsung menikah. <em>Siganamah obrolana geus jero yeuh </em>(sepertinya obrolannya sudah dalam). Siapa yang menikah?” [semua tertawa]</p>
<p><strong> </strong><strong>Helmi: </strong>“Silakan masuk, Bos.”<strong> </strong></p>
<p><strong>Fuad: &#8221;</strong>Oyah&#8230; kenalkan, Pak. Ini pendatang baru. Dia pekerja video dan foto nikahan dari Pandeglang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach: “</strong>Wah hebat. Sudah punya usaha sendiri. [Semua kembali meminum air putih. Aboy sibuk mencari kursi tambahan. Ia mengeluarkan <em>salon </em>(pengeras suara) untuk dijadikan kursi]</p>
<p style="text-align: justify;">“Asalkan istri setia mendukung dan suami bisa berkorban. Maka, itulah dinamika rumah tangga. Bagi yang belum punya istri segera kebut perjalanan. Kelak kalian akan menemukan istri yang ideal. Di jaman perjuangan ada perempuan sederhana. Ramah, santun, disiplin, lembut, setia, penyabar, mau belajar, dan terus berusaha mendukung suami. Dia istri pertama Bung Karno, Inggit (Inggit Ganarsih). Sukarno bisa bertahan karenanya. Tanpa wanita itu mana bisa dia begitu. Sukarno kerjanya pidato dan keluar masuk penjara. Sampai Sukarno dibuang kemana-mana. Ia tetap setia ikut. Jadi kalau mau punya istri usahakan yang bisa mendukung suami.</p>
<p style="text-align: justify;">Baiklah kita mulai obrolan lagi. Boleh saja kalian memilih fokus membuat film dokumenter. Tapi itu tidak mudah. Karena dokumenter merekam realita untuk melihat di balik realita. Bukan hanya merekam begitu saja. Ambilan gambar harus disusun dan harus bisa ditafsir lebih jauh. Jangan terjebak estetik. Kalau kalian ingin menggambarkan Lebak itu tertinggal, mandeg, dan beku misalnya, inilah realita, bukan omong kosong atau fiksi. Carilah gambar yang tidak orang pusing dan sakit hati. Jangan harap bisa mengubah situasi dengan cepat lewat dokumenter. Jika kalian ingin mengkritik daerah ini dengan dokumenter, jangannlah menyingung orang. Karena mereka tidak akan menerima begitu saja. Kalau masyarakatnya maju seperti Amerika bisa saja terbuka. Kalau di kita soal-soal itu sangat sensitif. Bagaimana caranya kalian merekam objek-objek sedemikian rupa tanpa menyinggung mereka.  Bagiamana caranya membicarakan ketertinggalan tanpa harus menunjukan ketertinggalan. Buatlah reaksi penonton sampai ‘Oohh&#8230; ya kita sudah tertinggal.’  Saya pikir film dokumenter bukan soal membuat kue yang bagus. Tetapi harus punya nilai. Rumusan awal film dokumenter harus jelas. Dibuat untuk siapa dan apa?”</p>
<div id="attachment_8627" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8627" title="(5) Kawan-kawan Saidjah sedang mendengarkan Misbach" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Susana-diskusi.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Suasana diskusi</p></div>
<p><strong>Fuad: </strong>“Maksud Bapak menentukan lebih dulu penonton?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach:</strong> “Bukan penonton. Habis perkara kalau kalian <em>ngomongin</em> mereka. Kalau kita mau <em>ngomong</em>, dengan siapa kita <em>ngomongnya</em>?<strong> </strong>Sama orang itu bagaimana bentuk <em>ngomongnya</em>. Bukan hanya sekedar informatif dan komunikatif saja. Komunikasi di film dokumenter sangat cepat. Jangan samakan seperti membaca buku yang bisa dibolak-balik lalu bisa paham. Ada sentuhan pikiran dan perasaan. Contoh sederhana begini, B.J. Habibie bicara benar. Tapi kalau benar saja,<em>gimana tuh</em>? Tidak menyentuh. Seperti mereka yang membicarakan realita di film <em>Laskar Pelangi</em>. Daerah Bangka. Datanya tidak begitu akurat. Tetapi karena menyentuh perasaan pada akhirnya mereka bisa terima. Filmnya hanya<em> gitu-gitu aja</em>. Cuma membuat perbandingan. Misalnya, sekolah itu miskin dan jelek. Memangnya kalau jelek dan miskin kenapa? &#8216;ya&#8230; begitu keadaannya karena orang-orang kaya tidak memperhatikanya sekolah ini.&#8217;  Apa cuma sekolah ini? Apa tidak ada sekolah lain? Jelas penonton tidak akan tanya soal itu. Sudah tahu Muhammadiyah tidak mau diartikan, lalu kenapa kalian coba-coba mengartikan, apa kalian kurang kerjaan?”<strong> </strong></p>
<p><strong>Fuad: </strong>“Apakah harus dibuat linear?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach: </strong>“Tidak usah dibuat linear juga. Tapi runut pengertiannya. Jangan ambil tiba-tiba orang mandi lalu pindah ke sini. Mereka pasti bingung. Ini apa maksudnya [semua tertawa]. Memang anak muda selalu mengalami kegelisahan. Termasuk saya yang sudah tua ini. Banyak ingin berbuat aneh. H.B. Jasin orang yang banyak memunculkan &#8216;orang aneh&#8217; (tokoh sastra). Sampai ada istilah kalau karya sastra tidak dimuat dan dikritik Jassin maka belum sah jadi sastrawan. Saya menolak itu. Saya benci kritik Jassin. Tapi toh pada akhirnya kami saling memahami satu sama lain. Anak muda harus menerobos dan selalu mencoba berbuat ke arah yang lebih baik. Jika kalian ingin melakukan sesuatu yang baik, ikuti itu. Jadilah pemberontak sadar yang berani dan bertanggung jawab. Dulu pada saat sastra Sah Bandar, Romantik, yang memakai pakaian Belanda. Wah pokoknya gagah [suara rekaman tidak jelas]. Karya sastra Layar Berkembang (karya Sutan Takdir Alisjhabana).  Yamin menulis ‘Gelombang Memecah Pantai.’ Muncul lah anak muda, Chairil Anwar. Dia bicara dan menulis &#8216;kacau balau&#8217;. Waduh apalagi ini? Tiba-tiba sekelas Jassin menerima dia. Yang lain menolak Chairil. Apa ini: &#8216;Aku&#8217; koma, garis baru koma, &#8216;Aku&#8217; garis baru,’ ngapain dia bikin garis baru? &#8216;Kalau memang saya mau membuat garis baru, memangnya kenapa?&#8217; Jadi peristiwa itu sudah membuat pembaharuan sastra. Saat itu Sutan Takdir , Yamin, dan yang lain menolak: ‘Ini apa, tulisannya merusak bahasa’. Mana ada tulisan &#8216;Kumau&#8217;. Yang ada &#8216;Aku mau&#8217;.&#8217; Chairil jawab: ‘Kumau tidak ada, saya bikin ada!. ‘ [semua tertawa]</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah anak muda. Sampai sekarang begitu terus. &#8216;Kumau&#8217; tetap ada. Sudah mati kapan-kapan kan. Mulailah saat itu pemberontakan dilakukan Chairil, Arsul Sani, dan Rivai Apin. (tiga menguak takdir dan surat kepercayaan gelanggang)”<strong> </strong></p>
<p><strong>Kuni: </strong>“Kalau <em>mbe</em><em>ling</em><em>-mbe</em><em>ling</em> itu (karya sastra <em>mbeling</em>), yang dibuat Remi Sylado.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Misbach: </strong>“Halah..itu sama saja. <em>mbeling</em>&#8230; <em>mbe</em><em>ling</em> <em>apaan</em>. Itu sih belum apa-apa dibanding pemberotakan Chairil yang menyentuh politik dan segala macam. Chairil bicara pada Bung Hatta dan Sukarno, &#8216;Aku bosan mendengar suaramu.&#8217; Jaman itu dia sudah berani <em>ngomong</em> begitu, soal &#8216;<em>Kerawang Bekasi</em>&#8216; itu luar biasa sentuhannya. Saya tidak tahu karya itu masih berharga atau tidak untuk kita.”[Obrolan terhenti karena <em>Teh Nyai </em>berteriak menjanjakan kue]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Ini anak melakukan itu, saat perang berguna <em>engga</em><em>k</em><em>,</em> <em>sih</em>? Berguna! Tapi orang sudah melupakannya, itu masa lalu. Tidak. Ini karya dibuat dengan darah dan nyawa. Sudah berpuluh-puluh tahun berlalu. Apakah generasi sekarang ingat itu? &#8216;Mayat saat itu berserakan digigit Anjing&#8217;. Tahun-tahun itu sajak dibuat Chairil, walaupun sajaknya agak plagiat. Asal mulanya adalah <em>The Young Dead Soldiers Do Not Speak</em>.Rupanya ditiru oleh Chairil. Tetapi tidak semuanya. Isinya begitu kuat sehingga tidak mudah dilupakan. Tidak apalah <em>niru-niru</em> sedikit.”<strong> </strong></p>
<p><strong>Rob: </strong>“Tapi tidak semua kan?”<strong> </strong></p>
<p><strong>Kuni: </strong>“Peniru hebat”<strong> </strong></p>
<p><strong>Misbach: </strong>“Kalau saya ambil, tetap harus bilang. Apa susahnya sih.” [Misbach mengetok meja dengan kedua jari dirapatkan ke sisi permukaan meja]<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Sekali lagi kalian jangan mendengarkan saya. Kalau kalian dengar, ini seperti ceramah. Saya tidak mau kalian punya pandangan begitu. Kalian sudah memiliki kerja-kerja beginian. Sudah banyak waktu yang kalian lewati. Saya datang dan bicara ke sini untuk menggoncang otak dan keyakinan kerja kalian. Jadi semuaya tidak bisa diraih begitu saja. Kalau orang penjajah kemari lagi kita akan kembali memegang tombak yang tak berguna. Mereka sudah mahir membuat pesawat. Lalu bagaimana dengan kita? Masa lalu kita diuntungkan kedatangan bangsa pedagang Islam yang sedikitnya memberikan perkembangan [sejarah islam di Banten]. Walaupun ujungnya hanya membuat kita jadi punya watak pemberontak. Sudahlah, itu periode masa kacau. Cukup saya saja yang mengalami. Lalu setelah itu kita mau bagaimana? Sedikit demi sedikit kita harus menempa kembali kemampuan masing-masing.”<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fuad: </strong>“Minum dulu, Pak. Bapak sudah banyak bicara tentang gambaran sejarah dan kota ini. Tidak adil jika Bapak terus cerita sedangkan kami tidak. Saya pikir kawan-kawan di sini harus cerita juga soal di sini selama Bapak tidak ada. Mungkin seperti pertukaran catatan. Bapak melihat dari luar dan kami di sini sebagai pelaku atau orang-orang yang terlibat langsung di kehidupan &#8216;kota beku” menurut padangan Bapak.” Suasana kembali hening dan semua yang ada di ruang itu menghela nafas dalam seperti habis melakukan perjalanan jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali tenang. Tetapi ketenangan ini seperti rapuh belaka. Semuanya kembali menuangkan air mineral dari botol plastik ke dalam gelas. Kue <em>cucur, papais, lontong, </em>dan<em> agar-agar </em>di atas meja berwarna hitam menjadi saksi obrolan. Gerombolan burung gereja di balik jendela kaca belakang kepalaku berhamburan terbang. Di luar ruangan  tempat kami bicara mulai gelap. Gulungan awan hitam kembali muncul menyelimuti kota yang tebawa angin laut dari selatan. Pelan-pelan butiran hujan berjatuhan mengeluarkan suara <em>pletak..</em><em>. pletek&#8230; pletuk&#8230; </em>Lembaran kertas catatan obrolan di atas meja seperti menjadi gulungan surat karena hawa dingin. Aku khawatir tulisannya sukar dibaca karena cepat menulis obrolan.  Aku takut tulisan itu seperti catatan  orang kalut. Ini pekerjaan sukar, mentranskrip obrolan lewat catatan dan satu potong rekaman suara tidak jelas. Di akhir obrolan,  Misbach seperti melantur dan tidak bisa berkata pasti soal pertemuan kembali dengan kami. Angin musim hujan menyentak-nyentak lengan kemeja pendeknya yang berwarna hijau bergaris. Lama-kelamaan gerak lengannya terasa mulai berat. Tetapi aku menduga angin hujan lah yang berat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/rangkasbitung-lebak-banten/jangan-mau-kalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Eh Ujan Gerimis Aje</title>
		<link>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/eh-ujan-gerimis-aje/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/eh-ujan-gerimis-aje/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 16:04:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akumassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Depok, Jawa Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8608</guid>
		<description><![CDATA[Komik strip ini merupakan karya seni torehan jari lentik Otty Widasari dengan pena di atas kertas. Komik ini dibuat pada tanggal 4 Januari 2012, yang didedikasikan untuk halaman katalog pemutaran video akumassa Depok pada tanggal 8 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Komik strip ini merupakan karya seni torehan jari lentik Otty Widasari dengan pena di atas kertas. Komik ini dibuat pada tanggal 4 Januari 2012, yang didedikasikan untuk halaman katalog pemutaran video <em>akumassa</em> Depok pada tanggal 8 Januari 2012.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8609" title="(1) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/1-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="349" /></p>
<p><span id="more-8608"></span></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8610" title="(2) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/2-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="314" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8611" title="(3) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/3-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="367" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8612" title="(4) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/4-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="324" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8613" title="(5) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/5-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="360" /></p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-8614" title="(6) Komik Strip" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/6-Komik-Strip.jpg" alt="" width="480" height="345" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/eh-ujan-gerimis-aje/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Acara Pemutaran Video akumassa Depok</title>
		<link>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/acara-pemutaran-video-akumassa-depok/</link>
		<comments>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/acara-pemutaran-video-akumassa-depok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 13:05:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akumassa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Depok, Jawa Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akumassa.org/?p=8599</guid>
		<description><![CDATA[Waktu sudah menunjuk pukul 19.30, infokus menembak cahayanya ke dinding putih dan lampu pun dimatikan. Semua mata pengunjung menuju ke layar yang memutarkan 7 karya video akumassa Depok. Cukup ramai malam itu, meskipun publikasi kami sebarkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Waktu sudah menunjuk pukul 19.30, infokus menembak cahayanya ke dinding putih dan lampu pun dimatikan. Semua mata pengunjung menuju ke layar yang memutarkan 7 karya video akumassa Depok. Cukup ramai malam itu, meskipun publikasi kami sebarkan sore kemarin.</p>
<div id="attachment_8600" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8600" title="(1) Acara Pemutaran Video akumassa Depok" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Pemutaran-video-akumassa-Depok.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Pemutaran video akumassa Depok</p></div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8599"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ya, acara pada hari itu tanggal 8 Januari 2012 menjadi puncak <em>workshop akumassa</em> Depok yang telah kami laksanakan selama 3 bulan. Acara berjalan molor setengah jam dari waktu yang sudah ditentukan. Para hadirin juga sudah menunggu di teras perpustakaan Forum Lenteng untuk menyaksikan video yang kami putar dan dipresentasikan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Selamat malam teman-teman yang sudah hadir di acara pemutaran video <em>akumassa</em> Depok. Kami akan mempersembahkan tujuh video yang telah kami buat selama proses <em>workshop</em> <em>akumassa</em> di Kota Depok.” Itulah sepenggal kalimat pembukaan dari kawan kami, Akbar dan Jayu.</p>
<div id="attachment_8602" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8602" title="(2) Acara Pemutaran Video akumassa Depok" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Pembukaan-acara-pemutaran-video-akumassa-Depok.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Pembukaan acara pemutaran video akumassa Depok</p></div>
<p style="text-align: justify;">Tombol <em>play</em> ditekan, para hadirin mulai menyaksikan video secara seksama sambil menikmati makanan dan minuman yang telah kami sediakan. Video pertama yang kami putar adalah <em>Banjir Tanpa Libur</em>. Video ini menampilkan suasana banjir di RT 11 Rw 03, Pondok Labu , Jakarta Selatan.  Dalam video berdurasi 20 menit 23 detik ini penonton dapat melihat aktivitas warga yang terendam banjir akibat penyempitan Kali Krukut oleh Marinir. Namun, penonton juga dapat menyaksikan bagaimana pihak Marinir menyelesaikan masalah banjir tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian diputar video <em>Suara Depok</em> yang berdurasi hampir 12 menit. Video ini menampilkan kehadiran <em>sound system</em> dengan <em>volume</em> keras yang berisi siaran <em>Cemerlang Radio</em> di Jalan Margonda Raya. Para penonton banyak yang tertawa saat menyaksikan video tersebut. Karena radio itu menyiarkan beberapa berita dengan gaya yang satir sehingga menjadi lucu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Blora di Ujung Depok</em> menjadi video yang ketiga. Video ini merekam aktivitas massa di perbatasan antara Depok dan Tangerang Selatan. Di sebuah warung kopi kami merekam percakapan buruh bangunan yang berasal dari Blora. Video ini juga mendapat respon yang positif dari penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">Bingkaian kami untuk Terminal Depok terpecah menjadi dua video, salah satunya <em>KPP</em>. Dalam durasi hampir sembilan menit ini bercerita tentang sebuah kartu pengenal untuk supir yang dibuat secara gotong royong. Dari video ini penonton mendapat informasi kebersamaan para penghuni terminal untuk menyelesaikan masalah mereka secara kolektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya video <em>Pemilu</em>. Video ini merekam proses pemilihan RT 10 RW 02 di Lenteng Agung. Acara pemilihan RT ini terbilang meriah, bahkan hampir menyerupai pemilihan umum lima tahun sekali. Para penonton tertawa , ketika melihat aksi warga menyiram calon yang juara dengan air sebagai bentuk kegembiraan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke Terminal Depok. Dalam video ini kami menampilkan kehadiran Rumah Baca di tengah sibuknya aktivitas lalu-lintas dan retribusi. Sehingga kami memberi judul <em>Terminal Belajar </em>untuk video ini. Dalam video ini penonton dapat menyaksikan bagaimana usaha para pendiri rumah baca untuk mendapat dukungan dari pihak luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir kami menampilkan <em>Kubah Emas</em>. Video berdurasi lebih dari 35 menit ini menceritakan keberadaan sebuah masjid yang megah dan fenomenal, karena kubahnya yang besar dilapisi emas. Dari video ini penonton dapat menyaksikan aktivitas massa di sebuah situs wisata religius.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ke tujuh video diputar, lampu dinyalakan dan infokus dimatikan. Kami memulai diskusi seputar tujuh video itu. Kami semua partisipan akumassa duduk berjejer di depan untuk menjawab apresiasi dari para hadirin. Banyak kritik dan pujian kami terima.  Dari keseluruhan video yang kami putar, <em>Banjir Tanpa Libur </em>dan<em> Pemilu</em> lah yang paling mendapat respon positif dari penonton. Penonton mengakui kedua video tersebut sangat menggambarkan isu lokal tanpa bertele-tele dan tetap objektif.</p>
<div id="attachment_8604" class="wp-caption alignnone" style="width: 490px"><img class="size-full wp-image-8604" title="(3) Acara Pemutaran Video akumassa Depok" src="http://akumassa.org/wp-content/uploads/2012/01/Diskusi-video-akumassa-Depok1.jpg" alt="" width="480" height="360" /><p class="wp-caption-text">Suasana diskusi video akumassa Depok</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kemudian video yang paling mendapat kritik adalah <em>Kubah Emas</em>. Penonton merasa tidak mendapat informasi yang jelas, bahkan terasa membosankan. Ketua Koordinator <em>akumassa</em> sendiri, yaitu Otty Widasari mengatakan video tersebut tidak fokus terhadap isu dan terlalu banyak mau.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu yang sama Ketua Forum lenteng, Hafiz mengatakan secara keseluruhan video karya <em>akumassa</em> Depok 80% berhasil. Hal ini juga diamini oleh Otty. Tentu saja hal ini membuat kami bangga, ternyata tidak sia-sia proses belajar yang selama ini kami tempuh. Tapi kami masih harus merevisi segala kekurangan yang ada, agar seluruh karya sukses 100%.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai diskusi, acara pemutaran pun selesai. Satu per satu para penonton beranjak pergi, sedangkan kami mulai merapikan peralatan yang digunakan. Kemudian semua partisipan <em>akumassa</em> Depok merapat ke ruangan <em>akumassa</em> untuk membahas program <em>akumassa Depok</em> ke depannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akumassa.org/program/depok-jawa-barat/acara-pemutaran-video-akumassa-depok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

