Oleh David Darmadi | Pada Minggu, 28 Februari 2010
* * *

Harry Gunawan adalah teman semasa sekolah saya sewaktu di SMPN 1 Padang dan juga di SMAN 3 Padang. Ada yang menarik dengan kisah cintanya dengan Suci Angelina. Banyak orang bilang jodoh di tangan Tuhan dan semuanya sudah ada jalannya. Pernyataan tersebut lebih sering kita dengar dari orang-orang yang sering mengalami patah hati. Tujuannya adalah untuk menyenangkan hati mereka sendiri. Tapi tidak begitu dengan kisah cinta teman saya ini. Suci Angelina, sebenarnya saya tidak begitu mengenalinya. Karena dia tidak pernah satu sekolah dengan saya dan hanya bertemu dengannya saat naik angkot (angkutan kota) saja. Kebetulan arah pulang menuju rumah kami searah, sama-sama naik angkot berwarna merah yang menuju ke Belimbing. Saya tinggal di Kompleks Mawar Putih Kuranji, Suci tinggal di Perumahan Belimbing, Kuranji dan Harpet, panggilan akrab Harry Gunawan sewaktu masih SMP, juga tinggal di Perumahan Belimbing.

Sehari dua malam di Vi_Chie@Net telah mengingatkan saya tentang kisah cinta mereka berdua. Vi_Chie@Net adalah warnet milik Harpet dan Suci. Mereka dihibahkan dana oleh kedua orangtuanya sebanyak 60 juta rupiah untuk memulai usaha warnet itu. Memang dana yang lebih banyak adalah dari orangtua Suci, tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua untuk menjalani usaha ini. Dengan uang tersebut mereka membeli seluruh perlengkapan warnet dan menyewa sebuah ruko yang beralamat di Jalan Mangga Raya No.62, Belimbing. Ruko itu mereka sewa selama dua tahun seharga sembilan juta rupiah. Ruko milik Ibu Yeni (yang juga tinggal di Perumahan Belimbing) terdiri dari tiga ruko dan masih belum bertingkat. Di sebelah kanan warnet Harpet dan Suci disewa oleh Uda Hen yang asli orang Padangpanjang, ia membuka warung makanan dan minuman. Sedangkan di sebelah kirinya disewa oleh Ayah (panggilan akrabnya), ia mebuka usaha air galon isi ulang. Warnet ini umurnya cukup tergolong muda, sejak hari pertama saya di sini pada tanggal 6 Februari 2010, usaha warnet ini baru beroperasi hampir tiga minggu.

[Lanjutkan membaca Sehari Dua Malam di Vi_Chie@Net]

10 pembaca suka artikel ini.
Oleh Imam FR | Pada Sabtu, 27 Februari 2010
* * *

Apabila melihat kalender, tanggal 26 Februari tahun ini berwarna merah, dengan keterangan tertulis di bawahnya “Maulid Nabi Muhammad SAW”. Yaitu hari kelahiran sosok suri tauladan bagi Umat Islam, Nabi Muhammad SAW, sang adi manusia yang paling sempurna. Menurut penanggalan Tahun Hijriyah, maka hari itu tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal, atau apabila memakai penanggalan Jawa, jatuh pada tanggal 12 bulan Mulud.

Peringatan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Al-Mubarok

Pada hari itu, atau beberapa hari sebelum atau sesudahnya, biasanya banyak diadakan pengajian untuk memperingatinya. Seperti yang diadakan oleh masyarakat Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Rabu malam (24/2) masyarakat Desa Dengkeng mengadakan pengajian untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, bertempat di Mushola Al-Mubarok. Tempatnya sangat sederhana, memakai kursi terbuat dari atom yang ditata rapi di halaman mushola sebagai tempat duduk, serta beratapkan kain sebagai tenda di atasnya.

[Lanjutkan membaca Pengajian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Agung Natanael | Pada Jumat, 26 Februari 2010
* * *

Sejumlah warga terlihat sedang mendaftarkan diri terlebih dahulu sebelum mengikuti pengobatan gratis yang diselengarakan oleh Jajarin (Jaringan Jadikan Airin) dan Yayasan OBOR Indonesia di Kelurahan Pamulang Barat, Tanggerang Selatan, Banten, pada Kamis 25 Februari 2010.

Sejumlah warga menunggu giliran mendapatkan pengobatan gratis di kelurahan Pamulang

Sejumlah warga menunggu giliran mendapatkan pengobatan gratis di Kelurahan Pamulang

Salah satu warga sedang  memeriksakan giginya dalam Acara Pengobatan Gratis

Seorang warga sedang memeriksakan giginya dalam Acara Pengobatan Gratis

Sedikitnya 1000 warga yang berasal dari Kecamatan Pamulang tersebut, dikumpulkan di halaman Kelurahan Pamulang. Mulai dari anak-anak, wanita, laki-laki, tua maupun muda hadir dan memenuhi ruang kelurahan seakan mereka tidak mau ketinggalan dalam kegiatan ini, terutama dari kalangan menengah ke bawah.

[Lanjutkan membaca Pengobatan Gratis]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Silvia Maulina (Bociel) | Pada Kamis, 25 Februari 2010
* * *

Setiap kali kita berkunjung ke pusat keramaian seperti mall, sering kita jumpai orang yang menawarkan sebuah produk. Entah itu makanan, minuman, baju, rokok, hingga jasa penyimpanan uang di bank. Mereka semua kita kenal dengan sebutan sales. Salesman untuk laki-laki dan salesgirl untuk perempuan, atau lebih populer lagi dengan sebutan SPG (Sales Promotion Girl). Aku akan bercerita bagaimana pekerjaan seorang SPG, dan bagaimana sebagian orang terkadang memandang rendah seorang SPG.

Saat sedang menawarkan produk susu sereal kepada customer

Saat sedang menawarkan produk susu sereal kepada customer

Pekerjaan seorang SPG adalah menawarkan sebuah produk yang sedang dipromosikannya, memberitahu kelebihan produk, menerangkan bagaimana produk itu harus digunakan, memberitahu bahan serta kandungan apa saja yang terdapat di dalam produk tersebut sekaligus fungsinya, dan lain-lain. Biasanya SPG berada di bawah naungan sebuah Event Organizer (EO), sebuah perusahaan menengah dengan omset puluhan bahkan ratusan juta setiap jobnya.

[Lanjutkan membaca Menjadi Sales Promotion Girl (SPG)]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Riezky Andhika Pradana | Pada Rabu, 24 Februari 2010
* * *

Gerimis sore itu tiba-tiba saja menderas menjadi hujan dan membasahi sudut sebuah gedung yang katanya kampus publisistik/ jurnalistik tertua di Indonesia. Kampus ini berdiri pada tahun 1953 di Jakarta. Sebelumnya kampus ini terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat dan sejak tahun 1981 mulai melaksanakan kegiatan akademik di gedung sendiri di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Tikungan Maut (Tikma) IISIP Jakarta

Aku memang masih sering datang ke kampus karena biasanya tiap Sabtu sore banyak kawan-kawan seangkatan yang nongkrong disana untuk sekedar ngerumpi dan bertukar cerita. Namun tak biasanya kawan-kawanku belum ada yang datang, hanya ada beberapa kawan yang duduk-duduk, kebetulan mereka memang masih terdaftar sebagai mahasiswa di sana. Hujan pun semakin deras dan tak biasanya aku merasa “mati gaya” berada di kampus. Saat itu memang kedatanganku untuk menemani sang kekasih yang sedang mengurus revisi hasil sidang skripsi yang dinyatakan lulus beberapa hari lalu.

[Lanjutkan membaca Kampus Tercinta, Memang Begitu Namanya]

2 pembaca suka artikel ini.
Oleh Dwi Anggraini Puspa Ningrum | Pada Selasa, 23 Februari 2010
* * *

Bulan kedua ini akan segera berakhir. Tinggal menghitung hari, libur panjang ini akan usai. Aku masih menunggu matahari yang belum nampak hingga kini menjelang siang. Mendung, seketika hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba rintikan air di kulit ini. Rasa dingin terasa begitu mengilukan. Aku melihat orang-orang di sekelilingku mengenakan jaket tebal dan mantel serta payung yang melindungi tubuh mereka. Tanpa itu semua, aku bersandar pada dinding putih sebuah rumah mungil yang bersebelahan dengan Masjid Agung Al-Jihad. Berada di sini kembali dalam nuansa berbeda. Mungkin hanya sebuah kebetulan belaka, hanya untuk sekedar berteduh karena aku sedang melintasi jalan ini. Terdapat sebuah kantor pos yang berwarna jingga, terdengar langkah yang semakin dekat, seperti langkah seseorang yang mengenakan sepatu pantofel. Suara itu semakin dekat seakan menghampiriku. Waktu itu tepat pukul 08.40 WIB, aku masih sangat mengingatnya, masih terlalu pagi untukku bangun pada hari libur kuliah, terlebih pada musim hujan yang belum berakhir. Tapi nyatanya pagi itu aku sudah bermandikan air hujan.

Pak Halim mengenakan seragam dinas kebanggaannya

Pak Halim mengenakan seragam dinas kebanggaannya

Hmm…. tersenyum  dengan sumringah, itulah yang aku lakukan ketika melihat sosok seorang pria tua yang berusia 82 tahun sudah ada di sebelahku. Bahuku ditepuknya dengan sangat pelan. Suaranya yang lembut sesuai dengan parasnya yang sayu itu mempersilakan aku untuk masuk ke dalam ruangan rumah itu. Ternyata kakek ini tidak sendiri, ia ditemani oleh beberapa kerabatnya. Di tubuhnya melekat baju warna hijau zaitun lengkap dengan perintilan atribut kebesarannya. Biasanya aku hanya bertemu dengan Pak Halim saja, namun kali ini ruangan ini ramai oleh rekan sejawatnya. Corak batik yang sangat indah, seakan aku mengenali dari mana motif batik itu dibuat, setidaknya itu yang aku rasakan ketika melihat salah satu rekannya mengenakan batik bercorak batik Solo.

[Lanjutkan membaca Pak Halim Sang Komandan]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Choiril Chodri | Pada Senin, 22 Februari 2010
* * *

Mendengar kata ‘rongsok’ kita dapat menyimpulkan dengan barang bekas yang sudah dibuang dan tidak dapat dimanfaatkan lagi, namun bagi pemulung dan pengusaha barang rongsok, rongsokan dapat menjadi sebuah penghasilan yang dapat diperjualbelikan dan menjanjikan. Karena yang aku tahu setiap orang yang mempunyai usaha seperti ini, mereka dapat mencukupi biaya hidupnya dan tidak sedikit dari mereka dapat menunaikan ibadah haji, seperti ibuku.

Rongsokan bekas kaleng minuman

Rongsokan bekas kaleng minuman

Seorang pemulung mencari rongsok untuk dijual pada pengusaha yang membeli barang-barang rongsok tersebut, kemudian dijual lagi ke pabrik atau lapak-lapak yang lebih besar, namun tidak semua rongsok dapat dijual dan didaurulang lagi. Kebetulan orang tuaku seorang pengusaha rongsok, dan rumahku yang berada di Jalan Penganten Ali, RT17/RW 06, Kelurahan Rambutan, Jakarta Timur menjadi lapak barang rongsokan. Jadi aku sedikit tahu rongsok apa saja yang dapat diperjualbelikan. Rongsok tersebut seperti: besi, logam (almunium, kuningan, tembaga, kuali, tebel, dan babet), seng, kertas (bekas kerdus, buku-buku bekas), plastik (plastik kresek hitam, bekas tempat air mineral, paralon).

[Lanjutkan membaca Dari Rongsok Ku Meraup Rupiah]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-Nuha | Pada Minggu, 21 Februari 2010
* * *

Alhamdulillah… Aku baru saja menyelesaikan Sholat Isya’ di Masjid Ass-Shirathal Mustaqim yang terletak bersampingan dengan Pasar Pemenang. Segera kubergegas mengambil sandal dan bergerak menuju ke rumah karena perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Maklumlah, dalam perjalanan dari Gunungsari ke Pemenang siang tadi, aku belum menyantap makanan. Apalagi kulihat tadi sore bibiku datang membawa Pes Ikan yang  dia bikin sendiri dari anaknya, hasil memancing.

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Suasana malam hari di Bo'bo'an

Memang aku agak canggung untuk berjalan ke masjid dan aku merasa seperti orang asing di tempat sendiri karena lebih sering tinggal di Gunungsari. Dan biasanya aku pergi ke masjid menggunakan sepeda motor Supra-ku. Namun, sekarang motorku masih diperbaiki jadi belum bisa kupakai lagi.

Kali ini jalanan agak ramai karena malam Minggu, di mana biasanya para pemuda menggunakan malam ini untuk berkumpul bersama teman-teman mereka. Banyak kulihat anak-anak muda berkumpul dan seolah-olah dirancang untuk membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok. Di depan masjid kulihat orang-orang yang sering berdagang di Bangsal, berbicara tentang hasil dagangan mereka hari ini. Seru sekali kelihatannya. Beberapa orang berdiri dan sebagiannya lagi duduk di sebuah tempat yang bisanya kami sebut dengan istilah bo’bo’an.

[Lanjutkan membaca Reuni Kecil Ba'da Isya di Bo'bo'an]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Imam FR | Pada Minggu, 21 Februari 2010
* * *

Bengawan Solo

Riwayatmu ini

Sedari dulu jadi perhatian insani…

Masih ingatkah dengan lagu keroncong terkenal Bengawan Solo? Itu adalah penggalan lirik lagu yang sangat terkenal hingga ke mancanegara. Sebuah karya dari Gesang, Sang Maestro keroncong kelahiran asli Solo. Ada yang berpendapat kalau bermain musik keroncong tetapi belum menyanyikan lagu Bengawan Solo, dianggap belum bermain musik keroncong. Mendengarkan lagu Bengawan Solo menggiring ingatan kepada sebuah Kota Budaya yang bernama Solo.

Masyarakat Solo yang antusias menyaksikan Kirab "Boyong Kedhaton"

Masyarakat Solo yang antusias menyaksikan Kirab "Boyong Kedhaton"

Julukan sebagai Kota Budaya sudah sangat akrab dan melekat lama di Solo. Tentu budaya yang dimaksud adalah Budaya Jawa. Sedangkan untuk memantapkan keberadaanya sebagai Kota Budaya, Solo memiliki slogan ‘Solo, The Spirit of Java’.

[Lanjutkan membaca Menonton Kirab "Boyong Kedhaton"]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Eni Wibowo | Pada Sabtu, 20 Februari 2010
* * *

Pukul 19.00 WIB, aku berada di depan TPS pasar Ciputat bersama Iriel, Umam, dan Imam, temanku sesame anggota Komunitas Djuanda. Tadinya aku yang agak bosan dengan suasana di kantor Djuanda memutuskan untuk mengikuti ketiga temanku ini. Rencananya mereka mau hunting foto kemacetan yang biasa terjadi di sekitar Pasar Ciputat. Umam memutuskan untuk mengambil sudut kemacetan dari depan TPS Pasar Ciputat. Sesampainya di sana justru kami tidak menemukan kemacetan sama sekali, arus kendaraan sepanjang  Jalan Ir. H. Djuanda lancar, tidak ada penumpukan kendaraan yang begitu berarti.

“Telat kali, Mam?” Kata ku pada Umam.

Nggak! Kemarin tuh gue lihat macetnya jam segini. Mungkin belum. Kita tunggu aja.” Jawab Umam dengan yakinnya.

Pintu Masuk Masjid At-Tujar

Pintu Masuk Masjid At-Tujar

Akhirnya kami menunggu di depan gerbang Sekolah Puspita Bangsa, belum ada lima menit menunggu, kami dibuat terkejut oleh suara orang sedang berceramah. Sumber suara itu dari sebuah speaker yang dipasang di atap lantai empat Pasar Ciputat. Awalnya kupikir suara itu berasal dari pengajian di Masjid Agung Al-Jihad. Tapi mana mungkin, pikirku. Jarak dari Masjid Agung dengan TPS cukup jauh, apa mungkin di atas sana ada mushala? Aku terus bertanya-yanya dalam hati.

[Lanjutkan membaca Beribadah di Atap Pasar]

8 pembaca suka artikel ini.

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Uni Tina dan Cerita Rabu

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      Ibu Hj. Rostina (Uni Tina)
      Minangkabau sangat terkenal dengan makanan tradisionalnya yang khas, dia ntaranya dendeng kering dan dendeng batokok. Banyak orang bisa membuat jenis makanan yang satu ini, namun tidak semuanya menjadikan bisnis keluarga seperti yang dilakukan oleh H ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Video Aku Massa Cirebon: Penyembuhan Dengan Mandi Secara Rutin di Laut Kejawanan

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Papan nama pelabuhan
      [caption id="attachment_534" align="alignnone" width="300" caption="Papan nama pelabuhan"][/caption] [caption id="attachment_535" align="alignnone" width="300" caption="Pengunjung pantai Kejawanan"][/caption] Saat itu masih pagi di pantai Kejawanan, ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Hadhoro-Yuhdhiru-Hadhron-Hadhrotan

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Tim Hadroh As Su'udi
      Dari namanya mungkin terdengar sangat asing. Namun hadroh sudah sangat populer di kalangan majelis taklim yang dipimpin oleh beberapa ulama, kiyai, dan habib yang kemudian menyebar di kalangan masyarakat. Hadroh dari segi bahasa diambil dari kata ‘ha ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

      Katalog Pemutaran akumassa Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      [issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=FFFFFF showflipbtn=true documentid=090702190954-22d35247f48e42cea759bcc711c6dc47 docname=katalog-pemutaran-akumassa-cirebon username=forumlenteng loadinginfotext=Katal ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      12
      Dimulai dari zaman penjajahan Belanda di Indonesia, panjat pinang adalah acara yang dibuat poleh para penjajah sebagai bahan tontonan yang diadakan pada saat ada perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan atau pesta ulang tahun. Per ...

      (Ada 13 komentar pada artikel ini)

      Sebelum Menjadi Markas ASP

      (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

      markas Anak Seribupulau
        [caption id="attachment_2653" align="aligncenter" width="470" caption="markas Anak Seribupulau"][/caption] Waktu masih kecil aku sering maen-maen di sekitar rumahku, salah satunya di rumahnya Mbah Kandar. Dia adalah seorang pensiunan Polisi. Dulu a ...

      (Ada 4 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 41

    Total: 68998

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media