Oleh Hanani | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Malam semakin beranjak dan langit mendung tidak mau berkompromi di Pemenang Barat, KLU (Kabupaten Lombok Utara). Sabtu, 30 Januari 20.00 WITA di halaman SDN 7 Pemenang nampak sedang ada persiapan pemutaran video akumassa Pemenang. Semua persiapan tersebut berjalan apa adanya meski was-was tak mau pergi dalam hati para partisipan akumassa karena melihat cuaca yang tidak bersahabat. Sang Prabu (sapaan akrab Ghozali) dengan gaya khasnya yang santai mengkoordinir teman-temannya dalam persiapan tersebut.

Pemuataran video akumassa Pemenang

Pemuataran video akumassa Pemenang 1

Satu persatu para orang tua dan anak-anak yang tinggal di seputaran lokasi pemutaran video mulai berdatangan. Hujan yang deras ternyata tidak menyurutkan langkah masyarakat Pemenang untuk menonton. Diantara TV dan segala macam peralatan, anak-anak dan para orang tua tersebut berteduh. Para partisipan tidak mampu berbuat apa-apa selain menghentikan pekerjaannya. Sambil menatap hujan yang semakin deras, segala macam doa keluar dari bibir-bibir yang lelah setelah seharian berkutat di depan komputer. Berharap hujan reda dan pemutaran video bisa berjalan dengan semestinya.

Setelah sekian lama, sekitar pukul 10.00 WITA rintik-rintik hujan mulai memberikan harapan dan persiapan pemutaran video harus segera dikerjakan. Tiga TV berderet di depan kelas, satu layar di depan gerbang sekolah berdiri tegak sementara itu di lapangan bola basket/volly berdiri tegak layar proyektor yang lain. Ketiga televisi dan layar tersebut akan menyuguhi masyarakat dengan tontonan yang berbeda-beda dan mereka bebas memilih ingin menonton video yang mana.

[Lanjutkan membaca Acara Pemutaran Video akumassa Pemenang]

9 pembaca suka artikel ini.
Oleh Aboy Sirait & Fuad Fauji | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Maaf, kami banyak membicarakan Bapak di waktu senggang. Apa yang Bapak ketahui tentang seni patung? “Saya tidak banyak tahu dan bukan seniman. Saya hanya tukang kebun”. Langit semakin hitam. Pertanda aku harus segera mencari posisi yang bisa melindungi tubuh dari serbuan butir-butir air yang turun dari warna hitam langit.

*****

Haji Sahib
Haji Sahib Sujana R.J.

Suatu hari jalan-jalan di Jalan Hardiwinangun, karena penat oleh sempitnya ruangan terkadang membuat sakit kepala. Ke luar melihat-lihat patung di Jalan Hardiwinangun, berharap bisa menghibur.

Patung publik di Rangkasbitung belum terbentang ceritanya dalam jangka waktu yang panjang. Penuturan  tentang temuan menjadi kata sepadan dengan fakta-fakta yang ada sementara ini. Butuh disiplin yang kuat untuk menguak apa yang ada di balik patung penghias Kota Lebak. Dalam rentang waktu yang terlihat panjang tapi sesungguhnya pendek. Belum banyak memang perubahan signifikan pemikiran dalam hal menafsir bentuk dan intepretasi karya sesorang. Diawali dari ketertarikan untuk menyimak bagaimana pandangan kekaguman atas ulet dan terampilnya si pembuat. Rasa penasaran dan kagum pada objek yang memiliki garis dan cekungan objek yang tajam, kami pun mencari ‘Mpunya’.

Sekilas terlihat dari patung-patung publik di Rangkasbitung, semuanya tampak tak bisa lepas dari keinginan mengobarkan spirit revolusi dari sebuah daerah yang terus menerus kisruh oleh konsep nilai. Hari ke bulan, kami menatap detail-detail karya yang belum diketahui siapa pembuatnya teruslah berlangsung. Sadar dengan ketidaksopanan memperhatikan karya tanpa memiliki bekal pengalaman estetik kami urungkan sesaat. Ada baiknya mencari dongeng dari sumbernya. Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau casting (dengan cetakan), baca wikipedia. Seluruh kemampuan kami pusatkan pada sebuah relief di tembok bangunan luar partai berlambang beringin.

[Lanjutkan membaca Lupakan Hari Esok]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Sabtu, 30 Januari 2010
* * *

“Where are you going?” Seorang makelar menyambut kedatangan para tamu berambut pirang. “I wanna go to Gili Trawangan,” jawab salah seorang turis asing yang baru saja turun dari sebuah bis travel. Tanpa basa-basi, para pedagang asongan langsung menyerbu para turis itu seperti sekoloni semut. Mereka menawarkan kalung, gelang, seraung (topi jerami) dan beberapa sarung-pantai sebagai cinderamata. Kusir cidomo (delman) pun sibuk menawarkan tumpangan dengan bahasa Inggris seadanya, “Come on, sir!” tukas mereka, berharap turis-turis itu mau menumpang sampai ke bibir pantai. Begitulah suasana Terminal Bangsal yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Pelabuhan Bangsal. Terkadang tamu lebih memilih untuk berjalan-kaki ketimbang naik cidomo. Mungkin alasannya demi mengendorkan urat-urat kaki usai perjalanan jauh yang mereka tempuh.

Gerbang masuk Bangsal

Gerbang masuk Pelabuhan Bangsal

Pedagang asongan tak henti-hentinya menawarkan dagangan kepada para turis yang berjalan kaki maupun ber-cidomo. Mereka terus mengikuti para tamu sampai ke Pelabuhan Bangsal. Ada juga pedagang asongan yang nekat “nyamplek” (meloncat) mengikuti turis-turis yang berada di atas cidomo. Pemandangan lain disuguhkan ketika kita tiba di Pelabuhan Bangsal. Pangkalan ojek yang berkotak-kotak, cidomo yang seperti barisan kios pasar, dan penumpang lokal yang kadang menggelar dagangannya, menyisakan serpihan-serpihan daur ulang. Sama seperti makelar, pedagang asongan dan kusir cidomo, buruh-buruh juga tidak mau ketinggalan menawarkan jasanya mengangkat barang ke atas Public Boat yang akan membawa para tamu tersebut. Demikianlah suasana yang dekat di mata kita saat berada di Bangsal Pemenang.

Pelabuhan Bangsal merupakan tempat penyebrangan menuju Three Islands (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air). Bangsal juga menjadi salah satu tempat mata pencaharian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ni wah Bangsal, informasi apa ukuran a dek kalin dik dengah a nu, mauq diq bae. Ito ite leq tau ni dateng moq” (Inilah Bangsal, informasi apa saja yang tak pernah kamu dengar sekalipun, pasti kamu dapatkan di sini. Orang-orang datang dari berbagai tempat, kok), tutur salah seorang temanku yang mengais rejeki di tempat ini bertahun-tahun sebagai pemandu wisata. Memang, setiap hari tempat ini selalu dipadati orang yang entah dari mana datangnya. Ada yang bertujuan mencari rejeki, bersantai ke Tiga Gili, study tour, sampai niatan untuk sekadar menampang dan banyak lagi. “Public Boat ke Gili Air perlu seorang penumpang lagi, The Gili Air Public Boat destination needs one more passanger”, terdengar suara dari Tiket Office. Temanku langsung berlari, “Bro… ku baq Gili Air juluq sengak araq siq urus (Bro… saya mau ke Gili Air dulu karena ada yang saya urus)”, teriaknya menuju Tiket Office.

[Lanjutkan membaca Aku dan Bangsal]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mira Febri Mellya | Pada Jumat, 29 Januari 2010
* * *

Seperti pada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia,  9 Desember 2009, kemarin (28 Januari 2010) massa kembali turun ke jalan untuk mengkritik Program 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono yang dinilai gagal. Aparat kepolisian serta media massa sudah lebih dahulu bersiap sejak pagi hari di beberapa titik lokasi yang diperkirakan akan menjadi tempat para demonstran menyampaikan aspirasinya.

Demo 100 Hari Kinerja SBY-Boediono

Berita di televisi tentang aksi demo yang aku tonton pagi ini, membuatku ingin ke sana. Tapi hatiku baru tergerak ketika matahari sudah semakin meninggi.

Barisan bis kota, mulai dari Kopaja, Metro Mini, hingga Kowan Bisata, berjalan lambat mengitari air mancur Bundaran HI yang tampak begitu tenang di antara lautan manusia yang dengan lantang meneriakkan aspirasinya.

[Lanjutkan membaca Melihat Demo 100 Hari Kinerja SBY-Boediono]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Helmi Nur Alami | Pada Jumat, 29 Januari 2010
* * *

Dari namanya mungkin terdengar sangat asing. Namun hadroh sudah sangat populer di kalangan majelis taklim yang dipimpin oleh beberapa ulama, kiyai, dan habib yang kemudian menyebar di kalangan masyarakat. Hadroh dari segi bahasa diambil dari kata ‘hadhoro-yuhdhiru-hadhron-hadhrotan’ yang berarti kehadiran. Tapi dalam pengertian istilahnya adalah sebuah alat musik sejenis rabana yang digunakan untuk acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Di mana hadroh ini mengiringi lagu-lagu atau lantunan shalawat kita kepada Nabi Muhammad SAW.  Hadroh juga tidak hanya sebatas untuk acara Maulid Nabi saja, tetapi digunakan juga untuk ngarak (mengiringi) orang sunatan ataupun orang kawinan.

 

Tim Hadroh As Su'udi

Tim Hadroh As Su'udi

Sebenarnya hadroh bukan suatu hal yang baru dalam masyarakat. Hadroh sudah ada sejak jaman dahulu. Awalnya, hadroh berasal dari bangsa Arab dan Negara-negara Timur Tengah. Lalu dengan berkembangnya Agama Islam dan masuk ke Indonesia yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Timur Tengah, masuklah hadroh ini seiring dengan masuknya Agama Islam. Kita ketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak lepas dari peran Wali Songo yang menyebarkan dakwahnya. Sebenarnya pada kebudayaan Betawi juga terdapat alat musik yang menyerupai hadroh, tetapi bentuknya lebih kecil, yaitu ketimpring. Kegunaannya juga hampir sama dengan hadroh yaitu untuk ngarak. Dan uniknya lagi pemainnya adalah kebanyakan orang tua yang sudah uzur (tua), karena tidak ada regenerasi. Sungguh teramat disayangkan. Padahal ini merupakan budaya yang sangat menopang seni kebudayaan Islam.

Tujuan dari memainkan hadroh ini yaitu untuk menambah ke-khusyu’an kita ketika acara maulid dan suara tabuhan hadroh seakan membuat hati kita bergetar mendengar puji-pujian kepada Allah SWT dan lantunan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW (Subhanallah syahdunya, itulah yang aku rasakan). Jika kita sekali saja bershalawat kepada nabi, maka Allah akan membalas dengan sepuluh kali shalawat untuk kita. Itulah pelaksanaan hadroh dalam sebuah acara Maulid Nabi. Sedangkan, kalau ngarak tujuannya agar orang yang kita arak merasa bahagia. Bagi orang yang memainkan alat musik hadroh ataupun mendengar lantunan musik beserta shalawat dan menghayatinya maka orang tersebut akan terbuka hatinya serta terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah SWT (Insya Allah).

[Lanjutkan membaca Hadhoro-Yuhdhiru-Hadhron-Hadhrotan]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

pemutaran video Pasir Putih

Pemutaran Video akumassa Pemenang,

Lombok Utara

Sabtu, 30 Januari 2010. Pukul 20.00 WITA - selesai

di SDN 7 Pemenang Barat.

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

Kehidupan saat ini memaksa kita untuk menjadi manusia yang multifungsi dan mampu bersaing dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang informasi. Karena bagaimanapun kemajuan itu harus didukung dengan kemajuan dalam bidang tersebut. Untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing, pada Rabu, 27 Januari 2010 Forum Lenteng bekerjasama dengan Ma’had Diniyah Banu Sanusi mengadakan workshop media komunikasi yang spesifik pada karya jurnalistik dan video.  Kajian jurnalistik seperti ini tergolong sangat bermanfaat sekali sebagai penambah wawasan dan pengetahuan, terutama mengenai jurnalistik dan media komunikasi.

Workshop Kilat di Ponpes Banu sanusi

Acara ini dilaksanakan di sebuah ruang belajar yang juga befungsi sebagai Mushola Pondok Pesantren Banu Sanusi. Cuaca yang panas tidak mengurangi minat para santri dalam mengikuti kegiatan yang dimulai pada pukul 11.00 WITA tersebut. Riezky Andhika Pradana (Kikie Pea) dan Gelar Agryano Soemantri dari Forum Lenteng bertindak sebagai pemateri. Mereka dengan semangat memberikan penjelasan kepada para peserta workshop yang terdiri dari para santri Tsanawiyah dan Aliyah (setingkat SMP dan SMU).

Kajian ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mengenai jurnalistik dan media komunikasi, sedangkan yang kedua mengenai video. Sesi pertama menjelaskan tentang proses dan jenis-jenis media komunikasi yang dilanjutkan dengan jenis-jenis karya jurnalistik. Sebelum istirahat makan siang dan sholat Dzuhur, para peserta diberi tugas membuat contoh berita singkat (spot news) sesuai dengan apa yang diterangkan sebelumnya.

[Lanjutkan membaca Workshop Kilat Media Komunikasi di Pondok Pesantren Banu Sanusi]

7 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Jejak Pabrik Tahu Di Kebon Kelapa

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Dua orang pekerja yang membenahi atap pelindung bahan baku tahu (kacang). foto di ambil di pabrik tahu Kebon Kelapa
      21 Januari 2009 "Persetan!" suara growl khas musik underground terdengar kurang jelas, kepalanya mengangguk angguk mengiringi irama musik yang bergemuruh seperti suara kereta api yang menyesakan dada. Meski keberadaannya sekarang sudah tergilas oleh ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

      Stasiun Jurang Mangu, Stasiun Anyar di Kota Tangerang Selatan

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      1
      Kota Tangerang Selatan kini memiliki stasiun kereta api baru, bernama Stasiun Jurang Mangu. Stasiun ini berada di Jalan Tegal Rotan, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Stasiun ini dibangun pada tahun 2002, selesai pada awal bulan Septe ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Kelompok Studi Sarueh, Padangpanjang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      sarueh13
      [caption id="attachment_624" align="alignnone" width="300" caption="Kelompok Studi Sarueh, Padang Panjang."][/caption] Kelompok ini didirikan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonenesia (STSI) Padang Panjang pada 16 Oktober 2008 sebagai tempat pro ...

      (Ada 6 komentar pada artikel ini)

      Program akumassa di Lenteng Agung, Jakarta

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Diskusi di perpustakaan Forum Lenteng
      Melintas, datang dan pergi, kata-kata ini saya ambil untuk membuka perjalanan workshop Aku-Massa di Lenteng Agung, Jakarta. Diikuti oleh mahasiswa dari 2 kampus yang cukup berjauhan, Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) di Lenteng Agung, wilayah ...

      (Ada 28 komentar pada artikel ini)

      Pembacaan Babad Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Pembacaan Babad Cirebon
      27 Desember 2008, Arya Kemuning [caption id="attachment_435" align="alignnone" width="300" caption="Pembacaan Babad Cirebon"][/caption] Jam menunjukkan kurang lebih pukul 9 malam. Sultan Emirudin telah beranjak ke huniannya yang berada di sisi kanan ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Bingkaian Rekam Akumassa Ciputat

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      TPS
      TPS Pasar Ciputat Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang berada di pinggir jalan dan menyatu dengan lantai dasar Pasar Ciputat. Aromanya sangat menyengat hingga mengganggu pengguna jalan, apa lagi di depan TPS tersebut terdapat sebuah yayasan sekolah, y ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  294
    • Komentar:  1,499
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 87

    Total: 41384

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media