Oleh Hanani | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Malam semakin beranjak dan langit mendung tidak mau berkompromi di Pemenang Barat, KLU (Kabupaten Lombok Utara). Sabtu, 30 Januari 20.00 WITA di halaman SDN 7 Pemenang nampak sedang ada persiapan pemutaran video akumassa Pemenang. Semua persiapan tersebut berjalan apa adanya meski was-was tak mau pergi dalam hati para partisipan akumassa karena melihat cuaca yang tidak bersahabat. Sang Prabu (sapaan akrab Ghozali) dengan gaya khasnya yang santai mengkoordinir teman-temannya dalam persiapan tersebut.

Pemuataran video akumassa Pemenang

Pemuataran video akumassa Pemenang 1

Satu persatu para orang tua dan anak-anak yang tinggal di seputaran lokasi pemutaran video mulai berdatangan. Hujan yang deras ternyata tidak menyurutkan langkah masyarakat Pemenang untuk menonton. Diantara TV dan segala macam peralatan, anak-anak dan para orang tua tersebut berteduh. Para partisipan tidak mampu berbuat apa-apa selain menghentikan pekerjaannya. Sambil menatap hujan yang semakin deras, segala macam doa keluar dari bibir-bibir yang lelah setelah seharian berkutat di depan komputer. Berharap hujan reda dan pemutaran video bisa berjalan dengan semestinya.

Setelah sekian lama, sekitar pukul 10.00 WITA rintik-rintik hujan mulai memberikan harapan dan persiapan pemutaran video harus segera dikerjakan. Tiga TV berderet di depan kelas, satu layar di depan gerbang sekolah berdiri tegak sementara itu di lapangan bola basket/volly berdiri tegak layar proyektor yang lain. Ketiga televisi dan layar tersebut akan menyuguhi masyarakat dengan tontonan yang berbeda-beda dan mereka bebas memilih ingin menonton video yang mana.

[Lanjutkan membaca Acara Pemutaran Video akumassa Pemenang]

10 pembaca suka artikel ini.
Oleh Aboy Sirait & Fuad Fauji | Pada Minggu, 31 Januari 2010
* * *

Maaf, kami banyak membicarakan Bapak di waktu senggang. Apa yang Bapak ketahui tentang seni patung? “Saya tidak banyak tahu dan bukan seniman. Saya hanya tukang kebun”. Langit semakin hitam. Pertanda aku harus segera mencari posisi yang bisa melindungi tubuh dari serbuan butir-butir air yang turun dari warna hitam langit.

*****

Haji Sahib
Haji Sahib Sujana R.J.

Suatu hari jalan-jalan di Jalan Hardiwinangun, karena penat oleh sempitnya ruangan terkadang membuat sakit kepala. Ke luar melihat-lihat patung di Jalan Hardiwinangun, berharap bisa menghibur.

Patung publik di Rangkasbitung belum terbentang ceritanya dalam jangka waktu yang panjang. Penuturan  tentang temuan menjadi kata sepadan dengan fakta-fakta yang ada sementara ini. Butuh disiplin yang kuat untuk menguak apa yang ada di balik patung penghias Kota Lebak. Dalam rentang waktu yang terlihat panjang tapi sesungguhnya pendek. Belum banyak memang perubahan signifikan pemikiran dalam hal menafsir bentuk dan intepretasi karya sesorang. Diawali dari ketertarikan untuk menyimak bagaimana pandangan kekaguman atas ulet dan terampilnya si pembuat. Rasa penasaran dan kagum pada objek yang memiliki garis dan cekungan objek yang tajam, kami pun mencari ‘Mpunya’.

Sekilas terlihat dari patung-patung publik di Rangkasbitung, semuanya tampak tak bisa lepas dari keinginan mengobarkan spirit revolusi dari sebuah daerah yang terus menerus kisruh oleh konsep nilai. Hari ke bulan, kami menatap detail-detail karya yang belum diketahui siapa pembuatnya teruslah berlangsung. Sadar dengan ketidaksopanan memperhatikan karya tanpa memiliki bekal pengalaman estetik kami urungkan sesaat. Ada baiknya mencari dongeng dari sumbernya. Seni patung adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau casting (dengan cetakan), baca wikipedia. Seluruh kemampuan kami pusatkan pada sebuah relief di tembok bangunan luar partai berlambang beringin.

[Lanjutkan membaca Lupakan Hari Esok]

7 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Sabtu, 30 Januari 2010
* * *

“Where are you going?” Seorang makelar menyambut kedatangan para tamu berambut pirang. “I wanna go to Gili Trawangan,” jawab salah seorang turis asing yang baru saja turun dari sebuah bis travel. Tanpa basa-basi, para pedagang asongan langsung menyerbu para turis itu seperti sekoloni semut. Mereka menawarkan kalung, gelang, seraung (topi jerami) dan beberapa sarung-pantai sebagai cinderamata. Kusir cidomo (delman) pun sibuk menawarkan tumpangan dengan bahasa Inggris seadanya, “Come on, sir!” tukas mereka, berharap turis-turis itu mau menumpang sampai ke bibir pantai. Begitulah suasana Terminal Bangsal yang jaraknya kurang lebih 300 meter dari Pelabuhan Bangsal. Terkadang tamu lebih memilih untuk berjalan-kaki ketimbang naik cidomo. Mungkin alasannya demi mengendorkan urat-urat kaki usai perjalanan jauh yang mereka tempuh.

Gerbang masuk Bangsal

Gerbang masuk Pelabuhan Bangsal

Pedagang asongan tak henti-hentinya menawarkan dagangan kepada para turis yang berjalan kaki maupun ber-cidomo. Mereka terus mengikuti para tamu sampai ke Pelabuhan Bangsal. Ada juga pedagang asongan yang nekat “nyamplek” (meloncat) mengikuti turis-turis yang berada di atas cidomo. Pemandangan lain disuguhkan ketika kita tiba di Pelabuhan Bangsal. Pangkalan ojek yang berkotak-kotak, cidomo yang seperti barisan kios pasar, dan penumpang lokal yang kadang menggelar dagangannya, menyisakan serpihan-serpihan daur ulang. Sama seperti makelar, pedagang asongan dan kusir cidomo, buruh-buruh juga tidak mau ketinggalan menawarkan jasanya mengangkat barang ke atas Public Boat yang akan membawa para tamu tersebut. Demikianlah suasana yang dekat di mata kita saat berada di Bangsal Pemenang.

Pelabuhan Bangsal merupakan tempat penyebrangan menuju Three Islands (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air). Bangsal juga menjadi salah satu tempat mata pencaharian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Ni wah Bangsal, informasi apa ukuran a dek kalin dik dengah a nu, mauq diq bae. Ito ite leq tau ni dateng moq” (Inilah Bangsal, informasi apa saja yang tak pernah kamu dengar sekalipun, pasti kamu dapatkan di sini. Orang-orang datang dari berbagai tempat, kok), tutur salah seorang temanku yang mengais rejeki di tempat ini bertahun-tahun sebagai pemandu wisata. Memang, setiap hari tempat ini selalu dipadati orang yang entah dari mana datangnya. Ada yang bertujuan mencari rejeki, bersantai ke Tiga Gili, study tour, sampai niatan untuk sekadar menampang dan banyak lagi. “Public Boat ke Gili Air perlu seorang penumpang lagi, The Gili Air Public Boat destination needs one more passanger”, terdengar suara dari Tiket Office. Temanku langsung berlari, “Bro… ku baq Gili Air juluq sengak araq siq urus (Bro… saya mau ke Gili Air dulu karena ada yang saya urus)”, teriaknya menuju Tiket Office.

[Lanjutkan membaca Aku dan Bangsal]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mira Febri Mellya | Pada Jumat, 29 Januari 2010
* * *

Seperti pada peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia,  9 Desember 2009, kemarin (28 Januari 2010) massa kembali turun ke jalan untuk mengkritik Program 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono yang dinilai gagal. Aparat kepolisian serta media massa sudah lebih dahulu bersiap sejak pagi hari di beberapa titik lokasi yang diperkirakan akan menjadi tempat para demonstran menyampaikan aspirasinya.

Demo 100 Hari Kinerja SBY-Boediono

Berita di televisi tentang aksi demo yang aku tonton pagi ini, membuatku ingin ke sana. Tapi hatiku baru tergerak ketika matahari sudah semakin meninggi.

Barisan bis kota, mulai dari Kopaja, Metro Mini, hingga Kowan Bisata, berjalan lambat mengitari air mancur Bundaran HI yang tampak begitu tenang di antara lautan manusia yang dengan lantang meneriakkan aspirasinya.

[Lanjutkan membaca Melihat Demo 100 Hari Kinerja SBY-Boediono]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Helmi Nur Alami | Pada Jumat, 29 Januari 2010
* * *

Dari namanya mungkin terdengar sangat asing. Namun hadroh sudah sangat populer di kalangan majelis taklim yang dipimpin oleh beberapa ulama, kiyai, dan habib yang kemudian menyebar di kalangan masyarakat. Hadroh dari segi bahasa diambil dari kata ‘hadhoro-yuhdhiru-hadhron-hadhrotan’ yang berarti kehadiran. Tapi dalam pengertian istilahnya adalah sebuah alat musik sejenis rabana yang digunakan untuk acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi Muhammad SAW. Di mana hadroh ini mengiringi lagu-lagu atau lantunan shalawat kita kepada Nabi Muhammad SAW.  Hadroh juga tidak hanya sebatas untuk acara Maulid Nabi saja, tetapi digunakan juga untuk ngarak (mengiringi) orang sunatan ataupun orang kawinan.

 

Tim Hadroh As Su'udi

Tim Hadroh As Su'udi

Sebenarnya hadroh bukan suatu hal yang baru dalam masyarakat. Hadroh sudah ada sejak jaman dahulu. Awalnya, hadroh berasal dari bangsa Arab dan Negara-negara Timur Tengah. Lalu dengan berkembangnya Agama Islam dan masuk ke Indonesia yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari Timur Tengah, masuklah hadroh ini seiring dengan masuknya Agama Islam. Kita ketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia tidak lepas dari peran Wali Songo yang menyebarkan dakwahnya. Sebenarnya pada kebudayaan Betawi juga terdapat alat musik yang menyerupai hadroh, tetapi bentuknya lebih kecil, yaitu ketimpring. Kegunaannya juga hampir sama dengan hadroh yaitu untuk ngarak. Dan uniknya lagi pemainnya adalah kebanyakan orang tua yang sudah uzur (tua), karena tidak ada regenerasi. Sungguh teramat disayangkan. Padahal ini merupakan budaya yang sangat menopang seni kebudayaan Islam.

Tujuan dari memainkan hadroh ini yaitu untuk menambah ke-khusyu’an kita ketika acara maulid dan suara tabuhan hadroh seakan membuat hati kita bergetar mendengar puji-pujian kepada Allah SWT dan lantunan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW (Subhanallah syahdunya, itulah yang aku rasakan). Jika kita sekali saja bershalawat kepada nabi, maka Allah akan membalas dengan sepuluh kali shalawat untuk kita. Itulah pelaksanaan hadroh dalam sebuah acara Maulid Nabi. Sedangkan, kalau ngarak tujuannya agar orang yang kita arak merasa bahagia. Bagi orang yang memainkan alat musik hadroh ataupun mendengar lantunan musik beserta shalawat dan menghayatinya maka orang tersebut akan terbuka hatinya serta terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah SWT (Insya Allah).

[Lanjutkan membaca Hadhoro-Yuhdhiru-Hadhron-Hadhrotan]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh akumassa | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

pemutaran video Pasir Putih

Pemutaran Video akumassa Pemenang,

Lombok Utara

Sabtu, 30 Januari 2010. Pukul 20.00 WITA - selesai

di SDN 7 Pemenang Barat.

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Muhammad Sibawaihi An-nuha | Pada Kamis, 28 Januari 2010
* * *

Kehidupan saat ini memaksa kita untuk menjadi manusia yang multifungsi dan mampu bersaing dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang informasi. Karena bagaimanapun kemajuan itu harus didukung dengan kemajuan dalam bidang tersebut. Untuk menciptakan generasi yang mampu bersaing, pada Rabu, 27 Januari 2010 Forum Lenteng bekerjasama dengan Ma’had Diniyah Banu Sanusi mengadakan workshop media komunikasi yang spesifik pada karya jurnalistik dan video.  Kajian jurnalistik seperti ini tergolong sangat bermanfaat sekali sebagai penambah wawasan dan pengetahuan, terutama mengenai jurnalistik dan media komunikasi.

Workshop Kilat di Ponpes Banu sanusi

Acara ini dilaksanakan di sebuah ruang belajar yang juga befungsi sebagai Mushola Pondok Pesantren Banu Sanusi. Cuaca yang panas tidak mengurangi minat para santri dalam mengikuti kegiatan yang dimulai pada pukul 11.00 WITA tersebut. Riezky Andhika Pradana (Kikie Pea) dan Gelar Agryano Soemantri dari Forum Lenteng bertindak sebagai pemateri. Mereka dengan semangat memberikan penjelasan kepada para peserta workshop yang terdiri dari para santri Tsanawiyah dan Aliyah (setingkat SMP dan SMU).

Kajian ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mengenai jurnalistik dan media komunikasi, sedangkan yang kedua mengenai video. Sesi pertama menjelaskan tentang proses dan jenis-jenis media komunikasi yang dilanjutkan dengan jenis-jenis karya jurnalistik. Sebelum istirahat makan siang dan sholat Dzuhur, para peserta diberi tugas membuat contoh berita singkat (spot news) sesuai dengan apa yang diterangkan sebelumnya.

[Lanjutkan membaca Workshop Kilat Media Komunikasi di Pondok Pesantren Banu Sanusi]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Dwi Anggraini Puspa Ningrum | Pada Rabu, 27 Januari 2010
* * *

“Assalamualikum warahmatullahi wabbarakatuh. Terimakasih kepada hamba Allah yang telah menyumbangakan seperangkat alat shalat yang terdiri dari sajadah dan mukena beserta sebuah Al-Quran kepada Masjid Agung Al-Jihad, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT…

Beberapa menit kemudian…

“Bissmillahirahmanirrahim.. Kami sangat mengucapkan terima kasih kepada para penyumbang yang berada di jalan sekitar Masjid Agung Al-Jihad yang telah menyisihkan sebagian rizkinya untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad ini”.

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat

Masjid Agung Al-Jihad merupakan masjid tertua di Ciputat

Itulah hal yang sering aku dengar setiap kali melintas di Jalan Juanda, selalu tersedia tempat yang berbentuk seperti jaring yang disangkutkan pada dua buah drum yang ditujukan kepada siapapun yang ingin menyumbang untuk pembangunan Masjid Agung Al-Jihad. Pemandangan serupa adalah beberapa bapak-bapak yang sudah tua berdiri di pinggir jalan sembari mengulurkan tangan kepada orang-orang yang melintasi jalan dan angkutan-angkutan umum. Pemandangan seperti ini tidak baru saja aku lihat, tetapi sudah sangat lama hampir 4 tahun lamanya.

Masjid Agung Al-Jihad adalah sebuah masjid yang masih tersisa di Ciputat sejak masa penjajahan Jepang. Ketika itu bentuknya tidaklah sekokoh bangunan masjid seperti sekarang ini, hanya dengan dinding bilik bambu dan kayu saja, langgar atau surau sebutanya yang berarti musholla, yang hanya cukup ditempati kurang lebih sepuluh orang saja. Masjid Agung Al-Jihad ini dibangun dari tanah wakaf yang kemudian menjadi sebuah yayasan, namun banyak warga dan pimpinan dan keanggotaan masjid sendiri yang menginginkan dan sangat mengharapkan masjid agung ini bisa berdiri sendiri tanpa dinaungi oleh yayasan.

[Lanjutkan membaca Masjid Agung Al-Jihad]

6 pembaca suka artikel ini.
Oleh Anita Yossihara & C. Anto Saptowalyono | Pada Rabu, 27 Januari 2010
* * *

Artikel ini diambil dari Harian Kompas, Rabu, 27 Januari 2010

Polemik dan konflik antarkepala daerah sering menghantui sepanjang sembilan tahun perjalanan Banten menjadi provinsi. Pemerintah Provinsi Banten belum bisa menemukan formulasi yang tepat untuk membina hubungan baik dengan kabupaten/kota.

Warga menutup hidung saat melintasi tumpukan sampah yang mulai menggunung di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/1). Tumpukan sampah yang tak terangkut di Tangerang Selatan itu merupakan bagian dari lemahnya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sebagai induk Kota Tangerang Selatan.

Warga menutup hidung saat melintasi tumpukan sampah yang mulai menggunung di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (25/1). Tumpukan sampah yang tak terangkut di Tangerang Selatan itu merupakan bagian dari lemahnya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang sebagai induk Kota Tangerang Selatan.

Ketidakselarasan hubungan dengan pemerintah kabupaten/pemerintah kota bisa dilihat dari frekuensi ketidakhadiran bupati/wali kota dalam kegiatan yang dilaksanakan Pemprov Banten. Sulit ditemukan saat semua bupati/wali kota berkumpul bersama Gubernur dalam suatu acara, sekalipun dalam rapat koordinasi.

Sebut saja Rapat Paripurna Istimewa Hari Ulang Tahun Ke-9 Provinsi Banten, 4 Oktober 2009. Tak semua bupati/wali kota hadir dalam acara di Gedung DPRD Banten di Kecamatan Curug, Kota Serang, itu. Hanya Bupati Serang Taufik Nuriman, Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan M Shaleh, dan Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah yang hadir. Adapun Wali Kota Serang Bunyamin, Pelaksana Tugas Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi, Wali Kota Cilegon Tubagus Aat Syafaat, Bupati Tangerang Ismet Iskandar, dan Wali Kota Tangerang Wahidin Halim tidak terlihat hadir.

Ketidakhadiran itu menjadi biasa apabila hubungan antara Gubernur dan bupati/wali kota benar-benar harmonis. Namun, sering kali bupati/wali kota tak hadir dalam acara Pemprov karena mereka sedang berpolemik.

Salah satu contoh saat Menteri Dalam Negeri (saat itu) Mardiyanto melantik M Shaleh menjadi Penjabat Wali Kota Tangerang Selatan, Januari 2010, Bupati Tangerang tak hadir. Padahal, Tangerang Selatan adalah daerah pemekaran dari Kabupaten Tangerang.

[Lanjutkan membaca Disharmoni Terjadi Sepanjang Masa]

1 pembaca suka artikel ini.
Oleh Wiwin Tri Komala | Pada Rabu, 27 Januari 2010
* * *

Terengan merupakan bukit yang jarang sekali terjamah oleh orang yang asing dengan daerah ini. Di sini ternyata ada tempat pemandian yang indah. Bukit yang bernama Terengan Gubuk Baru itu terletak di Pemenang Timur, Lombok Utara. Sebuah bukit yang sempat membuat ‘heboh’ jadi pembicaraan masyarakat sejak tiga tahun yang lalu. Meski lokasinya terpencil, namun masyarakatnya, terutama pemuda-pemudanya, mempunyai pendidikan yang tinggi. Rata-rata mereka berkuliah di Mataram dan bahkan ke Pulau Jawa. Akhirnya, banyak kaum mudanya lebih suka memilih untuk mencari kehidupan yang lebih baik di kota lain ketimbang harus tinggal di Terengan.

 

Pemandian Tiu Roton ramai dikunjungi, walaupun belum diresmikan

Pemandian Tiu Roton, ramai dikunjungi setiap hari Minggu

Masyarakat Terengan punya penampungan air bersih yang menggunakan pipa-pipa sambung yang dihubungkan dari ujung bukit ke induk sungai. Ini dapat terlaksana karena masyarakat melakukannya secara bergotong-royong untuk mendapatkan air bersih. Sebelum ada penampungan air bersih, masyarakat Terengan mengangkut air dengan ember dari sungai ke rumah mereka masing-masing untuk memasak dan lain-lain keperluan rumah tangga. 

[Lanjutkan membaca Masyarakat Terengan dan Tiu Rotonnya]

5 pembaca suka artikel ini.

ACARA

  • The Loss of The Real

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

  • Forum Lenteng Channel on Youtube

PROMOSI

  • Sinau Art Course

POTRET

ARTIKEL ACAK

      Pengalaman Pertama bersama Mak Uniang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      petama-duduk-ritual-naik
      27 Januari 2009 Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sering naik Mak Uniang—kereta api yang membawa batu bara dari Sawahlunto Sijujuang ke Padang. Kereta api pengangkut barang ini telah beroperasi sejak jaman Belanda. Stasiun Padangpanjang dulun ...

      (Ada 8 komentar pada artikel ini)

      Iklim Berubah, Mari Berubah.

      (Pengantar)

      climate-change2
      [klik gambar ini untuk melihat tulisan yang lebih jelas] Kopenhagen-Denmark saat ini menjadi isu sentral di dunia. Perubahan Iklim! Itulah gagasan besar yang didengungkan dari kota ini. Saat ini sedang berlangsung Konferensi Perubahan Iklim Perserik ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Tidak Seburuk yang Saya Kira

      (Sukabumi, Jawa Barat)

      40
      Bulan kemarin saya bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Sukabumi, tepatnya di Parungkuda. Di daerah itu banyak sekali pabrik-pabrik garmen. Mayoritas buruh pekerja pabrik di daerah itu adalah wanita. Saya bekerja di salah satu pabrik garmen seb ...

      (Ada 9 komentar pada artikel ini)

      Lebak, Dimana?

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      de-haan-no-b-4594-lebak
      Pada saat kami memulai riset Aku Massa untuk situs Lebak, kami berusaha mencari dari berbagai sumber tentang sejarah Lebak. Usaha pertama yang kami lakukan adalah melihat peta Lebak di Google Earth dan Google Map. Namun, yang kami temukan hanya foto ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Niagara Theatre

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      1
      Niagara Theatre  adalah sebuah bioskop yang berada di wilayah Ciputat, Tangerang selatan. Bioskop ini berdiri pada tahun 1984, dengan pemiliknya keturunan Cina yang bertempat tinggal di daerah Kota. Awalnya tanah yang dipakai oleh Bioskop Niagara ada ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Cahaya Proyektor Itu Kini Padam Sudah

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      pak-udin-sang-projectionist
      "Pak Udin adalah kakekku yang bekerja sebagai projectionist di bioskop Karia Padangpanjang sejak 1954, berarti sudah 55 tahun ia menekuni pekerjaan itu." Sepenggal kalimat dari artikel akumassa lalu, yang ditulis oleh Jelitha Ramadhani. http://akumas ...

      (Ada 11 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  368
    • Komentar:  2,031
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 44

    Total: 68999

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media