Oleh Nia Kurniati | Pada Rabu, 10 Maret 2010
* * *

Sudah  7 bulan ini aku  tinggal di sebuah rumah kontrakan di Gang Anyar, sebuah gang yang terletak di pinggir Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan.  Aku membayar  uang sewa sebesar 500 ribu rupiah sebulannya. Rumah ini terdiri dari satu ruang serba guna untuk ruang tamu sekaligus ruang keluarga, satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Masih bisa dibilang murah mengingat kondisi rumah yang masih bagus dan letaknya yang sangat strategis karena dekat dengan keramaian. Di sebelah rumah yang kutempati, ada sebuah rumah kontrakan 2 lantai dengan beberapa kamar. Rumah tersebut ditempati oleh kakakku, bersama teman-temannya. Semuanya perempuan.

Rumah kontrakan

Rumah kontrakan yang terlihat seperti satu rumah

Jika dilihat dari luar, ke dua rumah ini terlihat seperti satu rumah, karena memang pada awalnya rumah ini merupakan satu bangunan dengan dua pintu utama, namun ruang dalamnya masih jadi satu. Bagian yang menjadi rumahku, dulunya merupakan paviliun. Hingga akhirnya di dalam rumah ini diberi penyekat oleh Ibu Anis sang pemilik rumah, yang kemudian dikontrakkan masing-masing dengan harga sewa yang berbeda karena memang luas rumah yang juga berbeda.

[Lanjutkan membaca Cerita Mistis dari Gang Anyar]

1 pembaca suka artikel ini.
Oleh Rosmayadi | Pada Selasa, 9 Maret 2010
* * *

Orang tua     : Mannn….!!!

Anak-anak    : Enggih…!!!

Orang Tua    : Dengah ceritan Bapu’…

Leq jaman laeq araq sopoq cerita aran a Tetuntel-tuntel… Leq sopoq jelo ya lampaq-lampaq,  nempur a timpal aran a tekura-kura…..

Demikianlah kata-kata pembuka dari kebiasaan mendongeng pada anak-anak yang sering dilakukan oleh orang tua di tempat tinggalku. Begitu juga dengan kakekku, beliau sering menceritakan sesuatu kepadaku, misalnya tentang Te Tuntel-Tuntel yang memperdaya kura-kura dengan tipu muslihatnya, Doyan Neda yang ceritanya tentang asal-muasal masyarakat Lombok dan juga tentang beberapa sejarah lainnya menyangkut keberadaan masyarakatku di Desa Pemenang, Lombok Utara. Bahkan kakekku juga pernah menyebut-nyebut bahwa masjid yang berada di dekat rumahku yang bernama Masjid Jami’ul Jama’ah itu memiliki sejarah juga.

Masjid Jami'ul Jama'ah yang sedang direnovasi

Masjid Jami'ul Jama'ah yang sedang direnovasi

Kini aku kuliah di STKIP (Sekolah Tinggi Kejuruan Ilmu Pendidikan) mengambil jurusan Sastra Indonesia. Hal ini memaksaku untuk mengenal budayaku, termasuk sejarah yang tidak pernah terlepas dari budaya itu sendiri. Hingga saat ini aku tumbuh dewasa dengan masih menyimpan rasa penasaran tentang masjid yang berada di dekat rumahku itu yang sekarang sedang dalam tahap rehabilitasi.

[Lanjutkan membaca Asal Muasal Masjid Jami'ul Jama'ah Karang Pongsor]

3 pembaca suka artikel ini.
Oleh Choiril Chodri | Pada Sabtu, 6 Maret 2010
* * *

Hari itu Rabu, aku masih berada di kampung nenekku yang berada di Desa Hargorojo, Purworejo, Jawa Tengah. Pukul 08.45 WIB aku bangun dari tidur, badanku masih terasa lemas setelah beberapa hari demam dan tensi darah tinggi setelah makan durian. Aku memutuskan untuk jalan-jalan sekalian berolahraga untuk mengeluarkan keringat, teringat rencana untuk melihat temanku mendulang di kali yang jaraknya lumayan jauh dari rumah nenekku. Secara kebetulan di jalan aku berpapasan dengan temanku yang ingin pergi mendulang emas, tapi dia ingin mengambil handpone-nya yang tertinggal di rumahnya terlebih dahulu.

Kali yang menjadi tempat mendulang emas

Kali tempat teman-temanku mendulang emas

Karena aku belum merasa segar pagi itu, bahkan kepalaku terasa berat, maka aku berjalan menuju kali dengan langkah pelan dan santai. Tidak lama kemudian temanku menyusul, sesampainya di kali aku melihat keadaan sekeliling kali yang jauh berbeda saat aku kecil dulu. Ternyata di kali itu ada dua temanku lainnya yang sedang mendulang juga. Aku pun mendekati keduanya dan melihat hasil dulangan mereka. Sesudah melihat hasil dulangan mereka yang belum dipakai, aku memutuskan untuk mencoba mendulang, kegiatan  yang telah lama tidak aku lakukan.

[Lanjutkan membaca Mungkinkah Itu Harta Karun?]

8 pembaca suka artikel ini.
Oleh Andang Kelana | Pada Jumat, 5 Maret 2010
* * *

Sedikit cerita dari rumah sakit…

Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Suara bor mesin yang sangat memekakan telinga sedang menembus plafon baja, tampak para tukang sedang berada di atas tangga lipat alumunium sedang memasang instalasi listrik di depan pintu masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat) dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Mereka menarik kabel panjang, dan memasukannya ke sela lubang bekas bor tadi. Ada seorang tukang yang tampaknya sudah siap di atas plafon untuk menarik kabel yang dimasukan kawannya dari bawah.

Suasana ruang tunggu IGD RSCM yang sedang diperbaiki

Suasana ruang tunggu RSCM yang sedang diperbaiki

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Aku pikir hanya satu kali mereka mengebor, ternyata banyak lubang yang mereka buat di plafon. Berjarak satu neon panjang, dengan jeda yang sama. Mereka tampaknya sedang memasang neon-neon itu sebagai penerang. Ada sekitar 9 neon baru, kalau aku tidak salah, yang mengelilingi ruangan tunggu IGD ini.

[Lanjutkan membaca Instalasi Gawat Darurat RSCM]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Imam FR | Pada Kamis, 4 Maret 2010
* * *

Mendengar kata Sekaten bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, sudah tidak asing lagi. Begitu juga denganku yang pernah tinggal di Solo selama enam tahun. Setiap tahun, pasti aku mendengar kebar-kabar mengenai Sekaten, baik itu melalui surat kabar atau hanya dari omongan-omongan kecil yang melintas di masyarakat.

Pasar Sekaten

Maleman Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Surakarta

Namun, kabar-kabar itu layaknya sebuah angin lalu saja bagiku, karena belum pernah sekali pun aku datang ke Sekaten. Tidak tahu jelas apa sebabnya, mungkin karena dulu aku tidak pernah ada waktu untuk datang ke sana atau memang hanya diriku yang tidak pernah peduli dengan sebuah tradisi. Sungguh aku merasa bersalah apabila mengingatnya.

[Lanjutkan membaca Maleman Sekaten]

4 pembaca suka artikel ini.
Oleh Hamdani Mutiara Tanjung | Pada Rabu, 3 Maret 2010
* * *

Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan  tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue.  Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue  luntang lantung dia langsung memanggil gue,

“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”

“Tanjung, Paman.”

“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)

Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.

[Lanjutkan membaca Cewek Bertato dan Sekaleng Aica Aibon]

5 pembaca suka artikel ini.
Oleh Mira Febri Mellya | Pada Selasa, 2 Maret 2010
* * *

…Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu


Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu


Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu


Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…

Lirik lagu milik Iwan Fals ini sering sekali terdengar olehku, dari suara vokal dan gitar seadanya oleh pengamen jalanan, atau pun dari suara teman-temanku ketika bernyanyi bersama, yang juga seadanya. Mulanya ku kira lagu ini berjudul ‘Anak Sekecil Itu’, maklum saja aku tak pernah mendengarnya melalui versi lengkap yang dinyanyikan Iwan Fals. Ternyata lagu ini berjudul ‘Sore Tugu Pancoran’.

Tiap kali mendengar lagu ini, ada satu perasaan yang hadir menyelimuti hatiku, yaitu tragis. Kenapa? Karena lagu ini berkisah tentang anak kecil bernama Budi yang harus bekerja sebagai penjual koran sore di kawasan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia melakukannya demi tetap dapat bersekolah dan mengenyam pendidikan untuk menggapai cita-cita.

[Lanjutkan membaca Sore Tugu Pancoran]

7 pembaca suka artikel ini.

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      “Iye arek digusur“ (Ini mau gusur)

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      jalan kitarung
      “Iye arek digusur“ (Ini mau gusur) Hah! “Ceunamah tahun dua rebu salapan - sapuluh”. (katanya sih tahun 2009 - 2010) “ imah-imah arek diratakeun”. (Rumah semua akan diratakan) “imahna si Dableng geh kan di sisi jalan”, (si Dableng juga rumahnya kan d ...

      (Ada 2 komentar pada artikel ini)

      Pengalaman Pertama bersama Mak Uniang

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      petama-duduk-ritual-naik
      27 Januari 2009 Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, aku sering naik Mak Uniang—kereta api yang membawa batu bara dari Sawahlunto Sijujuang ke Padang. Kereta api pengangkut barang ini telah beroperasi sejak jaman Belanda. Stasiun Padangpanjang dulun ...

      (Ada 7 komentar pada artikel ini)

      Pembacaan Babad Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Pembacaan Babad Cirebon
      27 Desember 2008, Arya Kemuning [caption id="attachment_435" align="alignnone" width="300" caption="Pembacaan Babad Cirebon"][/caption] Jam menunjukkan kurang lebih pukul 9 malam. Sultan Emirudin telah beranjak ke huniannya yang berada di sisi kanan ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Review Observasi Lapangan dan Diskusi, Cirebon

      (Cirebon, Jawa Barat)

      Pasar Kanoman
      Review Observasi Lapangan Tanggal 15 - 17 Desember 2008 dan Diskusi Tanggal 18 Desember 2008 Diskusi Hasil Observasi Lapangan Di Kanoman Malam hari, Yahya Malik mendapati pasar kanoman sepi. Hanya ada beberapa orang yang dia lihat berada di pasar ter ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Rumah Kontrakanku yang terakhir itu, kini menjadi Jl. H. Juanda

      (Lenteng Agung, Jakarta Selatan)

      Rumah kontrakan Ajat yang lama
      [caption id="attachment_1034" align="alignnone" width="225" caption="Rumah kontrakan Ajat yang lama"][/caption] Di memoriku teringat dulu sekitar tahun 1992 di Kota Depok, khususnya daerah Margonda yang masih terlihat hijau, banyak lahan-lahan kosong ...

      (Ada 5 komentar pada artikel ini)

      Bingkaian Rekam Akumassa Ciputat

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      TPS
      TPS Pasar Ciputat Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang berada di pinggir jalan dan menyatu dengan lantai dasar Pasar Ciputat. Aromanya sangat menyengat hingga mengganggu pengguna jalan, apa lagi di depan TPS tersebut terdapat sebuah yayasan sekolah, y ...

      (Ada 3 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  294
    • Komentar:  1,500
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 88

    Total: 41385

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media