ARKIPEL: Sinema dan Literasi Media

Oleh / pada 16 Agustus 2015 / di Acara, DKI Jakarta // Belum ada komentar

featured_image-2015

Beberapa hari lagi, ARKIPEL Grand Illusion – 3rd Jakarta Documentary & Experimental Film Festival akan dibuka. Tanggal 22 Agustus 2015 nanti, sepertinya, layak menjadi momen penting dalam sejarah perfileman dan festival filem di Indonesia, karena kita akan menyaksikan 130 filem yang dipresentasikan secara sadar sebagai ilmu pengetahuan sinema. Tema Grand Illusion menegaskan itu: kenyataan-kenyataan sinema selalu menciptakan ilusi, baik atau buruk, oleh karenanya pemegang kekuasaan memanfaatkan filem sebagai alatnya sejak dulu, tetapi kita, masyarakat, juga bisa mendayakan sinema untuk membongkar ilusi-ilusi dunia riil yang sering kita alami dengan sadar atau tidak. Prinsip ini sesuai dengan prinsip literasi media, yakni peluang bagi masyarakat untuk memahami sekaligus mengkritisi mekanisme kerja media, apa pun bentuk, jenis dan pemiliknya.

Lanjutkan Membaca →

Edvard Munch, Whom We Missed

Oleh / pada 12 Agustus 2015 / di Copenhagen-Denmark, English // Belum ada komentar

This article is an English version of  Indonesian article titled Edvard Munch, yang Kami Lalu-lalangkan that was published on December 27th, 2012.

———————

There was nothing too imaginative in a journey on a plane, just like a journey around the world on a ship which had created masterpieces by Rudyard Kipling (1865-1936), Joseph Conrad (1857-1924) and the much earlier writer, Daniel Defoe (1659-1731). Even maybe our writer, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), made a metaphor for a ship journey. The travelers always contemplated the sea and the horizon, “… what in front of a human is only a distance. And the horizon is the limit. The moment the distance is taken, the horizon gets farther away. What left behind is that distance too – eternal. Ahead is the same horizon – eternal.” That was what Pram’s word which for us was like a ship journey afterthought because we could see the horizon. Then, what could be contemplated on a plane journey while we were not Karl May, a writer who had almost never traveled, but had a much more accurate geographical vision and description of public than the world tourists. We were not Europeans either and it made this plane trip almost made us tourists who enjoyed the transportation facility on a journey.

The Little Mermaid Statue in Copenhagen, Denmark.

The Little Mermaid Statue in Copenhagen, Denmark.

12 Mei 2014 di Graha Bhakti budaya – TIM

Marah di Bumi Lambu

Dokumenter | 2014 | Hitam Putih | HD
Hafiz Rancajale

Berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu pada peristiwa Tragedi Sape Lambu 2012 yang menelan tiga korban dari pihak warga. Tragedi ini berawal dari rencana pemerintah daerah Kabupaten Bima merubah kawasan Lambu menjadi daerah pertambangan dengan menerbikan izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Terjadi penolakan oleh warga yang diorganisir oleh mahasiswa. Penolakan ini dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya menelan korban di pihak warga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Filem ini mencoba merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri, rangkaian cerita-cerita kemanusian dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya.

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org