Beberapa ingatan terlintas di kepalaku terkait dengan kata ‘membaca’ ketika duduk di dalam sebuah angkot berwarna merah nomor 19, yang berjalan selangkah demi selangkah melintasi kemacetan Jalan Margonda, menuju Terminal Depok, pada Hari Selasa sore, 17 Januari 2012. Dalam keadaan setengah sadar menahan kantuk, samar-samar aku mendengar apa yang dulu pernah diucapkan oleh seorang teman, Ugeng. Kira-kira katanya seperti ini: “Membaca itu tidak melulu diartikan sebagai aktivitas melihat huruf, kata dan kalimat, kemudian melafalkannya. ‘Membaca’ juga bisa dimaknai sebagai suatu sikap atau perilaku untuk lebih peduli terhadap apa-apa yang ada dan terjadi di sekitar kita.” Mencari informasi melalui buku bacaan atau tontonan filem, adalah sedikit contoh dari sikap itu: menyimak apa yang pernah dan/atau sedang ada dan terjadi di tempat kita berpijak sekarang ini, kemudian melakukan aksi untuk menanggapinya.
***
Angkot berhenti di dalam lingkungan terminal, tepat di depan deretan warung-warung, seperti warung kopi (warkop), warung tegal (warteg), warung lapo, dan toko-toko lainnya. Di antara deretan warung itu, menyempil sebuah ruangan kecil berpintu kaca, yang sudah aku kenal lebih kurang sejak sebulan lalu. Rumah Baca Panter, namanya, atau setidaknya begitulah yang tertulis di papan nama yang tergantung di salah satu dinding ruangannya. Kedatanganku, bersama dua orang teman, memang bertujuan untuk mengunjungi rumah baca tersebut.

Deretan warung-warung yang ada di terminal
[Lanjutkan membaca Membaca ‘Membaca’]