Pemilihan Senat dan Penolakan UU Pilkada

Oleh / pada 21 Oktober 2014 / di DKI Jakarta // Belum ada komentar

Kampus saya baru saja melaksanakan pemilihan senat Jumat kemarin (17/8). Para pengurus KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan para calon senat adalah teman-teman sepermainan saya di kampus sehingga saya juga mengikuti seluk-beluk internal selama proses pemilihan. Selama ini, saya merasa berjarak dengan peristiwa politik yang kerap saya lihat di berita. Kekurangan pengetahuan politik membuat saya terkadang gerah dan melewatkan sisi abu-abu dari perpolitikan, yakni titik temu antara persinggungan-persinggungan kepentingan. Ditambah juga, sudut pandang pemberitaan yang bisa saja sudah dikonstruksi.

Meskipun kampus saya adalah kampus seni, bersuasana lebih santai dan cair serta jauh dari kesan politis dan formal yang saya lihat di kampus-kampus negeri dengan beragam jurusan, proses ini mengajarkan kami bahwa memilih pemimpin bukan hanya untuk mengisi posisi tersebut dengan orang yang bersedia bekerja. Ada hal lebih jauh, sebenarnya, tentang definisi “mampu” itu sendiri: bagaimana ia bisa menghubungkan kepentingan-kepentingan yang ada di kampus, entah kepentingan dirinya, kepentingan mahasiswa yang beragam, kepentingan dari pihak lembaga akademik, hingga kepentingan para petinggi-petinggi fakultas.

Pertanyaan-pertanyaan muncul, apabila pemilihan tidak “diatur”, akankah calon yang terpilih adalah yang terbaik, mengingat akan ada banyak calon pemilih yang apatis dan tidak menggunakan hak suaranya, serta para pemilih nanti bisa saja tidak mengenal dekat calon-calon tersebut? Apakah juga jika “diatur”, pilihan dari oknum-oknum ini adalah yang terbaik? Bukankah hasil pemilihan menjadi tidak murni dan adil?

Momen ini kemudian mengingatkan saya tentang wawancara yang saya lakukan dengan beberapa mahasiswa kampus lain dan aktivis dalam seminggu terakhir, menyangkut dengan isu disahkannya Undang-Undang (UU) Pilkada yang menyingkirkan partisipasi rakyat untuk memilih presiden secara langsung. Meskipun mereka semua berada dalam satu pendapat, yakni menolak, ternyata masing-masing pihak memiliki latar belakang alasan yang berbeda.

Suasana diskusi mahasiswa sebelum aksi demo tanggal 10 Oktober di Universitas Indonesia

Suasana diskusi mahasiswa sebelum aksi demo tanggal 10 Oktober di Universitas Indonesia

Lanjutkan Membaca →

Cerita Sebelum Dipenggal

Mungkin dia tahu ini saat-saat terakhirnya sebelum nanti dicerna perut-perut mereka. Sang kerbau sudi untuk dielus-elus oleh anak-anak Tanjung Barat. Lucu juga melihat anak-anak itu dengan asyik bermain-main di antara kandang temporer hewan-hewan kurban di Mushola Annuriah, yang ajaibnya, tidak begitu bau seperti kandang-kandang pinggir jalan lain (yang dalam radius berapa meter saja sudah mengganggu penciuman). Terkadang juga anak-anak itu menyodorkan daun-daun kepada si kerbau, yang dilahap dengan sukarela. Sang anak senang karena usahanya diterima, si kerbaupun senang karena kenyang.

IMG_20141004_185939

 

Lanjutkan Membaca →

12 Mei 2014 di Graha Bhakti budaya – TIM

Marah di Bumi Lambu

Dokumenter | 2014 | Hitam Putih | HD
Hafiz Rancajale

Berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu pada peristiwa Tragedi Sape Lambu 2012 yang menelan tiga korban dari pihak warga. Tragedi ini berawal dari rencana pemerintah daerah Kabupaten Bima merubah kawasan Lambu menjadi daerah pertambangan dengan menerbikan izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Terjadi penolakan oleh warga yang diorganisir oleh mahasiswa. Penolakan ini dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya menelan korban di pihak warga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Filem ini mencoba merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri, rangkaian cerita-cerita kemanusian dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya.

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org