Riwayat Pasir Putih Kali Ciujung

Lanscap galian pasir di tepian Sungai Ciujung.

Lanscap galian pasir di tepian Sungai Ciujung.

Dari kejauhan terlihat para pekerja galian pasir berkumpul di sebuah warung kopi. Warung itu tidak seperti umumnya warung kopi, melainkan gubuk liar yang berjejer di sepanjang jalan Cimarga. Punggung salah satu dari tiga pekerja, memakai baju lusuh, terkena air hujan menghadap ke bukit yang growak. Sementara pekerja lain asik main kartu domino menghadap ke arah jalan yang rusak dipenuhi genangan air hujan. Di balik beko (mobil pengeruk tanah) dan truk pasir, orang berlarian menghindari air hujan sambil membawa segelas kopi. Seseorang dari kerumunan sopir truk yang asik melihat pemandangan hujan lebat lantas segera berlari-lari mengambil sekop, kemudian membuang pasir selokan ke tepi jalan. Endapan pasir terbawa air hujan, menjadi tumpukan pasir yang padat hingga menyebabkan genangan. Airnya naik ke permukaan jalan. Campuran lumpur air berwarna cokelat pekat akan mengalir ke Sungai Cisimeut. Jika musim kemarau tiba, aliran sungai ini memiliki dua warna, hijau dan cokelat. Warna cokelat berasal dari limbah tambang pasir kuarsa, sedangkan warna hijau dihasilkan oleh pantulan warna lumut. Sungai Cisimeut akan menyatu dengan Sungai Ciberang. Hulu sungainya cokelat. Lalu bagaimana dengan warna Sungai Ciujung? Sungai-sungai besar di Lebak berwarna cokelat di hulu maupun di hilir. Sama saja. Dulu, jika musim kemarau, biasanya warna air berubah bening. Kini tidak.

Lanjutkan Membaca →

Singkarak: Kisah-kisah Malam Para Pemancing

Oleh / pada 18 Mei 2015 / di Bernas, Solok // Belum ada komentar

Singkarak malam itu sebenarnya tidak begitu dingin, tapi angin bertiup kencang. Berbeda dengan Kota Padangpanjang yang akan tetap dingin dengan angin yang bertiup kencang ataupun tidak. Hawa dinginnya langsung terasa ke tulang-tulang dan membuat daun telinga menjadi sangat dingin.

Pondasi bangunan di daerhan Ombilin yang menjadi lokasi favorit para pemancing.

Pondasi bangunan di daerhan Ombilin yang menjadi lokasi favorit para pemancing.

Lanjutkan Membaca →

12 Mei 2014 di Graha Bhakti budaya – TIM

Marah di Bumi Lambu

Dokumenter | 2014 | Hitam Putih | HD
Hafiz Rancajale

Berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu pada peristiwa Tragedi Sape Lambu 2012 yang menelan tiga korban dari pihak warga. Tragedi ini berawal dari rencana pemerintah daerah Kabupaten Bima merubah kawasan Lambu menjadi daerah pertambangan dengan menerbikan izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Terjadi penolakan oleh warga yang diorganisir oleh mahasiswa. Penolakan ini dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya menelan korban di pihak warga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Filem ini mencoba merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri, rangkaian cerita-cerita kemanusian dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya.

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org