Sabda Koes Plus di Pidato Kebudayaan DKJ 2014

Oleh / pada 13 November 2014 / di DKI Jakarta // Belum ada komentar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan pidato kebudayaan sebagai acara tahunan untuk merayakan ulang tahun Taman Ismail Marzuki. Pidato kebudayaan kali ini disampaikan oleh Hilmar Farid, seorang sejarawan dan aktivis, dengan judul “Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 10 November, 2014.

Hilmar Farid menyampaikan Pidato Kebudayaan (Dok. Dewan Kesenian Jakarta)

Pidato Kebudayaan DKJ oleh Hilmar Farid berjudul “Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik”, Senin, 10/11/2014 di Teater Jakarta.
(Foto : Eva Tobing, Dewan Kesenian Jakarta)

Saya sendiri baru kali pertama mendatangi pidato kebudayaan. Alasan mengapa akhirnya saya berkeinginan mendatangi pidato kebudayaan ini adalah karena teman-teman saya membicarakan tentang hal ini dan bahwa pembicaranya adalah Hilmar Farid, orang yang sempat digadang-gadang menjadi calon menteri pendidikan di masa pemerintahan Joko Widodo.

Saya datang bersama dua teman saya. Pelataran gedung Teater Jakarta sudah ramai sekali dengan penonton saat saya bersama dua teman saya tiba. Pelataran itu basah lantaran beberapa saat sebelumnya hujan deras—semestinya patut disyukuri karena Jakarta sudah agak lama tidak mendapatkan hujan sederas itu. Untuk masuk ke dalam gedung Teater Jakarta, kami harus mengisi buku tamu dan melewati pemeriksaan tas oleh petugas.

Begitu masuk ke ruangan gedung, ada banyak makanan prasmanan yang boleh disantap oleh para penonton. Sambil menyantap makanan, saya banyak bertemu dengan orang-orang berlatar belakang mahasiswa, dosen, aktivis, penulis, dan tentunya budayawan.

“Kita berbudaya sekali, ya, hari ini?!” canda teman saya.

“Untung tidak bertemu dengan sosialita kebudayaan,” ucap saya, disambut tawa lepas dari teman saya. Memang, sekarang ini mendatangi acara-acara kebudayaan sedang menjadi trend di kalangan anak muda yang selalu datang dengan berdandan mewah dan kemudian update di media sosial sehingga ada yang menjuluki orang-orang seperti itu dengan istilah sosialita kebudayaan.

10177253_386778641487918_9017506729626307902_n 10392341_386778568154592_2434255498306077825_n

Satu jam kemudian, para penonton diperbolehkan masuk ke dalam teater. Pidato kebudayaan itu dibuka dengan adanya kolaborasi teater gerak Faiza Mardzoeki dan ditampilkan oleh Galiis Sunardi. Setelah itu, panitia pidato kebudayaan ini menampilkan tokoh-tokoh yang pernah memberikan pidato kebudayaan sejak tahun 1998 sampai tahun 2013, seperti Emil Salim, B.J. Habibie, Mochtar Kusumaatmaja, Amien Rais, Ali Sadikin, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Hidayat Nur Wahid, B. Herry-Priyono, Rocky Gerung, Moh. Mahfud M.D., dan Karlina Supelli. Sebenarnya ada tokoh-tokoh lainnya, namun sayang saya lupa siapa saja tokoh lainnya itu.

10614395_386793958153053_6339344826293215428_n

Saya dan dua teman saya spontan tertawa dan menyoraki Amien Rais saat layar memperlihatkan  wajahnya, begitu pula saat Hidayat Nur Wahid dan Moh. Mahfud M.D. ada di layar. Namun, saya dan kedua teman saya bertepuk tangan saat wajah Ali Sadikin dan Karlina Supelli muncul di layar. Ternyata, yang bereaksi seperti bukan hanya kami, tetapi juga seluruh penonton di Teater Jakarta.

Setelah kilas balik para pemberi pidato kebudayaan, para pemusik memainkan lagu Kolam Susu dari Koes Plus untuk mengiringi masuknya Hilmar Farid ke panggung dan untuk membuka pidato kebudayaan itu. Hilmar Farid mengatakan, bahwa ia sengaja memilih lagu Kolam Susu karena lagu itu secara sederhana membicarakan fakta yang jelas, bahwa Indonesia adalah negeri maritim yang kaya. Memiliki geografi dan demografi dengan lautan yang mencapai 3,2 juta kilometer persegi, Indonesia seharusnya bisa menjadi negeri maritim yang luar biasa. Sayangnya, pembangunan ekonomi bertumpu di daratan, yang membuat adanya perusakan area hutan, banjir, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan lainnya yang berujung pada konflik sosial.

Dalam pidatonya, Hilmar Farid membenarkan Presiden Jokowi yang dalam pidato pertamanya sebagai Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa bangsa Indonesia ini telah lama memunggungi laut. Kemudian, ia menjelaskan tentang sikap memunggungi laut ini terjadi karena berbagai perubahan dalam sejarah yang membalik arus kebudayaan Indonesia. Hilmar Farid kemudian menjelaskan tentang Arus Balik, sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang bercerita tentang pergolakan di Tuban, sebuah kota pelabuhan yang maju dan setia pada masa Majapahit. Pramoedya menggambarkan tentang penguasa Tuban yang mengalami degenerasi. Degenerasi inilah yang membuat Tuban kehilangan arah. Produksi terhenti karena Tuban tidak lagi bisa menjadi sumber kemakmuran. Di akhir cerita, terdapat Wiranggaleng, pemuda desa yang muncul sebagai pemimpin pasukan Tuban. Tuban dapat diselamatkan dari serangan para penguasa Pantai Utara Jawa, namun lautan sudah jatuh ke tangan orang lain sehingga tidak lagi menjadi kota dengan kehidupan maritim.

Pidato Kebudayaan DKJ oleh Hilmar Farid berjudul "Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik", Senin, 10/11/2014 di Teater Jakarta. (Foto : Eva Tobing, Dewan Kesenian Jakarta)

Pidato Kebudayaan DKJ oleh Hilmar Farid berjudul “Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik”, Senin, 10/11/2014 di Teater Jakarta.
(Foto : Eva Tobing, Dewan Kesenian Jakarta)

Saya merasa senang saat Hilmar Farid dalam pidatonya memberikan pelajaran sejarah singkat tentang kebudayaan maritim yang pernah ada di Indonesia. Saya memang bukan orang yang mengerti sejarah, tapi menyukai pelajaran sejarah sejak Sekolah Dasar. Saya merasa sejarah itu penting. Hilmar Farid pun mengungkapkan, bahwa dalam melihat masalah kebudayaan Indonesia, kita harus mencari jawaban dari dalam perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks. Ia memberi contoh redupnya kebudayaan maritim dalam dua kerajaan maritim besar di Indonesia, yaitu di Banten dan Makassar. Kedua kerajaan ini merupakan kerajaan hebat yang dipimpin oleh penguasa yang kompeten. Penguasa kedua kerajaan ini juga mampu membangun komunikasi dengan kerajaan lain sehingga membuat Banten dan Makassar menjadi kota pelabuhan internasional. Hilmar Farid mengutip Soekarno,

“Feodalisme yang penuh dengan kemungkinan untuk berkembang, yang umpamanya tidak diganggu hidupnya oleh imperialisme asing, niscaya bisa ‘meneruskan perjalanannya’, bisa ‘menyelesaikan evolusi,’ yakni niscaya bisa hamil dan akhirnya melahirkan suatu pergaulan hidup modern yang sehat pula!”

Namun, perubahan orientasi dan feodalisme yang sakit-sakitan ini membuat kerajaan-kerajaan ini jatuh.

“Kisah jatuh-bangun kerajaan maritim di Nusantara inilah yang membantu kita melihat akar dari gerak memunggungi laut di masa sekarang,” tutur Hilmar Farid.

Kekalahan-kekalahan kerajaan-kerajaan ini tidak hanya mengubah peta politik dan jalur perdagangan, namun juga mengubah kebudayaan masyarakat Indonesia. Hilmar Farid menjelaskan tentang bagaimana orientasi bangsa Indonesia hanya pada daratannya saja, yang dicerminkan oleh adanya rencana pembangunan jembatan Selat Sunda dan reklamasi Teluk Benoa di Bali. Laut dianggap sebagai penghalang, bukannya hal yang utama. Hilmar Farid kemudian merujuk pada disertasi Profesor Lapian tentang konsep archipelagic state yang terus-menerus diterjemahkan sebagai negara kepulauan. Padahal, archipelago berarti laut yang utama, atau dalam rumusan Profesor Lapian berarti lautan yang ditaburi pulau-pulau. Cara pandang inilah yang kemudian membentuk suatu kebudayaan yang bergeser dari kebudayaan maritim.

Sejarah sebagai kritik bertujuan untuk mengenali kekuatan yang membentuk sebuah transformasi. Kesadaran akan hal inilah yang menjadi landasan bagi adanya transformasi yang lebih besar lagi di masa depan. Perjalanan menuju ke arah itu, jelas Hilmar Farid, harus menyadari laut sebagai ruang sosial dan kultural. Ia menyebutkan tentang Kementerian Perhubungan dan TNI AL yang menawarkan jasa angkutan laut gratis untuk para pemudik yang ingin membawa sepeda motor. Menurutnya, ini bukanlah masalah kenyamanan, tapi juga cara pandang, cara hidup, singkatnya adalah tentang kebudayaan. Kemudian, yang kedua, harus menumbuhkan imajinasi baru dari aksi. Ia menyebutkan tentang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti yang membuat aksi sehingga dapat membuat terobosan baru. Hilmar Farid juga menyebutkan tentang kemampuan untuk mendengarkan ritme kehidupan masyarakat yang sangat beragam untuk bisa mengolah sehingga dapat membentuk menjadi satu kesatuan bangsa. Ia menyebutkan bahwa perlunya peran intelektual dalam merangkum dan merangkai berbagai aksi dan tindakan menjadi satu kesatuan.

Setelah pidato kebudayaan ini selesai, para penonton bertepuk tangan. Kemudian, ada pembagian buku berisi pidato kebudayaan kepada para penonton yang dibagikan di meja buku tamu di pintu masuk.

Pada 12 November 2014 – dua hari setelah diadakannya pidato kebudayaan itu,eorang penonton bernama Usman Ben Kumoring, mengungkapkan kepada saya, bahwa ia baru pertama kali menghadiri pidato kebudayaan.

Usman Ben Sihombing, alumni FISIP UI

Usman Ben Sihombing, alumni FISIP UI

“Materi diutarakan dengan media yang menarik, tapi saat di tengah, dia (Hilmar Farid—red) hanya justifikasi keputusan Jokowi benar dalam berbagai hal,” kata Usman. “Tapi saya tidak mendengar kebenaran itu atas adanya peran kesadaran budaya di dalam Jokowi, dan dia tidak memperjelas statement itu dengan argumen ilmu budaya. Selanjutnya, ia memberi contoh tentang kebijakan mudik gratis lewat kapal TNI dan lain-lain. Padahal, kita tahu kalau sosialisasi mudik kapal, seperti gratis pada praktisnya, kuotanya berapa, jaminan tidak ada pungli, dan lain-lain itu masih kurang kepada masyarakat, alias belum tersosialisasi dengan baik. Otomatis, siapa yang mau mudik lewat laut dengan ketidakpastian?”

“Terus dari acara ini, saya menangkap kalau budayawan yang menghadiri acara ini harus mengedukasi masyarakat, terutama elit yang mengambil keputusan,” lanjut Usman. “Para elit ini harus menyadari pentingnya pemanfaatan laut, dan meningkatkan kebanggaan atas kekayaan laut di negeri ini. Jangan sampai dimanfaatkan oleh asing ataupun swasta untuk keuntungan sendiri.”

Seorang mahasiswa magister Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Tanius Sebastian, juga mengemukakan pendapatnya tentang pidato kebudayaan ini kemarin (12/11).

Tanius Sebastian, mahasiswa magister STF Driyarkara

Tanius Sebastian, mahasiswa magister STF Driyarkara

“Bagus kok, isi pidatonya informatif dan argumentatif. Persuasif juga,” katanya. “Setuju sama isi pidatonya, karena pidato itu memberi klarifikasi sejarah dan pendasaran ilmiah untuk buat gagasan politik tentang kemaritiman Indonesia. Signifikansinya jelas untuk mendorong terwujudnya kebijakan negara yang lebih baik dalam urusan kemaritiman Indonesia. Selain itu, signifikansi untuk pendidikan bagi masyarakat luas tentang arti penting sumber daya laut dan bagaimana cara orang Indonesia memahami kelautannya.”

Saat ditanya tentang keterkaitan antara pidato kebudayaan ini dengan revolusi mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo, Tanius Sebastian berkata, “Menurut saya, keterkaitannya ada di tiga poin ajakannya Hilmar Farid supaya kita bertindak, yang tiga kesimpulan di akhir pidato itu, dan juga di poin penekanan tentang peran intelektual di dalam perjalanan pemerintahan Jokowi-JK. Dari situ, kita bisa melihat kalau revolusi mental Jokowi mesti diolah lebih lanjut menjadi sesuatu yang lebih konkret, yaitu yang dalam kaitan dengan gagasan pidato kemarin itu, berupa pembalikan cara pandang tentang kemaritiman sebagai kebudayaan Indonesia, karena sebenarnya kita sudah punya cara pandang itu, tapi politik, kolonialisme, dan modernitas menguburnya hidup-hidup.”

Saya pun sebenarnya sudah bertanya-tanya sejak lama, mengapa laut dan pesisir pantai Indonesia sangat kurang diperhitungkan, padahal, banyak kekayaan kita di situ. Seperti dapat kita lihat pada para nelayan yang tinggal di pesisir, banyaknya illegal fishing, dan TNI Angkatan Laut yang banyak dianggap kurang keren daripada TNI Angkatan Darat. Presiden Joko Widodo, yang menyerukan “Jalesveva Jayamahe” dalam pidato kepresidenannya pada 20 Oktober 2014, sadar akan kehidupan kemaritiman yang seharusnya mengakar dalam diri rakyat Indonesia. Saya rasa, pidato kebudayaan kali ini pun serta-merta mendukung seruan revolusi mental, yang menurut Karlina Supelli dalam tulisannya yang berjudul “Mengartikan Revolusi Mental” menyatakan, “Revolusi mental melibatkan semacam strategi kebudayaan.”

Maka cocok sekali apabila Hilmar Farid membuka pidato kebudayaan dengan Kolam Susu. Lagu yang kembali mengingatkan kita bahwa kail dan jala bisa menghidupi bangsa Indonesia, yang ikan dan udang pun sudah mendatangi kita karena sangat banyaknya jenis binatang laut di lautan kita. Tentu kita harus bersyukur atas itu dan mengambil tindakan untuk tidak lagi memunggungi kelautan kita.

 

Dokumentasi oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Muhammad Sibawahi.

Dulon the Idol

This article is an English version of Indonesian article titled “Dulon the Idol“ that was published at August 28th, 2010.

______________________________________________________________________________

Nowadays, Indonesian people, particularly young people are very hungry for popularity. It can be seen from various TV shows which offer a fast way to be famous with various programming concepts. The young people seem so enthusiastic to join the auditions, from the talent show for a magician, comedian, presenter, to the most anticipated program every year, Indonesian Idol. This talent show can indeed make people become a celebrity in a second.

FOTO 1_clip_image001-470x466

The Album Cover of Indonesian Idol Compilation

Who doesn’t know Delon, Mike, Judika, Ikhsan, Haris and their other friends? They are Indonesia’s young people who were successfully promoted by Indonesian Idol to become popular singers. Since this program was held in 2004, every year the number of the enthusiast has always been increasing. The culmination happened in 2010 when the participants reached 80 thousand people. It increased threefold compared to a few years ago when it was only 24 thousand participants. We can conclude from it that the Indonesian Idol event has become an unbelievable magnet for the participant and audience.

Delon Indonesian Idol

Delon Indonesian Idol

Among the 80 thousand people who joined the audition, there was one of my friends who came all the way from Baso Village, Agam Regency, Padang, West Sumatra to Jakarta to try becoming a superstar, his hidden dream since the Indonesian Idol was held for the first time.

His real name was Abdullah. However, since the Indonesian Idol 2, which had been won by Delon, he had been willing to change his name to Dulon. He demonstrated the name to people around him himself. People could accept this because Dulon’s voice was rather sweet and beautiful when he sang melancholic songs, from the songs from the pop bands to Malay songs he liked such as, Ungu, Wali, ST12, Kerispatih and songs from Rossa.

Abdullah a.k.a. Dulon

Abdullah a.k.a. Dulon

From the beginning of Indonesian Idol, Dulon had already had a big intention to join the audition. Every time this event had been held, he always watched it on TV enthusiastically. He had never missed this Friday night program. Even, every time I came to his house, he sang and asked me to pretend to be a judge to evaluate whether he really deserved to be the next Indonesian Idol. But his desire to go to Jakarta had always been canceled because of the cost problem.

I knew Badul – Abdullah’s nickname – in 2003 through his sister who had gone to the same Elementary School with me. Her name was Yani. Because she didn’t have money to continue her education to High School, Yani went to Jakarta in 2006 to work with her brother. In 2003, Badul had not opened his business yet. Badul, who was a native of Sicincin, worked in Ibu Ani’s house frying the Karupuak Sanjai (Minangkabau cassava chips). With the salary which was barely enough or in Minang people’s term “Palapeh Makan”, it was very difficult to save money to go to audition in Jakarta. But Dulon was still enthusiastic. Every day he collected the money from his job, and every time he took a shower he practiced his voice using the bathroom.

Around the middle of 2007, Ibu Ani’s business decreased. She then moved to Medan with her husband. But Dulon didn’t become an unemployed because it was a time when he decided to open his own business. With the capital he had gained during his job frying the crackers, and the lesson and experience he had gotten from Ibu Ani, Dulon opened his own business trading in one corner of Baso Market. He sold his product from Krupuk Sanjai (sweet potato chips), Krupuk Talas (Taro Crackers), to Keripik Pisang (Banana Chips) there. In the fasting month like this, Dulon didn’t sell crackers. He changed his goods to cakes and white bread for the iftar menu, which he sold in the pabukoan (iftar meals) market every afternoon.

Various crackers which were sold by Dulon

Various crackers which were sold by Dulon

Alhamdulillah, his business was very smooth. His desire to join the audition of Indonesian Idol in Jakarta in 2008 was almost realized. But, again, it wasn’t realized because he preferred to buy a motorcycle. He had been craving for a long time for an automatic motorbike which was very popular in my hometown. At the beginning of 2009, his father, who had been living with his brother in Pariaman for about five years, went home to Baso. Seeing that his father was rather old and only spent his day eating, sleeping, eating and sleeping again, Badul decided to give him the capital to trade Jengkol, because when Badul had been a little child, his father had been a Jengkol trader.

Dulon’s father was selling Jengkol

Dulon’s father was selling Jengkol

Finally, in this 2010, Dulon realized his dream to join the audition in Jakarta. The night before his departure, he went around the village on his automatic motorcycle to his friends’ houses, including mine. He came to say goodbye and asked for blessing from them, including from me, who always pretended to be a judge for him. When he arrived at my house, he practiced for the last time singing Afghan’s song Terima Kasih Cinta (Thank You Love). That was the song he would sing at the audition later.

“Okay, Dul, keep the spirit! You will be on the stage in Balai Sarbini next month!” Those were my last words before his departure.

During his time in Jakarta, Dulon didn’t want to reply my SMS. Maybe he wanted to surprise me if he had qualified. A week later suddenly he called me. He said that he was home now. Because I didn’t believe it, I immediately went there. It turned out that Dulon was indeed home, in front of the door smoking a cigarette wearing an Indonesian Idol pin on his shirt. Apparently he failed to qualify.

“Ndeh Men, Si Agnes Monica se yang suko ka den wakatu tu diang nyo… salabiahnyo ndak ado yang suko samo aden do,” (Aw, Men, at the audition, only Agnes Monica liked me, the rest (judges) didn’t) Dulon said.

“Yo lah suratan tangan ang ngaleh karupuak ko mah… disuruahnyo ang di Anang (one of the judges) mamacik sendok kuali liak tu… nampaknyo ndak buliah dinyo ang mamacik mic samo inyo do” (Well, it is your fate to be a crackers trader only. Anang asked you to hold the spoon of the frying pan again, it seemed that he didn’t allow you to hold the microphone) I answered jokingly.

Dulon threw his flip flop towards my motorbike.

But overall, there was no sadness on his face, even though he had spent a lot of money to go to Jakarta and had queued for eight hours at the audition. He was still as usual, liked to sing and always joking. One thing that he regretted, his participant’s registration number had gotten lost somewhere.

The Indonesian Idol pin was Dulon’s only token of the audition in Jakarta

The Indonesian Idol pin was Dulon’s only token of the audition in Jakarta

The Indonesian Idol pin was the only token that he had joined the audition. Up until now, we are still waiting for Dulon to be aired on TV. But what we can do, it seems that it’s Dulon’s fate not to be on TV. Be patient, Dulon, maybe selling the crackers is the best way that God has given to you. However, for us, you are the Delon of Baso Village.

12 Mei 2014 di Graha Bhakti budaya – TIM

Marah di Bumi Lambu

Dokumenter | 2014 | Hitam Putih | HD
Hafiz Rancajale

Berkisah tentang kenangan masyarakat Lambu pada peristiwa Tragedi Sape Lambu 2012 yang menelan tiga korban dari pihak warga. Tragedi ini berawal dari rencana pemerintah daerah Kabupaten Bima merubah kawasan Lambu menjadi daerah pertambangan dengan menerbikan izin usaha pertambangan kepada pemilik modal. Terjadi penolakan oleh warga yang diorganisir oleh mahasiswa. Penolakan ini dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang pada akhirnya menelan korban di pihak warga akibat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Filem ini mencoba merekam kenangan masyarakat tentang rangkaian peristiwa tragedi itu sendiri, rangkaian cerita-cerita kemanusian dan mimpi-mimpi mereka tentang tanah leluhurnya.

www.akumassa.org adalah bagian dari program akumassa yang digagas oleh Forum Lenteng sebagai sebuah program pemberdayaan komunitas dengan berbagai media komunikasi, antara lain: video, teks, dan suara. akumassa memiliki strategi: penggerakan motivasi, memproduksi karya, pendokumentasian, berkelanjutan, pemberdayaan medium filem dan video, berbagi informasi serta merekam potensi lokal dengan cara berkolaborasi dengan komunitas dampingan.

akumassa:
Jl. Raya Lenteng Agung No.34 RT.007/RW.02
Lenteng Agung - Jakarta Selatan
DKI Jakarta 12610
Telp. (+6221) 78840373

www.akumassa.org // info@akumassa.org