Oleh Choiril Chodri | Pada Sabtu, 6 Maret 2010
* * *

Hari itu Rabu, aku masih berada di kampung nenekku yang berada di Desa Hargorojo, Purworejo, Jawa Tengah. Pukul 08.45 WIB aku bangun dari tidur, badanku masih terasa lemas setelah beberapa hari demam dan tensi darah tinggi setelah makan durian. Aku memutuskan untuk jalan-jalan sekalian berolahraga untuk mengeluarkan keringat, teringat rencana untuk melihat temanku mendulang di kali yang jaraknya lumayan jauh dari rumah nenekku. Secara kebetulan di jalan aku berpapasan dengan temanku yang ingin pergi mendulang emas, tapi dia ingin mengambil handpone-nya yang tertinggal di rumahnya terlebih dahulu.

Kali yang menjadi tempat mendulang emas

Kali tempat teman-temanku mendulang emas

Karena aku belum merasa segar pagi itu, bahkan kepalaku terasa berat, maka aku berjalan menuju kali dengan langkah pelan dan santai. Tidak lama kemudian temanku menyusul, sesampainya di kali aku melihat keadaan sekeliling kali yang jauh berbeda saat aku kecil dulu. Ternyata di kali itu ada dua temanku lainnya yang sedang mendulang juga. Aku pun mendekati keduanya dan melihat hasil dulangan mereka. Sesudah melihat hasil dulangan mereka yang belum dipakai, aku memutuskan untuk mencoba mendulang, kegiatan  yang telah lama tidak aku lakukan.

[Lanjutkan membaca Mungkinkah Itu Harta Karun?]

8 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh Andang Kelana | Pada Jumat, 5 Maret 2010
* * *

Sedikit cerita dari rumah sakit…

Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Suara bor mesin yang sangat memekakan telinga sedang menembus plafon baja, tampak para tukang sedang berada di atas tangga lipat alumunium sedang memasang instalasi listrik di depan pintu masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat) dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Mereka menarik kabel panjang, dan memasukannya ke sela lubang bekas bor tadi. Ada seorang tukang yang tampaknya sudah siap di atas plafon untuk menarik kabel yang dimasukan kawannya dari bawah.

Suasana ruang tunggu IGD RSCM yang sedang diperbaiki

Suasana ruang tunggu RSCM yang sedang diperbaiki

“Nguuuunnngg…. nguunngggg… krrrrttttt….. krrrttttt….”

Aku pikir hanya satu kali mereka mengebor, ternyata banyak lubang yang mereka buat di plafon. Berjarak satu neon panjang, dengan jeda yang sama. Mereka tampaknya sedang memasang neon-neon itu sebagai penerang. Ada sekitar 9 neon baru, kalau aku tidak salah, yang mengelilingi ruangan tunggu IGD ini.

[Lanjutkan membaca Instalasi Gawat Darurat RSCM]

4 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh Imam FR | Pada Kamis, 4 Maret 2010
* * *

Mendengar kata Sekaten bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, sudah tidak asing lagi. Begitu juga denganku yang pernah tinggal di Solo selama enam tahun. Setiap tahun, pasti aku mendengar kebar-kabar mengenai Sekaten, baik itu melalui surat kabar atau hanya dari omongan-omongan kecil yang melintas di masyarakat.

Pasar Sekaten

Maleman Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Surakarta

Namun, kabar-kabar itu layaknya sebuah angin lalu saja bagiku, karena belum pernah sekali pun aku datang ke Sekaten. Tidak tahu jelas apa sebabnya, mungkin karena dulu aku tidak pernah ada waktu untuk datang ke sana atau memang hanya diriku yang tidak pernah peduli dengan sebuah tradisi. Sungguh aku merasa bersalah apabila mengingatnya.

[Lanjutkan membaca Maleman Sekaten]

4 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh Hamdani Mutiara Tanjung | Pada Rabu, 3 Maret 2010
* * *

Sekitar dua minggu yang lalu, gue sedang pusing dan malas narik (mengoperasikan  tarayek) Metro Mini 91 jurusan Batusari-Tanah Abang karena terlalu sering dibokisin (dibohongi) oleh supir gue.  Awalnya, supir gue, Si Sihombing ini baik. Melihat gue  luntang lantung dia langsung memanggil gue,

“He, lae! Sini Kau. Apa marga Kau?”

“Tanjung, Paman.”

“Ah, masih saudara Kau dengan Akbar Tanjung? Faisal Tanjung? Orang kaya, Kau?” dia bercanda, “Ngapain Kau tak karuan begitu, seperti dewa mabuk, bawa-bawa botol setiap hari. Sudah, besok ikut jadi batanganku (jadi kondektur tetap dia) saja, Kau!”

Ikutlah gue bekerja dengan Sihombing sejak saat itu. Tapi lama kelamaan, setelah gue tahu seluk beluk tentang besar setoran dan pembagian pendapatan, gue baru sadar kalau selama ini dia ngebokisin gue. Misalnya pendapatan kita satu hari sebesar 700 ribu rupiah. Setoran kepada bos sebesar 230 ribu rupiah. Hutang air minum dan rokok kami berdua di pool perhari cuma 30 ribu rupiah. Untuk beli solar 180 ribu. rupiah Artinya penghasilan kami berdua 260 ribu rupiah. Kalau supir yang ‘asyik’ seperti supir gue sebelum bekerja dengan Sihombing, penghasilan dibagi rata. Yah, minimal harusnya gue mendapat 120 ribuan lah dari 230 ribu itu. Sihombing tiap hari cuma ngasih gue 70 ribu rupiah. Kawan gue sesama kondektur pernah bilang, “Wah, Tak. Itu namanya lo di-kadalin (dikerjai).” (kawan-kawan biasa memanggil gue dengan sebutan ‘Batak’)

Sudahlah, gue tinggalkan Sihombing.

[Lanjutkan membaca Cewek Bertato dan Sekaleng Aica Aibon]

5 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh Mira Febri Mellya | Pada Selasa, 2 Maret 2010
* * *

…Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu


Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu


Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu


Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal…

Lirik lagu milik Iwan Fals ini sering sekali terdengar olehku, dari suara vokal dan gitar seadanya oleh pengamen jalanan, atau pun dari suara teman-temanku ketika bernyanyi bersama, yang juga seadanya. Mulanya ku kira lagu ini berjudul ‘Anak Sekecil Itu’, maklum saja aku tak pernah mendengarnya melalui versi lengkap yang dinyanyikan Iwan Fals. Ternyata lagu ini berjudul ‘Sore Tugu Pancoran’.

Tiap kali mendengar lagu ini, ada satu perasaan yang hadir menyelimuti hatiku, yaitu tragis. Kenapa? Karena lagu ini berkisah tentang anak kecil bernama Budi yang harus bekerja sebagai penjual koran sore di kawasan Pancoran, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ia melakukannya demi tetap dapat bersekolah dan mengenyam pendidikan untuk menggapai cita-cita.

[Lanjutkan membaca Sore Tugu Pancoran]

7 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh Sudrajat | Pada Senin, 1 Maret 2010
* * *

Menonton konser musik, menghadiri  pensi-pensi SMA, lain halnya dengan ingin melihat band idola pentas. Itu semua adalah hobiku sewaktu aku duduk di bangku SMA. Tetapi kini aku sudah kuliah tingkat VI Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, aku merasa bosan dengan hal itu. Menyaksikan dangdut secara live merupakan pengalaman pertamaku dan temanku, Umam. Sebelumnya aku hanya melihat pertunjukan dangdut dari pedagang VCD yang biasa berjualan di pinggir-pinggir jalan. Namun bukan berarti aku buta tentang sejarah musik pembawa aspirasi yang khas dengan biduan seksinya ini dan sederhana dilihat dari segi konstruksi liriknya. Untuk dapat membuka wawasanku lebih jauh tentang dangdut, aku dan Umam tertarik untuk menyaksikan penampilan grup dangdut tersohor dan fenomenal sekali, yaitu ‘Familys’. Mereka begitu terkenal di kawasan Tangerang Selatan, khususnya Pamulang, Pondok Cabe, Ciputat. Bahkan juga di beberapa wilyah sekitar Jawa Barat yang berbatasan dengan Tangerang Selatan, seperti Bogor, Depok, dan beberapa wilayah selatan Jakarta seperti Kebayoran Lama, Lebak Bulus dan sekitarnya. Mereka juga beberapa kali mangadakan pementasan di luar kota seperti di Palembang dan Bandung.

Grup Dangdut Familys

Grup Dangdut Familys

“Tolong kepada panitia sohibul hajat untuk membawa kursi sebanyak sepuluh buah dan satu dus aqua ke atas panggung, terima kasih…,” Begitulah ucapan dari MC, pertanda Acara Pementasan Dangdut Familys segera dimulai. Kali ini Dangdut Familys menggoyang wilayah Pamulang Timur, Tangerang Selatan. Dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, hingga Tangerang, siapa yang tidak kenal Familys? Sebuah nama grup dangdut yang dikenal oleh banyak massa. Mulai dari petani, buruh, pedagang, ibu rumah tangga hingga pejabat, anggota dewan, konglomerat, tua-muda, dewasa dan anak-anak terhibur dengan musik yang khas dengan cengkok aduhai syahdunya ini. 

[Lanjutkan membaca Menonton Dangdut Familys di Pamulang Timur]

9 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Oleh David Darmadi | Pada Minggu, 28 Februari 2010
* * *

Harry Gunawan adalah teman semasa sekolah saya sewaktu di SMPN 1 Padang dan juga di SMAN 3 Padang. Ada yang menarik dengan kisah cintanya dengan Suci Angelina. Banyak orang bilang jodoh di tangan Tuhan dan semuanya sudah ada jalannya. Pernyataan tersebut lebih sering kita dengar dari orang-orang yang sering mengalami patah hati. Tujuannya adalah untuk menyenangkan hati mereka sendiri. Tapi tidak begitu dengan kisah cinta teman saya ini. Suci Angelina, sebenarnya saya tidak begitu mengenalinya. Karena dia tidak pernah satu sekolah dengan saya dan hanya bertemu dengannya saat naik angkot (angkutan kota) saja. Kebetulan arah pulang menuju rumah kami searah, sama-sama naik angkot berwarna merah yang menuju ke Belimbing. Saya tinggal di Kompleks Mawar Putih Kuranji, Suci tinggal di Perumahan Belimbing, Kuranji dan Harpet, panggilan akrab Harry Gunawan sewaktu masih SMP, juga tinggal di Perumahan Belimbing.

Sehari dua malam di Vi_Chie@Net telah mengingatkan saya tentang kisah cinta mereka berdua. Vi_Chie@Net adalah warnet milik Harpet dan Suci. Mereka dihibahkan dana oleh kedua orangtuanya sebanyak 60 juta rupiah untuk memulai usaha warnet itu. Memang dana yang lebih banyak adalah dari orangtua Suci, tapi itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua untuk menjalani usaha ini. Dengan uang tersebut mereka membeli seluruh perlengkapan warnet dan menyewa sebuah ruko yang beralamat di Jalan Mangga Raya No.62, Belimbing. Ruko itu mereka sewa selama dua tahun seharga sembilan juta rupiah. Ruko milik Ibu Yeni (yang juga tinggal di Perumahan Belimbing) terdiri dari tiga ruko dan masih belum bertingkat. Di sebelah kanan warnet Harpet dan Suci disewa oleh Uda Hen yang asli orang Padangpanjang, ia membuka warung makanan dan minuman. Sedangkan di sebelah kirinya disewa oleh Ayah (panggilan akrabnya), ia mebuka usaha air galon isi ulang. Warnet ini umurnya cukup tergolong muda, sejak hari pertama saya di sini pada tanggal 6 Februari 2010, usaha warnet ini baru beroperasi hampir tiga minggu.

[Lanjutkan membaca Sehari Dua Malam di Vi_Chie@Net]

9 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr

ACARA

PESAN

Tentang Perubahan Iklim Dunia

Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

POTRET

ARTIKEL ACAK

      English Section

      (Pengantar)

      . . . Under Construction, Coming Soon . . . ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      komik akumassa oleh Rio Sadja Dawat

      (Padang Panjang, Sumatera Barat)

      komik-rio-1
      bersambung... Komik oleh Rio Sadja Dawat ...

      (Ada 17 komentar pada artikel ini)

      Melihat Lebak Sekarang

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      rumah sakit Misi, rangkasbitung
      14 Desember 2008 Melanjutkan di hari sebelumnya, dimulai pukul satu siang, kesepakatan telah dimulai. Untuk membuat jadwal pertemuan kami, misal dalam waktu kumpul untuk berdikusi tentang riset yang telah didapat. Dihari ini riset antara saya sebagai ...

      (Ada 0 komentar pada artikel ini)

      Pool 510

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Koantas Bima 510 yang sedang menunggu penumpang
      Ruang yang teramat sempit utuk bergerak, aktivitas rutin yang mungkin tak kenal waktu. Mungkin itulah gambaran sederhana ketika aku menaiki Koantas Bima 510 saat aku berangkat kuliah.  Kepadatan manusia dalam  suatu ruang ukuran kecil  selalu saja sa ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Kalijaga

      (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

      Wihara terlihat dari jalan Sunan Kalijaga
      Jalan pengantar Kutawarkan saat ketibaannya, melakukan perjalanan malam hari di  Jalan Sunan Kalijaga, melewati Jalan Multatuli dan sampailah pada tempat kami, sebuah jalan di Lebak kini. Sungguh tak menduga jika mereka akan datang,  sesampainya di  ...

      (Ada 1 komentar pada artikel ini)

      Ada Majelis Souvenir di Jurang Mangu

      (Ciputat, Tangerang Selatan)

      Jamaah majelis Rasulullah
      Iring-iringan sepeda motor berdatangan tepat pukul 21.00 WIB. Sebuah jalan sempit yang berlokasi di Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada malam itu ramai sekali, dalam rangka meng ...

      (Ada 9 komentar pada artikel ini)

STATISTIK

    • Artikel:  292
    • Komentar:  1,494
    • Halaman:  13
  • KUNJUNGAN

    Saat ini: 35

    Total: 41112

  • www.akumassa.org adalah media informasi komunitas yang digagas oleh Forum Lenteng Jakarta
    untuk merekam informasi tentang persoalan lokal dalam konteks sejarah dan kekinian yang diproduksi oleh komunitas.

    FB | TWEET
    RSS | Kontak | Jaringan | Forum Lenteng | Jurnal Footage | DariVisual | Context Creative Media