Minggu, 07.02.10
* * *

Dalam hidupku ada beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum usiaku menginjak 20 tahun. Dan beberapa kesempatan untuk melakukannya sudah telanjur aku lewatkan di masa SMA. Misalnya, menjadi anggota klub pecinta alam, menjadi penabuh drum di sebuah band, dan lain-lain. Semua itu bisa saja aku kejar di masa kuliah kini, seperti yang aku lakukan kemarin, menonton bola secara langsung di stadion. Kedengarannya memang sangat sederhana, tapi tidak bagiku. Di kepalaku sudah terpola bahwa menonton bola secara langsung itu ‘menakutkan’, mengingat cerita-cerita seputar rusuhnya supporter bola, timpuk-timpukan botol yang di dalamnya diisi air seni dan segala macam tentang supporter bola yang rusuh.

Pengalamanku Menonton Bola1

Akhirnya, beberapa hari yang lalu, tepatnya 3 Februari 2010, aku masuk ke Gelora Bung Karno Senayan untuk menonton pertandingan sepak bola antara Persija (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) dengan Persela (Persatuan Sepak Bola Lamongan).

Begini ceritanya…

[Lanjutkan membaca Pengalamanku Menonton Bola]

3 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Jumat, 05.02.10
* * *

Aku adalah orang baru di Lenteng Agung, perantau dari Sukabumi, mencari ilmu dan melakukan sebuah pekerjaan di Lenteng Agung. Aku bergabung bersama kawan-kawan Forum Lenteng. Baru kali ini aku terpisah jauh dari sanak keluarga. Lenteng Agung berada di  wilayah Kota Jakarta paling selatan, berbatasan langsung dengan Kota Administratif Depok, Jawa Barat. Di Lenteng Agung terdapat sebuah taman, yang bernama ‘Taman Lenteng Agung’. Aku amat sering melewati taman itu. Untuk berbagai keperluan, keseharianku dipenuhi dengan berjalan kaki. Dan Taman Lenteng Agung ini pasti aku lewati setiap harinya.

Pasar Kaget atau Pasar Malam di Taman Lenteng Agung

Pasar Kaget atau Pasar Malam di Taman Lenteng Agung

Siang itu, aku berjalan melewati taman bersama keponakanku, Galaxi Ramadhan untuk membeli nasi Padang, pesanan kakakku yang sedang ngidam. Maklumlah, di rantauan ini aku tinggal bersama kakak. Kami patungan untuk mengontrak rumah bersama dengan beberapa teman lainnya. Konon, bila ibu ngidam mau sesuatu, harus terlaksana. Berjalanlah aku sambil menggendong Gara, panggilan untuk keponakanku yang masih balita itu. Suasana taman saat itu gerimis kecil, aku berusaha menutupi kepala Gara dengan tanganku. Aku berlari kecil. Beban yang lumayan berat aku gendong itu malah tertawa melihat aku sibuk menutupi kepalanya. Saat itu taman dalam keadaan sepi, mungkin karena gerimis.

[Lanjutkan membaca Di Taman Lenteng Agung, Aku Kaget Ada Pasar Kaget]

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Kamis, 04.02.10
* * *

Ia memegang kaca pembesar dan sebuah foto di tangan kirinya, serta sebuah kuas bergagang hitam di tangan kanannya yang menunggu disapukan. Sambil sedikit mengernyitkan dahi, ia melirik ke sebuah foto yang sedang ia buat lukisannya tersebut. Aku merasa tak perlu menebak umurnya, karena dari raut wajahnya aku sudah dapat melihat garis-garis keriput, tanda usianya tak muda lagi.

Pameran Setiap Hari

Namanya Hadi Aryono, seorang pelukis dari sekian banyak pelukis yang berjejer di pinggiran kios tak berpenghuni di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Barat. Sudah 10 tahun ia menjajakan jasa lukis di sana

Harga jasa melukis satu buah kanvas ukuran besar ia bandrol Rp.500.000,- dan yang ukuran sedang sekitar Rp.300.000,-. Cukup mahal bagiku yang merupakan orang awam dalam hal seni lukis. Tapi seperti katanya kepadaku, “Kalau dilihat dari harganya saja memang terasa mahal, tapi bandingkan dengan kepuasan setelah melihat hasilnya nanti, pasti tidak kecewa membayar segitu,” jelasnya kepadaku.

[Lanjutkan membaca Pameran Setiap Hari]

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Rabu, 03.02.10
* * *

Terhitung telah genap dua tahun sudah masyarakat di daerah Ciputat dan sekitarnya merasa lega dengan keadaan Jalan Juanda pada sisi lintasan yang berada tepat di depan Pasar Ciputat. Kemacetan sekitar pasar sudah sedikit terkurangi, walaupun tetap masih ada. Hal itu menjadi wajar, seperti layaknya pada pasar-pasar lain, pasti ramai dengan para pengunjung dan angkutan umum sehingga menyebabkan kemacetan. Selain pengunjung mungkin juga karena ulah para pedagang yang berjualan di pinggir jalan atau bus dan angkutan yang parkir dan menaik-turunkan penumpang sembarangan. Namun, walau masih ada saja kemacetan, tidaklah terlalu parah apabila dibandingkan dengan keadaan dua tahun yang lalu sebelum adanya flyover.

 

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Pada siang hari flyover terlihat sepi dari kendaraan

Sebelumnya kemacetan sangatlah parah, dan itu terjadi setiap hari. Bagian jalan yang melintas di depan pasar yang panjangnya hanya sekitar 200 meter, seharusnya bisa dilewati tidak lebih dari 1 menit, namun karena macet, butuh waktu sekitar 5 sampai 10 menit untuk melewatinya. Penderitaan akibat kemacetan diperparah lagi dengan keadaan jalan yang berlubang. Sungguh melewati jalan itu seperti ungkapan peribahasa “bagai jatuh tertimpa tangga”, sudah macet masih ditambah dengan jalan yang berlubang.

Penderitaan berganda yang menimpa siapa saja yang melintasinya, diakhiri dengan dibangunnya jalan alternatif yang melintas di atas jalan tersebut atau istilah kerennya disebut flyover (jembatan layang), sedangkan di bawahnya yang semula adalah jalan rusak, kini berubah menjadi trotoar. Sebagai ganti jalan di bawahnya dilakukan pelebaran jalan. Pelebaran diperkirakan sekitar 8 meter di setiap sisi kanan dan kiri jalan.

[Lanjutkan membaca Di Balik Beton Baja]

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Selasa, 02.02.10
* * *

Disaat lampu-lampu kota mulai bersinar menggantikan matahari yang terbenam, lampu-lampu mobil yang mulai menyala di gelapnya malam, ternyata tidak mematahkan semangat para aktivis dalam mengevaluasi 100 hari kinerja Pemerintahan SBY-Boediono.

Lilin Untuk Orang Hilang

Lilin Untuk Orang Hilang

Begitu banyak elemen, LSM, bahkan rakyat ikut berunjuk rasa mulai dari kemarin dan akan terus menyuarakan gerakan-gerakan yang menuntut pemerintahan yang jujur dan adil. Begitu pun sejumlah aktivis membawa lilin untuk memperingati hilangnya  13 aktivis 12 tahun lalu (periode 1997-1998) yang digelar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (31/1).

[Lanjutkan membaca Lilin Untuk Orang Hilang]

8 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Selasa, 02.02.10
* * *

‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’; Pameran enam perupa Cirebon: Nico Permadi, Agus Suwanda, Beas Abimanyu, Iskandar Abeng, Yudha Sasmito, dan Nur Oji  pada 10-17 Januari 2010. Pameran Senirupa yang dilaksanakan kali pertama di Galeri Merdeka, dikurasi oleh Daniel Adenis. Dibuka oleh Nurdin M. Noer dan dimeriahkan oleh kelompok Kroncong “Semoga Ayah Cepat Pulang”.

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Para pengunjung sedang memotret karya para seniman

Ketika membaca pengantar katalog ‘Pameran Senirupa: Maaf, Numpang Ke Belakang’, kita dituntun ke dalam kerangka pemikiran tentang pameran senirupa sebagai representasi solidaritas sosial masyarakat Cirebon1. Sedemikian hingga paradigma tersebut menjadi suatu hal yang baru dalam lingkungan seni dan budaya di Cirebon; bahwa seni telah ‘mencair’ dalam masyarakat ditandai dengan kerangka berpikir yang komprehensif.

“Pameran Senirupa sebagai sarana memahami situasi di sekitar kita.”

Sedemikian kontemplatif sehingga mengingatkan pada perhelatan JAKARTA BIENNALE XIII 2009 - ARENA yang untuk pertama kalinya memanfaatkan bentuk-bentuk kesenian sebagai sarana pemahaman dan kritik terhadap ruang, kota, secara bebas di ruang-ruang publik2.

[Lanjutkan membaca Membaca Pameran Senirupa Kontemporer di Galeri Merdeka]

4 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Senin, 01.02.10
* * *

Tidak  jauh dari markas Komunitas Djuanda di Mandor Baret, Legoso - Ciputat,  terdapat sebuah lapangan futsal. Aku merasa senang karena aku dapat menemukan tempat untuk bermain bola khususnya futsal yang jaraknya sangat dekat dengan kampusku dan kantor Komunitas Djuanda. Mungkin itu alasan kenapa aku mencari markas dekat dengan lapangan futsal.

Pertandingan futsal di Primaraga Futsal

Pertandingan futsal di Primaraga Futsal

Lapangan tersebut bernama Primaraga Futsal, di dalamnya terdapat dua lapangan, yaitu lapangan A dan B. Masing-masing lapangan memiliki fasilitas yang berbeda. Harganya pun berbeda. Perbandingan harganya, lapangan A lebih mahal sepuluh ribu ketimbang lapangan B. Hal itu disebabkan karena pada lapangan A terdapat fasilitas kipas angin dan kondisi alas lapangan yang berbeda. Lapangan A memiliki kombinasi warna lebih bagus, tentunya ini menjadi sebuah keistimewaan besar bagi pencinta futsal untuk melepaskan kecintaanya terhadap dunia futsal. Sedangkan pada lapangan B, alas kakinya tidak sebagus di lapangan A dan tidak ada kipas anginnya.

Primaraga Futsal memiliki klasifikasi harga yang beraneka ragam, terdiri dari harga reguler, paket atau member (keanggotaan). Untuk harga paket atau member mempunyai dua klasifikasi, yang diberi nama lucu-lucu seperti Pak Lurah 4 (paket bayar Langsung lebih murah 4 kali main) dan  Pak Lurah 8 (paket bayar Langsung lebih murah 8 kali main), ada lagi Pak Unyil 4 dan Pak Unyil 8 (paket Untung pakai nyicil 4 kali main dan paket Untung pakai nyicil 8 kali main).

[Lanjutkan membaca Sepak Terjang di Primaraga]

6 pembaca suka artikel ini.
Bagi dan Sebarkan:
  • PDF
  • Print
  • email
  • RSS
  • Facebook
  • MySpace
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Ping.fm
  • Digg
  • Reddit
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Tumblr
Halaman 1 dari 3812345»102030...~>

( Pencarian )

search
  • ( Langganan Artikel )

  • ( Pesan )

    Tentang Perubahan Iklim Dunia

    Kami mengajak kawan-kawan komunitas untuk berpartisipasi dalam melakukan gerakan kesadaran terhadap perubahan iklim ini. Komunitas-komunitas merupakan yang paling terdepan dan secara langsung menghadapi perubahan yang dialami oleh masyarakat. Jadi, mulailah kita berubah dari kebiasaan yang merusak lingkungan. Kita pasti bisa menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bumi yang sudah semakin panas ini.

    ( Potret )

    ( Artikel Lain )

        Rindu Kami Pada Situ Kuru

        (Ciputat, Tangerang Selatan)

        Situ Kuru
        [caption id="attachment_3088" align="alignnone" width="470" caption="Situ Kuru"][/caption] Berbicara Tentang Situ Kuru, mau tidak mau kita juga akan membicarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang tepat berada di sampingn ...

        (Ada 3 komentar pada artikel ini)

        Pembacaan Babad Cirebon

        (Cirebon, Jawa Barat)

        Pembacaan Babad Cirebon
        27 Desember 2008, Arya Kemuning [caption id="attachment_435" align="alignnone" width="300" caption="Pembacaan Babad Cirebon"][/caption] Jam menunjukkan kurang lebih pukul 9 malam. Sultan Emirudin telah beranjak ke huniannya yang berada di sisi kanan ...

        (Ada 1 komentar pada artikel ini)

        Sehari Sebelum Sakit

        (Cirebon, Jawa Barat)

        carrefour-cirebon
        [caption id="attachment_366" align="alignnone" width="300" caption="Carrefour Cirebon"][/caption] Malam itu jam sembilan malam, 19 Desember 2008, saya sedang di warnet bersama Desie, baru setengah jam online saya menerima telepon dari Eta, “Kie, gue ...

        (Ada 6 komentar pada artikel ini)

        Sebelum Menjadi Markas ASP

        (Randublatung - Blora, Jawa Tengah)

        markas Anak Seribupulau
        [caption id="attachment_2653" align="aligncenter" width="470" caption="markas Anak Seribupulau"][/caption] Waktu masih kecil aku sering maen-maen di sekitar rumahku, salah satunya di rumahnya Mbah Kandar. Dia adalah seorang pensiunan Polisi. Dulu ak ...

        (Ada 4 komentar pada artikel ini)

        Padang: Kota Seribu Angkot Modis

        (Padang Panjang, Sumatera Barat)

        modifikasi-interior1
        Angkutan kota (angkot) merupakan alat transportasi publik yang utama digunakan di kota Padang selain bus kota. Akses yang mudah dan harga yang terjangkau membuat masyarakat kota Padang lebih memilih menggunakan jasa angkot daripada taksi ataupun oje ...

        (Ada 10 komentar pada artikel ini)

        Lauk Asin dari Karangantu

        (Rangkasbitung - Lebak, Banten)

        Stasiun Karangantu
        Saat mereka akan menanyaiku. Aku meninggalkan mereka menuju Serang. Rencananya menemui beberapa kawan yang duduk di kursi pemerintahan. Perselisihan Kepergianku adalah untuk mencari tahu, apa masih ada peluang kerja paruh waktu yang mereka tawarkan t ...

        (Ada 9 komentar pada artikel ini)

  • ( Statistik )

    • Artikel:  262
    • Komentar:  1,287
    • Halaman:  12
  • ( Total Kunjungan )



    35862 kunjungan
  • RSS akumassa